
Terlihat jika Natasha tampak kesal dengan sang mama yang terus bolak balik kesana kemari, karena memikirkan hal yang tak pernah mereka lakukan sama sekali.
Setiap kali ingin mencari pembelaan sang mama malah menyuruh Natasha untuk tutup mulut.
"Ma."
Edwin kini angkat bicara, dimana perkataan Natasha terpotong olehnya. " Tante jangan khuatir, saya akan menikahi anak tante. "
Senyuman dari bibir Sarah tiba tiba melebar, sepertinya ia suka dengan perkataan Edwin.
" Nah gitu dong, kalau sudah main kuda kudaan harus bertanggung jawab, jangan enaknya aja. "
Natasha menimpal pekataan sang mama yang terus mangatakan kuda kudaan. " Ma, kami tidak melakukan hal itu. Mama salah paham. "
Sarah menempelkan jari tangannya pada bibir Natasha, " Ssst. "
"Jadi kapan kedua orang tuamu datang ke sini?" tanya Sarah, dimana Natasha berusaha memberontak dan ingin segera menyuruh Edwin pergi dari rumahnya.
Namun Sarah sudah tahu jika Natasha akan menghalangi ucapan mamanya, dengan terpaksa Sarah melipatkan kedua tangan Natasha.
"Mm."
Edwin menelan ludah, bergumam dalam hati, " bisa bisanya ibu dan anak seperti preman. "
"Jadi kapan?"
Tanya kembali Sarah, Natasha yang tak ingin pernikahan itu terjadi, berusaha menarik rambut sang mama.
Namun karena keahlian Sarah, membuat ia memukul kepala anaknya, " Aduh ma, ini sakit loh."
Sang mama tak mempedulikan rengekan anaknya, dimana ia mengambil lap sapu tangan, menyumpalkan pada mulut Natasha yang mengagah.
"Mm, mm. "
Edwin berusaha menjelaskan semuanya, namun melihat Sarah membuat ia berpikir berulang kali.
"Jadi gimana?"
"Eee."
Tak sabar menunggu jawaban dari Edwin, Sarah malah menginjak kaki anaknya. Sampai Natasha meringis kesakitan. " Duhhh, kakiku sakit sekali." gumam hati Natasha
Sapu lap kini di cabut sang mama.
Menggaruk belakang kepala yang tak terasa gatal, pada akhirnya Edwin berucap," besok."
"Apa."
Natasha tentunya terkejut dengan perkataan Edwin. " Heh, yang benar saja. Bukannya kata orang tuamu, minggu depan. "
Natasha menutup mulutnya, Sarah kini menunjuk pada Natasha. " Jadi kamu sudah pernah datang ke rumah lelaki ini, pantas saja kamu bisa main kuda kudaan. Nakal kamu ya. "
"Tante sudah, hentikan. Kasihan Natasha, sepertinya ia kesakitan sekali. "
ucap lembut Edwin, membuat Sarah terdiam.
"Apa sih lu, nggak usah lebay. Gue udah terbiasa. " timpal Natasha, seakan tak suka dibela.
"Dasar wanita aneh, orang merasa kasihan malah di sebut lebay. "
"Apa lu liat liat. "
__ADS_1
"Pede lu. "
Keduanya malah bertengkar, seperti kucing dan juga anjing.
"Diaamm."
Semua diam, seakan suasana menjadi hening.
Kini Sarah menyuruh keduanya untuk duduk. " Cepat duduk. "
Tegang, kini yang dirasakan Edwin. Keringat dingin bercucuran sampai berulang kali di usap.
Natasha memajukkan kedua bibirnya, dengan menyandarkan punggung pada sofa, sang mama yang melihat anaknya terlihat kurang sopan, kini menginjak kaki Natasha. Hingga anak itu meringis kesakitan lagi.
Edwin berusaha menahan tawa, ia sekilas menatap ke arah Natasha lalu berucap pelan. " Mampus. "
Tangan kanan mulai meraih kerah baju Edwin, " Heh, apa lu bilang. "
Sarah berusaha memisahkan keduanya. " Apa bisa kalian ini mendengarkan perkataan mama tanpa harus betengkar. "
"Dia sih ma. "
"Natasha."
"Iya. Ma. "
Melepaskan tangan pada kerah baju Edwin, Natasha kini duduk dengan begitu sopannya.
"Mama ingin berbicara pada kalian berdua. "
Deg ....
Semua tampak terdiam, saat perkataan serius itu terlontar.
