
"Ihk, kenapa bayangan sosis itu mengelikkan, " ucap Putri, memeluk bantal guling. Ia perlahan menatap bantal guling itu sampai dimana.
"Ihhh," membuang dari tangannya, bantal guling itu mengenai gelas kaca yang berada pada meja di kamar Putri.
Prakk ....
Suara pecahan gelas kaca itu, membuat Natasha yang melewati kamar Putri terkejut, Karena rasa penasaran, membuat dia membuka pintu kamar keponakan Papanya Itu.
"Putri, kenapa?" Natasha kini duduk di samping Putri, ia melihat rasa takut pada raut wajah gadis itu, sampai pertanyaan Natasha, membuat Putri menunjuk ke arah bantal guling yang baru saja ia lempar.
" Putri geli sekali melihat bantal guling seperti itu, membuat Putri mengingat batang milik Om Rudi!" jawaban yang membuat Natasha ingin tertawa saat itu juga.
Namun sebagai orang yang begitu peduli pada Putri Natasha berusaha menahan rasa ingin tertawanya.
"Putri, kamu ini terlalu berhalusinasi, sampai melihat barang apapun yang berbentuk panjang dan juga lonjong, kamu kaitkan dengan batang Papah Rudi." ucap Natasha, menahan tawa yang benar benar menguras tenaganya.
Putri hanya terdiam, di saat Natasha menasehatinya agar tetap melupakan sesuatu yang membuatnya geli.
"Jadi lupakan oke." ucap Natasha, dimana Putri hanya menganggukkan kepala.
Natasha kini berpamitan untuk pergi dari hadapan Putri, ia segera berjalan cepat untuk segera masuk ke dalam kamar.
Natasha pun tertawa terbahak bahak, membuat Edwin heran dan kini bertanya, " kenapa?"
"Mm, tidak apa apa. Hanya sebuah lelucon saja!" balas Natasha merebahkan tubuhnya.
Edwin kini mendekat dan menantap wajah istrinya, " Lelucon seperti apa?" Pertanyaan Edwin membuat Natasha mengerutkan dahinya dan dan menjawab. " Idih kepo. "
Sampai mereka saling cubit satu sama lain.
"Kak Natasha. "
Berhenti saling cubit satu sama lain, Natasha kini berdiri, ia mulai menghampiri pintu kamar melihat Putri datang.
"Putri, kenapa?"
Raut wajah Putri terlihat sedih, ia memajukkan kedua bibirnya.
"Bisa tidak Kak Natasha antarkan Putri jalan jalan, biar melupakan sesuatu yang menjijikan itu!" balas Putri memohon mohon kepada Natasha.
"Mm, gimana ya. " Natasha kini menatap kearah Edwin, meminta izin. " Edwin, bolehkan aku mengantarkan dia keluar sebentar?"
__ADS_1
Edwin hanya bisa menganggukkan kepala, walau sebenarnya, ia ingin berduaan dengan Natasha saat itu.
Natasha kini pergi mengantarkan Putri untuk sekedar jalan jalan, terlihat ia merasa tertekan dengan bayang bayangan yang merasuk jiwa dan pikirannya.
"Ahk, bisa bisanya gadis itu bikin pusing kepalaku. Karena dia aku tak bisa membuahi Natasha agar bisa menghasilkan seorang anak. " Gerutu hati Edwin, sembari mengacak rambutnya kasar.
Natasha dan Putri, kini berjalan santai di tengah malam, gadis berumur delapan belas tahun itu bertanya pada Natasha." Kok bisa ya Kak Natasha yang terkenal Barbar ini dari dulu, sama nikah dengan seorang laki-laki ganteng tampan dan juga mapan?"
Pertanyaan Putri membuat Natasha merasa tak nyaman, apalagi saat gadis berumur delapan belas tahun itu menyebutnya barbar.
"Putri juga mau lah punya suami kaya suami Kak Natasha. "
Natasha benar-benar dibuat risih dengan perkataan Putri yang terus membahas suaminya, seperti tak ada topik lain.
Natasha menghentikan langkah kakinya, menatap ke arah Putri yang terus berjalan sembari membicarakan fisik Edwin.
"Kak Natasha. "
Putri membalikan badan, melihat Natasha berhenti berjalan. Ia kini menyusul Natasha yang terlihat tak nyaman dengannya.
