
Matahari dipagi hari kini nampak menyilaukan jendela kamar sang pengantin, dimana keduanya menggeliat, baru saja bangun dari tidur yang terasa melelahkan.
Natasha berusaha bangkit dengan menggerakan seluruh tubuh, mengertakan otot otot badannya. " Ahk, badanku pegal semua. "
Sedangkan Edwin tertidur lagi, ia mengeluarkan dengkuran kerasnya. Natasha yang melihat ketampanan Edwin hanya bisa menghelap napas, dan menghindar.
Namun saat Natasha berdiri, tarikan tangan kini menarik tangannya, sontak Natasha terkejut. Membuat ia tertidur lagi diatas kasur.
"Edwin, lu ya. "
Wanita berbibir tebal itu, kini menyentil sang suami dengan jari tangannya. "Aw."
Edwin terbangun, ia duduk bersebelahan dengan istrinya, sembari mengusap pelan telinga yang terlihat memerah.
"Aduhh, sakit. "
Natasha menyunggingkan bibir atasnya dan berkata, " syukurin emang enak, siapa suruh nggak sopan pake acara narik tangan segala. "
Lelaki berbadan kekar dengan hidung macungnya itu, kini melebarkan tangan merangkul bahu sang istri dan mencium pipi Natasha.
Palkkk ....
Tamparan mendarat secara tiba tiba membuat Edwin meringis kesakitan.
Mengepalkan tangan memperlihatkan di depan sang suami. " Berani kamu, hem. "
Edwin berusaha memegang kepalan tangan Natasha, melawan tatapan kedua mata istrinya. " Berani kamu dengan suamimu ini."
"Idih, suami. Ihhh, jijay. "
Gerakan pundak saat berbicara dihadapan Edwin membuat Natasha menggoda di pagi hari.
Karena lelaki sejati pastinya akan bersikap normal pada lawan pasangannya.
Kedua tangan Natasha, kini Edwin sengaja lebarkan. " Edwin, apa yang mau lu lakuin. "
Edwin memperlihatkan senyumannya, mengedipakan kedua mata, memberi kode jika ia lelaki normal.
"Lepaskan, atau gue tendang singkong lu yang tiba tiba mengeras itu. "
"Hey, Natasha, aku laki laki normal jadi wajar jika kepejakaanku tiba tiba hidup, kamu sebagai istri harus melayaniku. "
"Tidak mau, dan tidak akan pernah gue berikan pada lu. Mahkota gue ini, akan gue berikan pada lelaki yang menurut gue pantas mendapatkannya."
"Mm, kenapa seperti itu. Bukannya aku sah sebagai suamimu. Jadi kamu tak boleh menolak keinginanku."
Edwin malah sengaja membuat Natasha berteriak histeris dengan raut wajah ketakutannya, Edwin kini membuka satu persatu kancing baju sang istri dengan mulutnya.
"Lepaskan gue. " Teriakan Natasha tak membuat Edwin menghentikan aksinya. Lelaki berbadan kekar itu malah sengaja, membuat istrinya syok.
"Jangan, jangan, jangan. "
__ADS_1
Brakk ....
Natasha terbangun, ia meraba tubuhnya, tak terjadi apa apa. Melihat kancing baju tetap sama seperti biasa. Melihat ke samping kiri tempat tidurnya, Edwin tak ada.
"Kemana sicungkring itu, " gerutu Natasha.
ia kini berusaha mensetabilakan napasnya, memegang dada bidang.
Bangkit, dan memegang kedua pipinya. " Ternyata hanya mimpi."
Ceklek. Suara pintu kamar mandi terbuka lebar, bau wangi sabun tercium pada lubang hidup Natasha.
Edwin keluar dengan lilitan handuk yang melingkari area pingang hingga lututnya. Natasha yang melihat pemandangan itu, berusaha mengalihkan wajah berpura pura ceuk.
Edwin kini mendekat ke arah istrinya itu, ia kini berbisik pada telingan Natasha. " Kamu mau aku perlihatkan sesuatu tidak. "
Mengerutkan dahi, ada rasa penasaran mengelilingi pikiran Natasha, ia tetap pada posisi wajahnya yang berusaha tak menatap Edwin sama sekali.
Tangan kekar kini meraih dagu Natasha, membalikan wajah lonjong istirinya hingga bertatapan dengan Edwin.
Natasha yang tak terbiasa, kini memukul tangan sang suami. " Jangan sentuh aku, aku jijik. Jijik mas. "
Eh salah, ulang ulang.
