
Rudi terjatuh saat pintu terbuka lebar, dimana Natasha berusaha mengusir suaminya untuk tidur di sofa. Karena tidur Natasha yang terganggu dengan kejailan suaminya.
"Aduhhh. Pinggangku, sakit sekali. "
Lelaki tua itu meringis kesakitan, sembari memegang pinggangnya yang terasa patah.
"Ahk, sakit. " Berteriak meminta bantuan pada anak satu satunya.
Natasha dengan sigap menghampiri sang papah, memegang tangan yang sudah terlihat mengkerut, berusaba membantu sang papah untuk berdiri " Papah ini kok bisa sampai jatuh seperti tadi, ngapain coba di depan pintu kamar Natasha?"
Pertanyaan Natasha membuat Rudi malu untuk menjawab perkataan anak satu satunya itu. Kedua pipinya memerah, karena ia mengintip kedua penganten baru yang sedang melakukan aktivitas pada malam hari. Yang membuat dirinya penasaran ingin tahu gaya apa saja yang dilakukan anaknya.
"Jangan- jangan papah sengaja ya, ngitip Natasha dan juga Edwin di dalam kamar?" tanya Natasha, curiga dengan papahnya sendiri karena tiba tiba saja lelaki tua itu ada di depan pintu kamar Natasha.
"Idih, ngapain papah ngintip aktivitas kalian di malam hari, enak saja. Memalukkan sekali!" jawab sang papah berbohong. Ia berpura pura mempelihatkan ketegasanya di depan Natasha.
"Alah, papah jangan bohong deh. Kelihatan sekali, papah itu. Kaya orang yang sedang berbohong tahu nggak, mukanya merah. Nahan malu kaya gitu, " sindir Natasha, menunjuk ke arah pipi papahnya. Yang telihat seperti udang rebus.
Rudi memalingkan wajah, mengusap pelan janggut putihnya itu, " heh. Nggak sopan pake tunjuk tunjuk segala, bau terasi tahu nggak. " Hardik Rudi pada anaknya sendiri di depan Edwin.
Natasha yang mendengar perkataan sang papah membuat ia kembali mengendus telunjuk jari tangannya dan," mm. Bau asem pah."
Ketus Natasha dihadapan sang papah. Edwin yang melihat keakuran keluarga Natasha membuat ia sedikit iri, karena sang papah tak pernah sedekat itu, apalagi sang mama. Edwin selama ini terlalu merasakan kesepian karena kedua orang tuanya terlalu sibuk mengurusi pekerjaan dan bisnis yang mereka kelola, sampai Edwin tak pernah sedikitpun merasa kesepian.
Natasha kini berkacak pinggang dihadapan sang papah, dengan melayangkan sebuah pertanyaan.
"Lalu apa tujuan papah ada di depan kamar Natasha, COBA JAWAB? "
Natasha sedikit meninggikan nada bicaranya, dihadapan sang papah, dimana Rudi mengusap ngusap ketiaknya dengan telapak tangan. Lalu menempelkan pada hidung anak perempuan satu satunya itu.
"Papah ini, nggak sopan sekali. "
Lelaki tua itu malah mempelihatkan tawanya, dihadapan Natasha, membuat anak satu satunya itu menyumpal mulut dengan ****** ***** milik Edwin.
"Bhuak." Mengambil ****** ***** itu dan berkata. " Natasha. "
__ADS_1
Sedangkan Edwin merasa malu karena Natasha sudah berani memegang ****** ***** Edwin.
Wanita yang sudah jadi istri Edwin itu berlari dengan begitu cepat, mereka berdua saling mengejar satu sama lain.
Namun kebahagian dan tawa itu seketika terhenti, saat Sarah datang dengan menggedor gedor pintu kamar anaknya.
"BERHENTI."
Tariakan yang mampu membuat keduanya tak berani lagi berlari dan saling kejar satu sama lain.
"Mama."
Sarah dengan posisi berdiri dengan tangan yang ia lipatkan, membuat kesan menakutkan pada wajahnya Sarah.
Natasha dan sang papah menundukkan wajah, mereka berdua tak berani mengucapkan satu patah kata pun di hadapan Sarah.
