Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 83


__ADS_3

"Kenapa dengan mertuaku, kenapa dia berubah secepat itu, apa dia menduga kasus kecelakaan Edwin adalah salahku. " Gumam hati Natasha.


Sarah perlahan memegang tangan anaknya yang masih berdiri, ia menyuruh Natasha untuk duduk di sebelah kanan dekat dengannya.


"Kamu duduk. "


Natasha duduk, dimana Sarah mengenggam tangan anaknya itu begitu erat, " jangan terlalu memikirkan mertua kamu yang sifatnya berubah seperti itu, dia hanya takut dan bersedih. "


Natasha hanya menganggukkan kepala berusaha mendengarkan perkataan Sarah, dengan harapan hatinya bisa tenang.


"Ya mah, aku juga merasa seperti itu. "


Ceklek.


Suara pintu ruangan Edwin kini dibuka, seorang dokter datang menghampiri semua orang yang menunggu kesembuhan Edwin. "Apa kalian keluarga dari pasien?"


Semua yang berada di sana menganggukkan kepala, " boleh saya berbicara dengan satu orang saja di sini?"


Natasha mulai menunjukkan tangannya, namun sang Lorenza lebih dulu mendekat, " biar saya saja, saya ibunya. "


"Baiklah kalau begitu, kita bicarakan di dalam ruangan. "


"Baik dok. "


Lorenza mulai mengikuti langkah kaki dokter itu, dimana Natasha tampak kecewa, yang harusnya pergi bersama dokter itu adalah dia.


Tetapi malah sang ibu mertua, mendudukan badan Sarah berusaha menenangkan anak satu satunya itu. "Kamu harus tenang, apapun yang terjadi pada Edwin. "


"Iya mah, aku sudah menerima Edwin apa adanya, jadi aku tak ada niat meninggalkan dia setelah kecelakaan ini terjadi. "


"Mama percaya pada kamu. "


Perwira penasaran dengan kejadian yang menimpa anaknya, sampai ia bertanya pada sang menantu. " Sebenarnya apa yang terjadi dengan Edwin, kenapa hanya dia yang celaka? "


Sarah tak suka dengan pertanyaan Perwira, " Wira, apa bisa pertanyaanmu itu dilain waktu saja, rasanya tak pantas jika dikatakan sekarang. "


"Bukan begitu, aku hanya menanyakan kecelakaan yang menimpa anakku karena aku penasaran. "


Natasha berusaha menenangkan sang mamah dan mertuanya. " Sudah cukup, sebaiknya kalian tenang, Natasha akan menceritakan kejadian yang menimpa Edwin, jadi sudah kalian tak usah berdebat. "


"Ya sudah, jadi ayo cepat ceritakan. "


"Baiklah."

__ADS_1


Sarah sebenarnya kesal sekali dengan perkataan Perwira, karena bertanya disituasi Natasha sedang bersedih.


Mereka bertiga mendengarkan cerita yang dijelaskan oleh Natasha, saat itulah Perwira baru paham.


"Jadi sudah jelas, Perwira?" tanya Sarah sedikit terdengar ketus.


"Ya!" jawab Perwira, memalingkan wajahnya.


Lorenza datang sendirian, ia membawa lembaran kertas, terlihat menyimpannya rapat rapat tampa memberitahu Natasha sedikitpun.


Lorenza mulai duduk, dimana Perwira bertanya, " jadi bagaimana keadaan anak kita? Apa tidak ada cedera atau .... "


Wanita tua itu menghentikan perkataan suaminya yang dari tadi banyak bertanya, " apa bisa kamu tidak banyak bicara?"


Perwira terdiam, ketika mendengar bentakan dari sang istri, " ya hanya bertanya, kamu sewot amat. "


Membulatkan kedua mata, berusaha membuat Perwira untuk benar benar diam, " ya, aku tidak akan bertanya lagi. "


Natasha terlihat ingin ikut bertanya, tapi melihat sang ayah mertua dimarahi seperti itu, membuat ia hanya diam dan menunggu keadaan sedikit tenang.


Entah kenapa lembaran kertas itu tidak diberikan sama sekali oleh Lorenza, Natasha hanya bisa melirik sebentar dan mengurungkan niatnya untuk tak penasaran.