Keduanya menepuk jidat, padahal sudah serius yang dibahas malah itu itu aja.
"Ma, apa tidak ada pertanyaan lain lagi, selain mambahas kuda kudaan, hah. "
"Ya sudah, mama akan serius."
Semua nampak terdiam lagi, " Edwin, kamu mau menikahi Natasha atas dasar apa?"
"Edwin ingin menikahi Natasha atas dasar cinta!"
Natasha memukul kepala Edwin, lalu menimpal. " Heh atas dasar cinta dari mananya kita itu baru bertemu. "
"Kamu ini harus mengerti, cinta itu bisa tumbuh kapan saja, jadi tak harus kenal lama baru cinta, ada juga yang baru pertama kali ketemu langsung cinta. "
"Hanya orang bodoh yang mengatakan hal itu."
"Jadi kamu menganggap aku orang bodoh?"
"Iya."
Sarah benar benar prustasi melihat keduanya bertengkar terus menerus. " Apa bisa tidak kalian ini tak usah bertengkar. "
Keduanya langsung menjawab. " TIDAK BISA. "
Karena kesal mendengar keduanya berkata seperti itu, Sarah menjewer keduanya cukup lumayan keras.
"Aduhh, ma. Sakit. "
__ADS_1
Keduanya meringis kesakitan, dimana Sarah berkata, " sekali lagi kalian bertengkar, mama tak segan segan menikahkan kalian malam ini juga. "
"Ma. Yang benar saja. "
Kedua telinga mereka memerah, mereka terus mengusap ngusap telinga. " Jadi besok kedua orang tuamu akan datang ke sini?"
Edwin menganggukkan kepala, sedangkan Natasha di ikat tangan dan juga kakinya. Mulut dibekam lakban.
"Iya, saya pastikan besok akan kembali lagi!"
"Apa kamu yakin. "
"Yakin."
"Memangnya kamu tidak melihat sekarang jam berapa?"
Edwin baru sadar jika ia sudah lama berada di rumah Natasha, melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Jadi bagaimana?"
"Dua hari lagi nanti saya ke sini!"
"Loh loh, kok beda lagi kamu bilang tadi besok sekarang dua hari lagi, mana yang benar?"
Terlihat raut wajah Edwin gelisah, karena perkataan Sarah, " Kenapa kamu diam saja. Ayo jawab?"
"Baikalah besok saya akan ke sini lagi. "
"Apa?"
"Besok saya akan ke sini lagi!"
"Bagus. kalau pendirianmu seperti itu. Besok kamu harus datang ke sini, kalau tidak datang kesini lagi saya pastikan hidupmu akan di hantui kuda kudaan bersama anak saya. "
Natasha terkejut dengan perkataan sang mama, bisa bisanya di saat serius berbicara, Sarah malah membahas kuda kudaan lagi.
Sarah mulai melepaskan perban dan ikatan tali pada anaknya, dimana Natasha berucap dengan lantangnya.
"Aduhh, mama ini gimana sih, bahas itu lagi. Ma, kita tidak melakukan hal sehina itu, kita hanya berperang saling jambak. "
"Apapaan yang saling jambak. "
Natasha dan juga Edwin saling menatap satu sama lain, mereka bergumam dalam hati, " susah jika menjelaskan apapun dengan orang tua, tak akan masuk masuk sampai kapanpun. Yang ada mereka malah semakin salah paham. "
"Sudah mah, kita tak mau membahas masalah tadi siang. "
"Ya sudah kalau begitu, Edwin kamu menginap saja di sini. "
Deg ....
Natasha tentu saja terkejut dengan perkataan sang mama, " apa, menyuruh lelaki kerempeng ini tinggal di rumah kita. "
Natasha menunjuk hidung Edwin yang terlihat begitu macung seperti rumah mesir. Dimana Edwin dengan rasa kesalnya, menyingkirkan telunjuk tangan itu.
"Telunjuk tangamu bau terasi. " ucap Edwin. Membuat pikiran Natasha kemana mana.
"Apa, kamu bilang. Bau terasi, kalau ia kenapa?" Serga Natasha, menyeringai membuat ia mengusap ngusap telunjuk tanggannya pada balutan apem yang tertutup.
"Natasha." Sarah mulai menyuruh anaknya terlihat anggun di depan lelaki. Dimana ia malah sengaja mencolek colek liang telinganya.
"NATASHA, CEPAT TIDUR. "
__ADS_1
Amarah sang mama membuat Natasha menurut, ia kini kembali bergegas untuk tidur.