Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 77


__ADS_3

Edwin mulai memegang kedua bahu istrinya dan berkata, " Natasha sudah hentikan acara gosok menggosok nya, kita ganti dengan permainan baru."


Natasha berdiri, setelah mendengarkan perkataan suaminya, ia penasaran dengan maksud permainan yang dibahas oleh Edwin. 


"Permainan, apa maksud kamu, aku nggak ngerti sama sekali. " kepolosan dan sikap barbar istrinya itu membuat Edwin semakin gemas dan ingin mencubit bibir bawah yang terlihat tebal itu. 


Edwin mulai mempraktekkan dengan apa yang ia katakan di hadapan istrinya, " sini Kamu duduk. "


Natasha terlihat canggung saat Edwin menyuruhnya untuk duduk, " Mm, tapi."


Menarik tubuh sang istri, dan permainan itu berlanjut menyenangkan. 


"E-d-win."


Edwin tersenyum di kala Natasha terlihat senang dengan apa yang ia lakukan, " jadi ini maksud kamu bermain bola. " dengan nada tersedikit terengah-engah. 


"Iya donk sayang, masuk keluar masuk keluar sama saja kan, " ucap Edwin menggerakkan tubuh istrinya lebih cepat. 


Dengan nada terasa lemah, Natasha menjawab," tapi yang menang kamu, yang bisa masukkan bola ke gawang.  Hanya kamu. "


"Ya nggak papa dong sayang, kan kamu gawangnya. Gawang elastis."


" Tetap saja yang masuk itu cuman batangnya, bolanya cuman mengikuti gaya saja."


Edwin tertawa terbahak bahak, mendengar perkataan istrinya. " Sudah, nanti aku nggak keluar loh. "


Lumayan cukup lama, Edwin bisa mengeluarkan bagian hidupnya itu disebarkan pada Natasha, ia bisa bernapas lega dan berkata, " Ahk, akhirnya. keluar juga."


Natasha beranjak berdiri untuk segera membersihkan diri, terlihat ia begitu kelelahan karena bergerak gerak di atas.


Edwin menghampiri, " Gimana permainanya seru. "


"Itu bukan permainan, tapi …."


"Kebahagiaan."


"Apaan sih nggak jelas banget. "


Natasha terburu buru meraih handuk untuk segera menutup badannya, ya tak mau jika Edwin melakukan permainan  dari belakang, 


Saat handuk itu ditarik, Natasha terkejut, Edwin langsung membalikan tubuh istrinya. 


"Mau apa kamu, Edwin?"


Pertanyaan Natasha membuat Edwin terkejut, ia malah tersenyum menyeringai, mengusap perlahan rambut basah istrinya. 


"Edwin, bukannya kita sudah melakukannya dari tadi. "


Lelaki berbadan kekar itu, tidak memperdulikan perkataan istrinya, " satu kali lagi ya."


Natasha terkejut dengan keinginan suaminya, "aku capek."


"Nggak bakalan capek kok, asli deh."

__ADS_1


Edwin berusaha merayu istrinya itu," Gimana?"


Mau tidak mau, Natasha harus menuruti keinginan, walau badannya terasa sangat remuk. 


Edwin keluar dari kamar mandinya, ya terlihat begitu segar.  Sedangkan Natasha berjalan sembari memegang pinggang, perlahan demi perlahan. 


Edwin yang melihat pemandangan itu, merasa kasihan dengan istrinya.  Ia membopong tubuh istrinya, " Edwin, aku bisa jalan sendiri."


"Tapi jalanmu, kaya kesakitan gitu. "


"Ya habisnya kamu terlalu bersemangat sampai, pinggang terasa sakit."


"Tapi enakkan. "


Natasha menampar  pipi kiri suaminya pelan, " Aduh kenapa kamu tampar aku."


Natasha memajukkan kedua bibirnya, lalu berucap," siapa suruh ngomongnya asal ceplos. "


" Siapa yang asal ceplos, pada kenyataannya."


Natasha menghela napas, " Ya, kamu memang selalu benar. "


Edwin tertawa, ia langsung membantingkan pelan istrinya ke atas kasur. Sampai haduk itu terbuka, lelaki yang memang tak ada puasnya, membulatkan kedua mata. 


Tangan kekarnya itu terlihat berurat, seperti tak tahan menahan hawa napsu. " Mau apa, mm. "


Edwin berusaha memalingkan wajah, agar tidak tergoda dengan istrinya itu. 


"Nggak apa apa."


"Lantai, ngapain tuh iler keluar terus."


Edwin tak sadar jika ia tak bisa mengontrol ai liurnya, sampai menetes. 


