
"Natasha aku tahu, kamu ragu mengatakan kejujuran padaku, pasti karena mommy yang menyuruhmu."
Semakin Edwin melontarkan sebuah perkataan semakin Natasha bingung menjelaskan semuanya.
"Ee, bukan begitu. "
"Kamu begitu gugup, apa kamu takut aku kecewa. Katakan saja sejujurnya. "
Karena tekanan dari Edwin yang terus memaksa Natasha untuk berkata jujur, pada akhirnya Natasha mengatakan semua kebenarannya. " Maafkan aku Edwin, sebenarnya aku baru tahu hal ini, setelah operasi itu mendadak dilakukan. "
"Bukan mendadak, tapi sudah jauh hari mommy melakukan semua ini dan menandatangani surat persetujuan. "
Natasha terkejut, jika Edwin sudah mengetahui semuanya dari awal.
"Jadi, kamu sudah tahu dari awal. "
Edwin meneteskan air mata, ia merasa gagal menjadi seorang anak yang menahan ibunya untuk tidak berkorban hanya demi kebahagian Edwin anak satu satunya sang ibu.
"Aku sudah tahu dari awal, hanya saja aku tak tahu kapan operasi itu dimulai. "
"Kalau kamu tahu, kenapa kamu tidak mengatakan semuanya dari awal kepadaku, mungkin saat itu aku akan menahan mommy agar tidak menjadi seorang pendonor. "
"Kalau aku mengatakan semuanya padamu, apa mommy akan mengurungkan niatnya, aku yang anaknya saja diabaikan. "
Natasha tak sadar akan hal itu, ia hanya diam, sampai dimana Edwin meringis kesakitan.
"Ahk."
"Edwin."
Natasha berteriak memanggil para suster dan juga dokter," ada apa?"
"Suami saya meringis kesakitan!"
Dokter segera memeriksa, dimana ia mencoba menasehati Edwin, agar tidak banyak bicara dan memikirkan banyak hal atau masalah yang membuat kesembuhannya terganggu.
"Edwin, kamu dengar tadi apa kata dokter. "
"Ya aku dengar."
"Syukurlah kalau begitu. "
Edwin kini terdiam, dimana ia berusaha menahan air mata yang perlahan lahan mulai jatuh mengenai pipi.
"Edwin, kenapa kamu menangis?" Pertanyaan Natasha membuat Edwin berusaha tetap tegar.
"Ayo katakan. " Tekan Natasha pada suaminya.
"Apa kamu bisa membawaku pada ibu!" jawaban yang membuat hati Natasha bersedih.
"Tapi kondisi tubuh kamu belum membaik." ucap Natasha berusaha memberi pengertian pada sang suami.
"Ya aku tahu itu. Tapi aku ingin sekali bertemu dengan mommy, aku ingin memarahinya. "
Natasha menjewer telinga Edwin, " Ahkk. "
"Kalau bukan karena kamu habis operasi, sudah kucubit batang keras yang terlihat menonjol itu. Jadi tolong bersabar dulu ya. "
"Bagaimana aku bisa bersabar, aku sudah ingin bertemu dengan mommy. Kamu mengerti tidak, " tegas Edwin, membuat emosi meluap luap sampai naik ke atas kepala.
Natasha menarik napas, berusaha tetap tenang menghadapi suaminya yang keras kepala.
__ADS_1
"Edwin, kamu jangan kaya anak kecil dong. Kalau aku bilang sabar ya sabar."
Edwin malah menatap istrinya tajam, terlihat ia begitu kesal dengan perkataanku ini.
"Natasha mengerti lah. Aku ingin bertemu dengan mommy, ya. Please, boleh ya. "
"Tidak mau, jadi tolong bersabar. "
"Kamu nggak ngerti banget jadi istri, mm. "
"Edwin, aku ngomong gini tuh, sudah mengertikan kamu. Tolong ya, sekarang ini kamu mau bersabar dan tetap tenang jangan kaya anak ingusan yang minta jajan permen konjoy. "
Edwin memajukan bibirnya, melipatkan kedua tangan. Menatap tajam pada sang istri.
Natasha yang melihat perubahan wajah suaminya kini perlahan mendekatkan wajah dengan bertanya lembut.
"Kenapa diam saja?"
"Ahk, aku kesal sama kamu!"
"Bhahaha, ke bocah aja kesal, lap tuh ingus. Malu malui-in. "
" Heh, aku nggak ingusan ya. "
"Lalu apa?"
