Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Pulang ke rumah.


__ADS_3

Edwin dan Perwira kini pulang ke rumah, mereka melihat Lorenza di depan pintu rumah, wanita tua itu mondar-mandir ke sana kemari.


"Lorenza."


Perwira menampilkan sebuah senyuman di hadapan sang istri dengan membawa begitu banyak barang.


Lorenza yang melihat hal itu bukan yang senang, ya malah mengerutkan dahi dan bertanya," kalian ini sebenarnya dari mana saja sih."


Perwira berusaha menyapa sang istri dengan begitu ramah, menggoda wanita tua itu agar tidak marah. "mami, Papih pulang. "


Perwira mulai memeluk sang istri, namun wanita tua itu menepis pelukan dari suaminya, " mami kenapa. "


Mengerutkan kedua bibir, Lorenza mandelik kesal di hadapan suaminya, " mami sayang kenapa? Oh ya, papih bawa hadiah untuk mami. "


Lorenza tetap saja tak memperdulikan perkataan suaminya, " sayang, kamu masih marah pada papih. "


Edwin berjalan melewati kedua orang tuanya, ia kini menyindir dengan begitu terdengar keras, " sudah jangan marahan lagi. "


Siapa yang tak malu ketika anak satu satunya menyindir keras Lorenza dan Perwira.


"Hmm."


Setelah kepergian Edwin, senyuman Lorenzo kini kembali lagi, tangan wanita tua itu mulai meraih belanjaan yang dibelikan oleh suaminya.


"Ini buat mami?"


"Iya, mami!"


"Terima kasih. "


Perwira mendekatkan pipinya di hadapan Lorenza, " mm. "


mengetuk-ngetuk pipinya memberi sebuah kode agar sang istri mengerti, " apa pih?"


" Masa Mami nggak ngerti sih kode keras dari papa!" balas Perwira.


Lorenza berusaha membuang rasa egonya, yakini mendekatkan bibir pada pipi suaminya.


"Muah."


Perwira terlihat begitu bahagia, setelah mendapatkan sebuah cium"n dari istrinya.


"Terima kasih sayang. "


Lorenza mengganggukan kepala, ia membawa barang-barang yang sudah dibelikan oleh suaminya, ke dalam kamar.


Berjalan dengan begitu bahagia, " punya hadiah banyak. "


Saatnya Perwira melayangkan aksinya, ini yang Iya nanti-nanti dari tadi pagi, berharap jika sang istri mengerti dengan keinginannya.


Perwira kini mengikuti langkah sang istri, perlahan ia mulai masuk ke dalam kamar, namun saat sampai, Lorenza malah menutup kamarnya rapat rapat, membuat Perwira terjatuh karena terbentur dengan pintu kamar sang istri.


"Aduh."


Lorenza tak memperdulikan rengekan suaminya yang berada di depan pintu kamar, dia melihat barang-barang yang sudah dibelikan Perwira.


Barang-barang yang begitu terlihat mewah dan juga bagus, hatinya berbunga-bunga, tak menyangka jika sang suami bisa merayu hatinya.


"Memang papih ini bisa saja. "


Lorenza mulai memakai baju yang sudah dibelikan oleh suami, ia dengan perasaan begitu senang memakai make up.


Tok ... Tok ....


Perwira yang tak sabar menantikan keinginannya Sejak pagi, hanya bisa menunggu di depan pintu kamar sang istri, sesekali ia mengetuk pintu.


"Mami, boleh papi masuk ke dalam kamar?"


Pertanyaan Perwira sama sekali tak dijawab oleh istrinya.


"Mami."


"Iya papih, sabarnya. "


Saat mendengar teriakan Lorenza yang membalas, Perwira begitu senang dan juga bahagia, masih ada harapan untuk bisa menikmati kue apem milik istrinya.


Mengusap-ngusap Kedua telapak tangan, air liur terus saja keluar dari mulutnya, ia sudah menantikan momen di mana istrinya memakai baju seksi yang sudah ia beli.


Lumayan cukup lama Perwira menunggu istrinya yang keluar dari dalam kamar," sayang sudah belum. "


"Sebentar lagi. "


Ceklek ....


Suara pintu kamar terdengar dibuka, Perwira kini berdiri, tak sabar menantikan kecantikan sang istri.

__ADS_1


Lorenza perlahan berjalan mendekat ke arah suaminya," Bagaimana penampilanku sekarang?"


Perwira tak bisa berkata-kata lagi, ia membulatkan mulutnya. Melihat baju yang ia beli begitu pas pada tubuh Sang istri.


