Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 71


__ADS_3

Keringat dingin terlihat bercucuran, Asep berusaha tetap tenang, walau perasaanya sudah tak karuan.


"Sekarang kamu cepat datang ke Vila, aku sudah tak sabar ingin melihat hasil rekaman Edwin dan Natasha ketika mereka sedang kuda kudaan."


"Baik bos, saya akan datang secepat mungkin."


Wina mulai mematikkan panggilan teleponnya, ia tak tahu jika sekarang dirinya tengah berurusan dengan Edwin dan juga Natasha.


"Bagus, begitu dong. " Edwin memegang ponsel milik Asep, ia mengantonginya sembari tersenyum senang dengan info yang ia dapatkan.


"Jadi saya bisa bebas sekarang dengan membawa uang gepokan itu, " kedua mata Asep melirik kearah uang yang tengah dipegang oleh Natasha.


"Kamu mau ini?" tanya Natasha pada Asep, dimana lelaki berjanggut itu menganggukkan kepala.


"Ya saya mau uang itu!" balas Asep menunjuk nunjuk uang itu dengan bibirnya.


Asep sudah membayangkan jika ia pulang dengan membawa uang gepokan berlembaran merah untuk istri dan juga anak anaknya.


Natasha kini tertawa terbahak bahak, " nanti ya, kalau kita sudah bertemu dengan bos kamu."


Asep membulatkan kedua matanya, " loh bukannya tadi anda bilang, kalau saya sebut nama bos saya, anda akan memberikan uang itu."


"Mm, menurutmu. Sudahlah kita lihat saja nanti. "


Asep berusaha memberontak dan berkata, " jadi anda menipu saya."


Natasha tak ingin kalah dengan ucapan Asep, ia menjawab, " kapan mulut gue ini bilang nipu lu. "


Tawa masih dilayangkan Natasha, ia meneruskan perkataannya," kata gue lu ikut dulu baru ni uang gopakan tak kasih. "


Asep kini termakan jebakan Natasha yang akan menyulitkan hidupnya, padahal ia sudah merasa nyaman dan tenang, ketika mengatakan bos yang memerintahnya itu siapa.


"Natasha, aku sudah menyiapkan mobil untuk kita berangkat menemui Wina, sepertinya wanita itu harus di beri pelajaran karena bisa bisanya dia membuat rencana buruk seperti sekarang. "


Deg .... Jantung Asep terasa tak karuang, ia memplihatkan wajah gelisahnya ini, " aduhh gimana ini.'


Natasha menarik tangan Asep, mengikatnya. Ia kini menutup mulut lelaki berjanggut itu dengan perban," siap siap saja ya, lu dapat duit dari gue. "


Hanya menganggukkan kepala setelah mendengar perkataan Natasha, Asep kini pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya ia bergumam dalam hati, " bebeb maaf gak jadi lebarannya, mana niat mau kiwin lagi, Ahk, gagal rencana ganti istri baru. "

__ADS_1


"Kenapa lu, sedih gitu. Takut bini lu kagak beli baju lebaran ya. "


Asep menatap sekilas kearah Natasha, ia memajukkan bibirnya, " nah itu tahu. Kenapa nggak dilepaskan saya sekarang juga, nggak ada rasa kasihan gitu lihat wajah menyedihkan saya. "


Mengerutkan dahi Natasha kini menggelengkan kepalanya, " kasihan, hahahhaha. Wajah kaya songong ke begini harus dikasihani, idih. OGAH."


Semakin Natasha mengatakan hal itu, semakin Asep merasa bersedih. Lelaki berjanggut itu menangis, padahal Natasha sudah melakban mulutnya tapi Asep tetap saja seperti itu.


"Asep, aduhh. Cup, cup, jangan nangis ya."


"Apaan sih, saya nggak nangis, tapi anda sudah menginjak kaki saya. "


Natasha menatap kearah kaki Asep dan benar saja apa yang ia lihat, " ya ampun Asep, saking sebelnya aku sama kamu jadi kamu kesakitan deh. "


"Apa." Asep membulatkan kedua matanya, tak menyangka dengan perkataan yang dilayangkan Natasha saat itu juga.


"Sudah ya Akang Asep yang ganteng dan tukang ngibul, gue lapis lagi ni lakban di mulut lu."