"Jangan pernah sentuh dagu gue. " ketus Natasha. Mengerutkan dahinya.
"Owh, gitu ya. Jadi kalau begini. " Terkejut, Natasha mendapatkan ciuman dari bibir Edwin pas dibibirnya.
Palkkk .... Tamparan kini melayang dari tangan sang istri, membuat pipi Edwin memerah.
"Loh, kok marah. Tadikan nggak mau disentu pake tangan, ya sudah di sentuhnya pake bibir saja biar, Asyik. "
Mendengus kesal, Natasha malah menarik handuk yang masih terpakai pada pinggang Edwin, membuat sesuatu terlihat menggantung.
Natasha yang tak sengaja melihat pemandangan itu, langsung menjerit. " Edwin, gila kamu. "
Edwin terburu buru lari, menjauh dari hadapan Natasha, dengan menutup sesuatu yang dilihat istrinya.
Sedangkan Natasha masih membulatkan kedua matanya, ia seperti syok berat, melihat barang yang baru ia lihat.
Padahal Natasha sering bergaul dengan pria sebayanya, tetapi urusan yang tadi ia lihat. Baru saja ia mengerti.
Apa sebegitu polosnya sosok seorang Natasha, atau jangan jangan ia pura pura.
Edwin berusaha mengambil baju dan kolor yang biasa ia kenakan.
Sedangkan Natasha berlari kencang masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan tak menentu, dadanya bergetar hebat.
Badannya terasa berdenyut, seakan ada tarikan magnet setelah ia melihat sesuatu yang menggantung. Melihat cermin di kamar mandi, memukul mukul kedua pipi berulang kali, " apa yang kamu bayangkan Natasha, ayo sadar. Yang kamu lihat itu hanya ulat tanpa bulu dan dia tidak akan menggigit kamu kok, ayo sadar. "
Natasha kini membuka semua pakaiannya untuk segera mandi, menantap pada cermin. Inilah dirinya yang sekarang sudah dewasa.
__ADS_1
Tok .... Tok ....
Ketukan pintu terdengar begitu keras, dimana Natasha menarik handuk melingkari tubuhnya.
"Natasha."
"Ya."
"Aku turun terlebih dahulu untuk sarapan ya. "
"Hah, iya. "
Natasha mengira jika Edwin akan datang membuka pintu kamar mandi dan melakukan aksi yang membuat ia penasaran selama ini.
"Kenapa dengan tubuhku, setelah melihat milik Edwin, tiba tiba badanku merasa panas."
****
Edwin terlihat berjalan pelan, ia mengira jika Natasha akan keluar dengan tubuhnya tanpa mengenakan busana, tapi perkiraanya ternyata salah, Natasha tidak muncul sama sekali.
Membuat Edwin yang menjadi lelaki normal kecewa, karena hasratnya tak terpenuhi.
Membuka pintu kamar, penampakan sang ibu mertua dengan kedua buah dada yang menonjol membuat Edwin terkejut. Apalagi pakaiannya begitu seksi.
"Mama. Ada di sini?" tanya Edwin berusaha menahan diri, saat melihat pakaian sang mertua bergitu seksi dan menggoda.
Mama muda itu berlengak lenggok, mempelihatkan tubuh seksinya dihadapan sang menantu. " Gimana penampilan mama sekarang, cantikkan? "
Bukan jawaban yang diterima Edwin saat ini, tapi sebuah pertanyaan.
"Ehhh, em .... Cantik mama!"
Kedua pipi Sarah memerah setelah mendapatkan pujian dari menantunya itu.
"Wah, benarkah. Mm. Terima kasih. "
Sarah semakin berani, ia mencubit pipi sang menantu, dimana Sarah membalikkan badan, menyuruh Edwin memegang kedua pinggangnya.
"Gimana sudah pas tidak. "
"Pas, mah. "
Keringat dingin mulai bercucuran, Edwin berusaha menahan hasrat dalam diri, ia berulang kali menelan ludah.
Sarah malah semakin sengaja, ia menekankan tubuhnya pada tubuh sang menantu, dimana brakk ....
Pintu kamar tiba-tiba saja terbuka, Sarah berusaha menutup tubuhnya, di mana Natasha berdiri di hadapan mereka berdua. Dengan tubuh yang tercium wangi sabun.
" Kalian sedang apa di depan pintu?" pertanyaan Natasha membuat sang mama terlihat gugup, di mana anak angkatnya itu menatap pakaian sang mamah yang begitu terlihat seksi.
Menyipitkan kedua mata, " Kenapa pakaian Mama seperti itu?"
__ADS_1