Sarah berjalan mendekat ke arah suami dan juga anaknya, berjalan kesana kemari, dengan menasehati sang suami terlebih dahulu. " Papah, apa yang dilakukan papah itu memalukkan tahu tidak. Bisa bisanya papah bercanda dengan anak papah yang sudah mempunyai seorang suami. "
Rudi yang memang keras kepala, kini berucap. " mama ini. hanya karena masalah kejar kejaran. "
Sarah menggelengkan kepala dan membalas ucapan suaminya. "Wulaupun Natahasa sudah bersuami, tapi tetap saja rasanya tak pantas jika dilihat oleh orang lain ataupun keluarga sendiri, harusnya papa itu mengajarkan kedewasaan pada Natasha, agar ia bisa belajar bagaimana caranya menghargai suaminya."
Sarah hanya menggelangkan kepala setelah mendengar perkataan suaminya, " papah ini, sudah tua semakin keras kepala, sudah ahk. Mama cape. Pengen istirahat. "
"Ya sudah sana. " pekik Rudi, membuat Sarah pergi dari hadapannya.
Sedangkan Edwin hanya menatap tingkah konyol papah mertuanya, dimana ia berguman dalam hati. " Dua duanya, punya mertua pada nggak waras apa?"
Sarah berjalan melewati Edwin, dimana mama muda itu mengedipkan sebelah matanya.
Bergidik ngeri, Edwin kini menarik tangan istrinya untuk segera masuk ke dalam kamar.
Sedangkan sang papah malah membulatkan kedua matanya. Menarik tangan Edwin, membuat lelaki itu terjatuh keluar dari kamarnya sendiri.
Lelaki tua itu, ini menutup kamar Natasha," loh Papa ngapain ada di kamar Natasha, Kenapa juga Papa malah mengusir Edwin dari kamarku sendiri. bagaimanapun dia kan tetap suamiku sendiri."
__ADS_1
Rudi menutup mulut anaknya dengan telunjuk jari tangan," sudah ya papa ikut tidur di kamar kamu."
"Idih, enak saja nggak mau ahk. Papah bau badot," usir Natasha, menarik tangan papahnya dan mengusir secara paksa sang Papah dari dalam kamar.
Namun tenaga lelaki tua itu begitu kuat, membuat Natasha tak kuat mendorong tubuh papahnya sendiri.
"Please ya sayang, sekali Ini saja papa tidur di kamar kamu ya. "
Natasha tetap saja menolak, tak memperdulikan permohonan dan juga keinginan Rudi yang terus memohon-mohon untuk tidur di kamarnya.
"Sudah ah, sebaiknya Papa cepat tidur samperin Mama minta maaf kepada Mama."
Natasha berusaha mengusir kembali sang papa dengan tutur kata lembutnya.
"Ayolah pah. "
Melihat tubuh Natasha, membuat gairah ke laki-lakinya muncul secara tiba-tiba.
Rudi berusaha menahan gelora asmara dalam dirinya. Barusaha untuk tetap sadar mengingat jika Natasha itu anaknya sendiri yang tak seharusnya ia sukai.
"Natasha." memegang pundak anaknya, membuat Natasha menyingkir tangan sang papah yang terasa sedikit meraba.
Mendorong tubuh sang papah, membuka pintu kamar dan. Brakkk ....
Lelaki tua itu terjatuh lagi untuk yang kedua kalinya, karena lelaki tua itu sudah lancang memegang bahu anak semata wayang.
Edwin melihat ayah kandung Natasha terjatuh untuk yang kedua kalinya," Aduh Pak pasti sakit ya terjatuh seperti itu."
"Kamu."
Edwin menutup mulutnya merasa ia ingin sekali tertawa terbahak-bahak di depan mertua lelakinya itu, melangkah mundur lalu pergi dari hadapan sang mertua.
"Hey, kurang ajar sekali kamu. " Hardik Rudi pada sang menantu yang menertawakan kelakuannya.
Di saat Rudi mulai berlari mengejar menantunya itu, tiba-tiba sang istri datang menjiwir telinga Rudi. " Kamu ya, masih ada di sini, ayo cepat masuk ke dalam kamar, tidur. "
__ADS_1
Lelaki tua itu seperti anak kecil yang dimarahi oleh ibunya, terlihat sekali raut wajah kesakitan Rudi diperlihatkan pada istrinya," Aduh mah sakit mah kamu ini apa-apaan sih bisa-bisanya menjewer Papa sekeras ini, sakit tahu. "
Sarah mengabaikan suaminya yang terus menggerutu kesal.