Asep tak bisa bersuara lagi, " mm. mm. "


"Natasha, Natasha, di situasi seperti ini. Bisa bisanya kamu mengerjai suruhan Wina. "


ucap Edwin mengendari mobilnya.


Ada rasa kuatir terhadap Edwin, ketika sang ibu berada di Vila, takut jika Wina melakukan hal yang akan melukai ibunya


*********


Wina kini menyimpan ponselnya, ia terlihat memikirkan cara untuk bisa menyingkirkan Lorenza. " Gimana ya caranya buat nenek tua itu mati. "


Wina melihat racun tikus di dekatnya, ia tak tahu sejak kapan ada racun tikus dimeja dapur.


Melihat kopi yang sedang diseduh oleh pelayan lain, Wina kini mendekat dan bertanya, " apa'an itu?"


"Oh ini kopi!" jawab pelayan yang bekerja di vila milik Edwin, terlihat ia merasa takut dengan kedatangan Wina.


Karena para pelayan sudah tahu jika Wina adalah anak CEO dari perusahaan besar yang sengaja menjalankan aksinya untuk balas dendam.


"Kopi buat siapa?" pertanyaan Wina terdengar menyeramkan, membuat pelayan itu berusaha tetap tenang.

__ADS_1


Karena bisa saja pelayan itu dihabisi Wina saat itu juga. " Untuk Nyonya Lorenza."


Mendengar nama Lorenza adalah sebuah kesempatan yang sangat bagus, Wina bisa melayangkan aksinya saat itu juga.


"Ya sudah sini, biar aku saja yang bawakan, " Wina tiba tiba saja mengambil kopi itu, " tapi. "


Membulatkan kedua mata dihadapan pelayan itu, Wina kini berucap, " menurut atau. "


"Ahk, iya. "


"Bagus."


Wina menyuruh pelayan itu pergi dari hadapannya, ia sengaja mengusinya agar tidak ada yang melihat aksinya saat itu juga.


Serbuk yang ia temukan, Wina taburkan dalam kopi, ia tak peduli sama sekali berapa taburan yang ia layangkan pada kopi itu.


"Mampus kau, aku sudah menghancurkan anak dan menantumu secara perlahan, dan kini tinggal kamu mati dalam keadaan tenang. "


Menghelap napas, Wina berusaha menjadi sosok yang anggun dan terlihat bersahabat.


Ketukan pintu dilayangkan oleh Wina, dimana Lorenza sedang bersantai.


Sedangkan Edwin masih berada di dalam perjalanan menuju villa yang ia tuju, takut terjadi apa-apa dengan sang ibu, Edwin Kini menghubungi sang ibunda beberapa kali.


"Ayo dong angkat, bu. "


Tak ada jawaban sama sekali saat Edwin terus memanggil sang ibunda pada ponselnya.


Edwin takut jika Wina sudah berani menghancurkan Edwin dan juga istrinya, Wina malah berani menghabisi Lorenza.


"Bu, ke mana sih Kenapa Ibu tidak mengangkat panggilan telepon dari Edwin. "


Pada akhirnya Edwin kini mengirim pesan pada saat ibunda berharap jika pesannya itu langsung dibaca saat itu juga, ( Bu, Edwin hanya memberitahu bahwa ibu harus berhati-hati dengan Wina, karena dia sedang merencanakan sesuatu terhadap kita.)


Sudah terkirim namun tak ada respon sama sekali, Edwin semakin gelisah, dimana Natasha mengusap pelan bahu suaminya lalu berkata, " kamu harus tetap tenang, mudah-mudahan Ibu Lorenza tidak kenapa-napa."


Mencium punggung tangannya sendiri, menghelap napas menenangkan diri, " Aku juga berharap seperti itu, Wina tidak melakukan hal yang menyakiti ibu. "


Asep tak mau diam, terus menggerakkan tubuhnya agar bisa lepas dari jeratan tali tambang yang mengikat tangan dan juga kakinya.

__ADS_1


Natasha yang melihat pada kaca mobil kini bersuara," Asep, bisa diam tidak atau kamu mau ini. " memperlihatkan sebuah pistol, membuat lelaki berjanggut itu kini diam dan menundukkan pandangan.


"Nah gitu dong, baru cakep. "


__ADS_2