Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 76 Teriakan Edwin


__ADS_3

Masuk ke dalam villa, kedua orang tua Natasha terkejut melihat keadaan Natasha dan juga Edwin yang terlihat basah kuyup. " Ya ampun kalian ini sudah main hujan-hujanan?"


Pertanyaan sang Mama membuat Edwin tersenyum begitupun dengan Natasha, " ya Kebetulan sekali kami sudah bermain bola dengan anak-anak di lapangan, ya sudah Bu Kami mau membersihkan diri. "


Natasha melangkahkan kakinya terlebih dahulu, di mana Sarah membisikan sesuatu pada Edwin. " Jangan lupa bikin dede bayi."


"Siap, deh. "


Rudi mengerutkan dahinya, " Apa maksud Mama tadi pakai bisik-bisik segala?"


Sarah memukul bahu suaminya," alah Papa kaya nggak ngerti aja."


"Lah, memang papa nggak ngerti. Makanya papa nanya sama Mama kenapa?"


" Ya ampun kalau sudah kakek-kakek ya beginilah ya, urusan kayak begini juga harus dijelaskan. "


"Jadi mama ngeledek Papa nih kalau Papa ini sudah tua. "


" Memang pada kenyataannya bukan?"


Kedua suami istri itu kini berdebat hanya karena masalah tua dan mudanya mereka, sampai Rudi membisikan suatu perkataan yang membuat Sarah tercengang, " Walau sudah tua begini, masih kuat di ranjang dong."


"Idih, apaan sih papah, "


"Lah emang benar kan. "


Sarah tersenyum lebar dan mengaku memang suaminya yang sudah tua ini masih kuat dalam urusan Ranjang. 


"Ahk, iya deh. "


Rudi tampak bahagia Ketika istrinya mengakui jika ia masih bisa memuaskan istrinya. 


Lorenza dan Perwira datang, " lagi debat apa nih, kok serius benget. "

__ADS_1


Sarah tertawa dan menjawab," debat urusan ranjang. " Rudi yang terlihat malu, menyumpal mulut istrinya dan pergi dari hadapan Lorenza terburu buru. 


"Oh ya, kami pergi dulu ya. Dah."


Lorenza dan Perwira saling menatap satu sama lain, mereka merasa heran dengan kedua pasang suami istri, ketika berbicara asal ceplos. Tak jauh berbeda dengan Natasha.


"Ya sudah kita pulang yuk. " Lorenza menganggukkan kepala, mendengar perkataan suaminya. Mereka bergandengan untuk pulang ke rumah. 


*******


Edwin dan Natasha masih berdua di dalam kamar, " aku pergi dulu mandi."


Menganggukkan kepala, Natasha terlihat kedinginan, " Gimana kalau kita mandinya berdua, aku sudah kedinginan."


Edwin baru saja berjalan ke kamar mandi, ia terkejut dengan keinginan istrinya yang biasanya selalu menolak. 


"Apa aku tidak salah dengar?" tanya kembali Edwin pada istrinya. 


Natasha tersenyum dengan wajah malu malunya, " iya. "


"Iya!"


"Sekali lagi, aku belum jelas mendengarnya."


"Iya."


"Ahk, beneran itu. "


Saking kesal menjawab perkataan Edwin, Natasha kini bangkit dari tempat duduknya, datang menghampiri Edwin, menarik tangannya untuk masuk ke dalam kamar mandi. 


Edwin, baru pertama kali merasakan rasa grogi seperti ini, padahal dari tadi saat di lapangan ia begitu tak sabar, tapi setelah masuk kamar ia jadi salah tingkah. 


Mereka masuk ke dalam kamar mandi, Natasha melihat kaki Edwin penuh lumpur, mendekat lalu membungkukan badan. 

__ADS_1


Edwin malah melorotkan celananya, Natasha terkejut, ia memukul batang keras itu. 


"Ahk, kenapa Natasha."


"Sini kaki kamu,"  Edwin kini duduk diatas toilet duduk, dimana  Natasha menggosok punggung kaki Edwin yang penuh lumpur. 


"Edwin mengira jika batangnya akan menjadi santapan Natasha, seperti loli. Tapi ternyata hanya menggosok kedua kaki."


"Ahk, pelan pelan gosoknya Natasha sakit tahu. Nanti lecet kulitnya." Gerutu Edwin pada sang istri yang begitu fokus menggosok gosok punggung kaki Edwin. 


"Sabar dong, ini masih licin," ucap Natasha, membuat Edwin meraung kesakitan.


Lorenza dan Perwira lupa mengambil barang yang ketinggalan di dalam kamar, sampai mereka tak sengaja mendengar raungan anaknya. " Pah sini deh. " Lorenza memanggil Perwira, dimana ia menempelkan telinganya, " kenapa?"


"Coba kamu dengar deh!"


Karena rasa penasaran pada akhirnya perwira juga menempelkan telinganya pada pintu kamar anaknya, dia bergidik ngeri mendengar raungan Edwin yang terlihat kesakitan. 


" Papih dengarkan itu suara raungan anak kita, Kenapa Edwin kesakitan seperti itu ya, apa Natasha melakukan hal-hal yang menyakiti fisik anak kita. "


Perwira menutup bibir istrinya dengan telunjuk jari tangan, "Hus, mana ada Natasha menyakiti Edwin, anak kita aja yang terlalu menikmati permainan istrinya. "


Melepaskan telunjuk jari tangan sang suami, Lorenza kini angkat bicara, " sok tahu. "


"Lah, memang benar, kaya nggak punya pengalaman aja."


Lorenza tersipu malu, menggertakan giginya. " Benarkah. " Menatap ke arah bawa perut suaminya. "


"Kenapa kita tak ikuti kaya mereka, kayaknya seru. " Ucap Lorenza, membuat Perwira malah berlari. " Nggak ah, batang papah udah alot. "


Menggerak gerakan tangan, begitupun mengadu gigi, membuat Perwira berlari. " Ayo pih, kenapa lari."


"NGGAK."

__ADS_1


Lorenza tertawa terbahak bahak." Syukuri."


__ADS_2