"Ahk, bisa bisanya air liur ini menetes terus menerus."


Edwin terburu buru memakai baju, untuk keluar dari kamar, ia tak mau tergoda lagi pada kemolekan tubuh istrinya. 


"Kalau Edwin terus begitu, bisa bisa. Pinggangku patah, " Natasha mulai bangkit, ia berjalan dengan memegang pinggangnya, berusaha berdiri. 


Drek ….


Rasa sakit dari pinggang Natasha kini terasa, membuat Natasha tak sanggup berdiri. 


"Mana Edwin pergi lagi, kenapa dia malah pergi seenaknya bikin repot saja, sudah tahu pinggangku sakit sekali. " Natasha menggerutu kesal dirinya sendiri, ia berusaha mengatur napas untuk bisa tetap tenang. 


Edwin duduk, terlihat makanan sudah tersedia diatas meja. Perut terasa keroncongan, ingin segera menikmati makanan yang sudah tersedia di atas meja. 


"Natasha, kemana ya. Kok, dia lama sekali."


Cacing cacing di perut seakan mengajak Edwin berkelahi, dimana cacing itu mengeluarkan suatanya. 


Brebuk … 

__ADS_1


Menekan dengan kedua tangan, " Sudahlah, aku nggak kuat, aku makan duluan. Setelah ini aku akan bawakan hidangan ini pada istriku. "


Setelah menyantap makanan dengan begitu lahap, Edwin melihat istrinya berjalan sedikit membungkuk, terlihat jika ia tengah menahan rasa sakit pada bawah perutnya. 


"Masih sakit?"


Pertanyaan Edwin membuat Natasha semakin kesal. "Pakai acara nanya lagi, jelas sakit sekali. "


Natasha mulai melayangkan sebuah sendok pada kepala suaminya yang tengah menikmati hidangan, terlihat jika hidangan di atas meja begitu terasa nikmat. 


Berusaha duduk, dimana Edwin tak sengaja menjatuhkan sendoknya, ia sekilas melirik ke arah rok yang dikenakan istrinya. 


Bulu lebat terlihat, membuat Edwin menelan ludah. Ia duduk dengan tegap, memanggil istrinya. 


"Natasha," Istrinya mengabaikan perkataan Edwin sama sekali, membuat ia sedikit mengeluarkan nada tingginya. 


"NATASHA."


Natasha melirik ke arah suaminya itu, menggerakan mata dan alis kirinya. " Lihat kebawah?"


Natasha tak mengerti dengan perkataan Edwin, sampai dimana Edwin terlihat kesal dan memukul meja makannya. 


"Natasha."


Semua orang terlihat memperhatikan Edwin, sampai dimana Natasha berdiri, dan ia baru menyadari jika dirinya tidak memakai dalaman. 


"Kenapa, kamu ceroboh. " ucap pelan Edwin. Natasha masih berdiri, membuat Edwin memberikan kode lewat tangannya. Agar istrinya itu pergi segera mungkin ke dalam kamar. 


Natasha akhirnya menurut, ia berjalan melangkahkan kaki pada anak tangga dengan rasa ragu, sampai dimana.


Barkkk ....


Edwin yang memperhatikan istrinya kini berlari sampai terjatuh, untuk segera menutupi rok yang terbuka itu.


"Kamu tak apa apa?" orang orang yang menjadi tamu villa itu hanya menatap sekilas dan tak mepedulikan lagi.


Natasha mengusap pelan dadanya, ia benar benar ceroboh, sampai apem hangatnya terlihat oleh semua orang.


Membangkitkan sang istri, Edwin kini memegang kedua bahu Natasha, " kalau jalan pelan pelan, untuk kueh apem kesayanganku tak dilihat orang, coba kalau dilihat orang berabe urusannya.


Natasha berjalan menunju anak tangga ditemani Edwin, dimana Edwin memerintah sang pelayan di villanya untuk membawakan hidangan ke dalam kamar.


"Pelayan sini, " panggil Edwin.


Ia membisikan suatu perkataan yang membuat Natasha bertanya tanya.


"Baik tuan."


Edwin mulai membopong tubuh istrinya, burusaha menutupi surga dunia miliknya.


"Edwin, aku malu dilihat orang. "


"Kamu kenapa malu, kamu kan istriku dari pada apem kesayanganku dilihat orang. "

__ADS_1


Memukul pelan pipi Edwin, dimana kedua pipi Natasha memerah, " kenapa merah gitu, malu, ya."


Perkataan Edwin membuat Natasha berkata, " idih apaan sih kamu."


__ADS_2