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, dari tadi siang Natasha hanya menunggu tanpa minum dan makan. Sang mama yang terlihat kuatir akan kesehatan anak satu satunya, mulai pergi untuk membelikan makanan.


Natasha yang tak mau ditinggal menghentikan langkah sang mama, " mama mau kemana?"


Memang terasa pada perut Natasha suara cacing cacing seakan berteriak, membuat ia tak tahan lagi ingin makan.


"Ya sudah mama pergi dulu, ayo pah. "


Sarah mengajak suaminya, sedangkan Natasha kini berhadapan dengan ibu mertua.


Kedua mata yang menatap Natasha penuh dengan sebuah pertanyaan, membuat Natasha sebenarnya penasaran.


Dimana suasana sudah tampak sepi dan ayah mertua Natasha pergi entah kemana?


Mereka kini berdua, dimana Lorenza memulai pembicaraan.


*******


Sarah baru saja keluar dari rumah sakit, kini berjalan ke tempat penjual makanan, " papah ini jalan lama benget, ayo dong. Kasihan Natasha tahu, dia itu kelaparan."


"Ya elah mama, kenapa tidak naek mobil saja, biar enak nggak harus jalan kaki begini. "

__ADS_1


"Mm, papah ini banyak ngeluh ya, makannya olah raga pah, jadi kuat jalan, jangan bisanya makan saja."


"Ya elah mama, selalu begitu. "


"Harus gimana dong, memang pada kenyataannya bukan?"


"Sudah, malas papah debat sama mamah yang tak mau kalah ini. "


Sarah mendelik kesal dimana suaminya berjalan dibelakangnya, ia melirik kesana kemari mencari makanan kesukaan anaknya.


"Nah, itu dia. Pasti Natasha suka dengan makanan itu. "


Sarah berlari sampai ia lupa jika suaminya tertinggal. Rudi yang terlihat terengah engah karena kelelahan, kini melirik ke arah depan. Ia mencari keberadaan istrinya.


"Loh, mama kok nggak ada, kemana dia?"


Rudi berusaha berjalan cepat untuk mencari keberadaan sang istri, ia kuatir. Takut jika istrinya sampai diculik. " Mama. "


Merogoh saku celana, untuk mengambil ponsel.


"Loh, ponsel kemana?"


Rudi lupa jika ia menyimpan ponsel di mobil, " ya elah lupa lagi ada di mobil. "


Dengan terpaksa Rudi berjalan mencari keberadaan istrinya, ia melirik ke arah makanan jalanan, perasaanya kurang senang, Rudi tak terbiasa dengan makanan jalanan.


"Istriku ini bagaimana sih, kenapa nggak beli di restoran saja lebih higienis, lah di sini minyak sudah hitam masih saja dipakai." Bergidig ngeri sambil berjalan untuk mencari keberadaan Sarah.


Sarah ternyata sedang asik menikmati makanan yang ia beli, sembari memesan makanan untuk Natasha dan yang lainnya.


Sarah melirik ke arah belakang, bertanya pada suaminya, " pah, malam ini papah mau beli apa, mungpung kita ada di sini?"


"Lah, kok papah. Kemana dia?"


"Papah."


Sarah berusaha mencari keberadaan suaminya yang tak ia lihat dari tadi, membuat rasa cemas dan kuatir ia rasakan dalam hatinya.


"Kenapa papah ini kerjaannya hilang mulu, sudah aku katakan suruh cepat, " mengerutu kesal, sembari menunggu pesanan yang baru saja ia beli.


Melirik pada ponsel, jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Sarah mulai menghubungi suaminya, berharap jika Rudi menganggkat panggilan darinya.


"Idih, kok nggak diangkat angkat sih. Kemana lagi si tua bangka itu, kenapa bisa hilang. Diculik demir apa wewe gombel, tapi nggak mungkin lah, so daging dia kan sudah alot dan nggak akan ada yang mau makan daging alot Rudi. " Mengerutu kesal, dimana pesanan sudah selesai dibuat.

__ADS_1


Sarah mulai membayar dan pergi untuk mencari minuman, sembari mencari keberadaan sang suami. " gini amat hidup, punya laki udah tua. Kaya ngurusin pati jompo. "


Melirik ke sana kemari, tetap tak menemukan keberadaan Rudi sampai Sarah duduk karena kelelahan berjalan jauh hanya untuk membeli makanan.


__ADS_2