"Loh, kak Natasha kok diam saja. "
Ucap Putri, mempelihatkan wajah polosnya.
Putri tersenyum lebar, seakan ia tak menyadari kesalahannya sendiri. " Iya kak, memangnya kenapa!?"
"Apa kamu tidak menyadari pembicaraanmu dari tadi, " ketus Natasha pada Putri. Terlihat ia berusaha menghindarin kegelisahanya itu, " ah, maksud Kak Natasha apa ya, aku kurang mengerti. "
Putri malah berpura pura lugu, membuat keluguan itu disadari oleh Natasha, " mm, kurang mengerti apa pura pura. " Mempelihatkan wajah sinis, Natasha tak suka dengan Putri dari awal ia datang, apalagi saat mengganggu dirinya jika berduaan dengan Edwin.
Mengaruk belakang kepala, Putri berusaha tetap tenang, dimana ia mengalihkan pembicaraan, " Cuaca dingin banget kak, bagaimana kalau kita pulang saja ke rumah, Putri takut nanti kakak masuk angin."
Putri berusaha menghindar dimana ia berjalan dengan langkah yang sangat cepat, " sepertinya Kak Natasha menyadari apa tujuanku sekarang. "
Natasha mulai menyusul langkah kaki Putri, ia harus berhati hati dengan sosok wanita yang menjadi keponakan Papanya Itu.
" Kenapa makin ke sini, Si Putri itu begitu lancang, dan berani kepadaku," gumam hati Natasha mengikuti langkah kaki Putri.
Dimana Putri yang berjalan duluan, berusaha tetap tenang, ia mulai berjalan bersejajar dengan Natasha.
Namun langkah kaki Natasha malah semakin cepat, ia meninggalkan Putri begitu saja, mengabaikan teriakan Putri yang berlari menghampirinya.
__ADS_1
"Kak Natasha. "
Setelah sampai di rumah, napas Putri terengah engah setelah mengejar Natasha.
"Kak Natasha. Tolong dengarkan perkataan Putri dulu, Kak Natasha jangan salah paham dengan apa yang Putri tanyakan. Semua tidak seperti yang Kak Natasha bayangkan. "
Natasha dengan sengaja menghentikan langkah kakinya itu, sampai Putri yang berjalan tak sadar kini menabrak punggung Natasha.
"Kak Natasha, maaf. "
Membalikkan badan menatap ke arah gadis yang sudah membuatnya geram. " Oh ya memangnya kamu bisa tahu apa yang aku bayangkan saat ini. "
"Eeh, aku .... "
Putri terlihat pendek, sampai Natasha membungkukan badan ketika berbicara dengan gadis berumur delapan belas tahun itu.
"Kenapa Putri, kok kamu terlihat gugup begitu, aku tanya loh sama kamu."
"Natasha, Natasha. "
Teriakan Edwin tiba tiba membuat Putri menjatuhkan dirinya sendiri, ia kini menangis.
Edwin yang melihat hal itu kini berlari dan membantu Putri untuk berdiri, " kenapa dengan Putri. Natasha?"
Natasha dengan santainya kini menjawab perkataan Edwin, " kamu tanya saja sama gadis itu, kenapa menjatuhkan diri sendiri ke atas lantai, lalu menangis tanpa sebab?"
Edwin mengerutkan dahinya, menjawab perkataan sang istri, " jadi saat aku datang Putri ini berpura-pura tersakiti olehmu gitu."
Natasha tersenyum sinis, " nah itu, kayak di sinetron sinetron. "
"Mm, bukannya itulah permainan lamanya, Kenapa di dunia reality masih dipakai," balas Edwin seperti mempermalukan Putri.
"Justru itu, aku tak mengerti dengan manusia yang suka memakai cara seperti biasa di sinetron. Apa gunanya, yang ada orang itu akan terlihat bodoh, " ucap Natasha, memegang tangan suaminya.
Sedangkan Putri terlihat malu pada dirinya sendiri, yang mengira jika apa yang ia lakukan akan membuahkan hasil.
Namun pada ujungnya Ia seperti orang bodoh, mempermalukan dirinya sendiri.
"Sayang, gimana kalau kita tidur sekarang?"
" Ya sudah ayo!" Edwin dan juga Natasha sengaja memperlihatkan kemesraan mereka di hadapan.
__ADS_1
Hingga rasa kesal menggebu pada hati Putri saat itu, " sialan sekali mereka. "