"Jigongan iya. "
"Idih, bau dong. Pantasan semerbak kaya air solokan."
"Sebarangan."
Keduanya malah berdebat, membuat perawat yang mengawasi mereka hanya menggelengkan kepala, " ada ya pasangan sengklek ke begitu. Betapa luasnya dunia ini. "
"Hemm."
Sarah mengejutkan sang perawat, membuat perawat ini kembali berdiri. Memberikan salam.
Saat Sarah masuk.
"Astaga, kalian ini kenapa sih. Kaya babi ngepet sama monyet saja. Kerjaannya berantem. "
Edwin dan Natasha kini menatap Sarah, " ya elah mah, yang benar saja babi ngepet sama monyet?"
Sarah melangkahkan kakinya, lebih cepat, menghampiri anak satu satunya itu. " Lantas, mau mama sebut apa, hah. "
"Ya, tom and jerry gitu. "
"Idih, mana ada pantas pantasnya di kalian. "
Natasha menyugingkan bibirnya membalas perkataan sang mommy, " masa sih mah, nggak ada pantas pantasnya di kita, Edwin kan manis lalu Natasha imut. "
"Kata siapa?"
"Kata Natasha."
"Manis gula kali, sama apa tadi. "
"Imuttt." Dengan memajukan bibirnya, di hadapan sang mama.
"Bukan imut, yang ada amit amit. "
__ADS_1
"Bhahhaha."
Edwin tertawa, mendengar gurauan dari sang mamah, membuat ia meringis kesakitan, " aduhh, ginjalku rasanya retak. "
"Heh, Edwin, sudah jangan tertawa. Ini gara gara mama sih. "
"Malah nyalahin mama, lagi kamu yang .... "
"Yang apa. "
"Nggak jadi. "
"Sudah stop, jangan berantem, ini bukan tempat adu mulut jadi hentikan ya. " Tiba tiba seorang perawat datang membuat Natasha dan Sarah menatap ke arahnya.
"Kenapa kalian berdua menantap saya," ucap perawat itu ketakutan.
Keduanya berkacak pinggang, " heh, siapa suruh kamu main hakim dan sok alim. "
"Apaan sih, ini emak dan anak nggak jelas banget, ibu dan emak. "
Natasha terkejut ketika sang perawat memanggil dirinya dengan sebutan ibu. " Aduhh, please deh, aku masih muda belum jadi ibu. "
Sarah mengibaskan rambut panjangnya di depan sang perawat, membuat perawat itu mengendus dan berkata, " idih rambutnya bau iler. "
"Apa kamu bilang?"
"eh, nggak emak saya .... "
"Emak, hey, panggil saya tante, saya bukan emak kamu. "
Edwin tak kuasa menahan tawa, sampai ia berkata " sudah cukup, jangan bertengkar lagi. "
Sampai dimana Perwira datang, dimana lelaki tua itu bertabrakan dengan seorang perawat.
Brakk ....
Perawat itu tak sengaja menarik jas yang melingkar pada pinggang Perwira, membuat jas itu terlepas.
Dan. " Ahhkkkk. "
"Mama, ada iromen. "
Menutup wajah dengan telapak tangan, dimana Natasha mengintip lagi, menyingkirkan jari tangannya.
"Natasha." Edwin terlihat murka, ia menarik tangan Natasha, " jangan melihat iromen punya Daddy. "
"Hah, aku tidak melihat, hanya mengintip saja. "
"Perwira, cepat tutup batang bergambar iromen itu. "
Mendengar teriakan Sarah, membuat Perwira berusaha mengambil jas yang berada di atas lantai, Iya terburu-buru menutup kembali sesuatu yang berharga miliknya itu.
Sang perawat hanya membulatkan kedua mata begitupun dengan mulut yang mengalah.
Bangun, di mana kedua pipi perawat itu memerah, Iya baru saja melihat pemandangan yang tak biasa bagi dirinya.
"Aduhh, Perwira kalau jalan itu hati-hati, Kamu ini bagaimana sih sudah tua banyak tingkahnya."
"Ya mana aku tahu, kalau aku mengalami kecelakaan seperti ini."
Sarah melipatkan kedua tangannya lalu berkata," memalukan sekali."
__ADS_1
Edwin mulai menyuruh Natasha untuk melepaskan kedua tangan yang menempel pada wajah Natasha sendiri.
Perwira mendekat melihat keadaan anak satu-satunya itu, " bagaimana keadaanmu sekarang?"