" perfect sekali, Kamu benar-benar cantik. "


kedua pipi Lorenza memerah, setelah mendengar pujian terlontar dari mulut suaminya," jangan bercanda aku ini sudah tua. "


Perwira perlahan mendekati istrinya, memegang kedua punggung tangan sang istri, m*nciumnya secara perlahan," Kamu benar-benar cantik sekali. "


Perwira kini menang banyak, akhirnya ia bisa meluluhkan hati sang istri, mendapatkan apa yang ia inginkan.


Lorenza mulai melambaikan tangan, menyuruh sang suami untuk masuk, " ayo papih. "


apa yang terjadi benar-benar di luar dugaan, Lorenza sudah pasrah.


"Benar ini mami?"


Lorenza menanggukan kepala tersenyuman di hadapan suaminya," Kapan aku berbohong kepadamu papih. "


Saat itu juga gaya kodok sawah diperagakan oleh , Perwira, lelaki tua itu langsung saja masuk dan meh*mpit tubuh istirnya.


"Gimana."


Pintu kini tertutup sudah.


******


kini tinggal Edwin merayu istrinya, ya terlihat begitu gugup untuk memberikan suatu barang yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.


Membuka pintu kamar, Edwin melihat sang istri terbaring lemah di ranjang tempat tidur. Membuat ia tak tega.


Tapi gelora dalam jiwanya menggebu.


Saat mendekat ke arah Natasha, wanita muda yang menjadi istri Edwin itu membalikkan badan.


"Natasha."


Kedua mata Natasha perlahan terbuka lebar. ia memperlihatkan senyumannya di hadapan sang suami, " Edwin, kamu pulang."


Natasha berusaha bangkit dari tempat tidurnya, pegal-pegal pada tubuh dan juga kakinya kini membaik karena pijitan dari sang ibu mertua.


" Edwin, aku minta maaf sekali tidak bisa membuat kamu senang denganku. "


Edwin kini duduk di samping kiri Natasha, yang merangkul bahu istrinya, lalu berkata, " kamu Jangan menyalahkan diri kamu sendiri, harusnya aku sebagai seorang suami mengerti akan kondisi kamu saat ini."


" kamu lihat aku bawa apa, ini kejutan untuk kamu. Aku berharap kamu senang menerima hadiah dariku," ucap Edwin, semua barang yang ia belikan untuk istrinya.


"Wah, banyak sekali. "


"Ayo buka, satu persatu. "


Mendengar perkataan Edwin, pada akhirnya Natasha menurut, Ia membuka satu persatu barang yang sudah ia beli, terlihat Natasha begitu senang dengan apa yang sudah dibelikan oleh suaminya.


"Kamu membelikan semua ini untukku?"


Menganggukan kepala, Natasha kini membuka perhiasan yang sudah dibeli oleh suami.


" Mm, gambar tengkorak?"


"Iya, kamu suka tidak dengan gambar itu, aku sengaja loh memesannya untuk kamu. Karena aku tahu kamu itu kan suka dengan rock n roll dan gambar-gambar tengkorak seperti itu."


"Mm, aku suka. "


Natasha tersenyum kecil, Iya baru saja menghilangkan hobinya menjadi seorang penyanyi rock n roll, saat melihat kalung yang diberikan oleh suaminya, membuat dia ingin kembali lagi seperti dulu.


Namun, itu semua hanyalah sebuah mimpi, Natasha Kini harus fokus pada anaknya yang masih berada di dalam kandungan.


"Kenapa kamu tak senang?" Edwin bertanya pada istrinya, ia merasa jika istrinya terlihat begitu bersedih ketika melihat perhiasan yang memperlihatkan sebuah gambar tengkorak.


"Kamu suka?" pertanyaan itu terus dilayangkan oleh Edwin, ia merasa ragu dengan istrinya.


"Aku suka. "


"Lantas kenapa kamu bersedih. "


Natasha kini mengangkat wajahnya, di hadapan Edwin dengan kedua mata berkaca-kaca, " Sebenarnya aku sudah melupakan hobiku sejak aku hamil. "


"Benarkah, jadi apa yang aku berikan untuk kamu ini adalah sia-sia. "


Natasha mengusap air matanya yang terus berlinang, atau mau memperlihatkan kesedihannya di hadapan sang suami. Berusaha tetap tegar dan juga tegas.


"Apa yang kamu berikan kepadaku itu tidak ada kata sia-sia, aku sangat senang dan menghargai pemberian kamu ini, aku berterima kasih sekali kepadamu suamiku. "


Edwin mulai memeluk Natasha, Iya bernafas lega, Tak sia sia rasa lelahnya tergantikan dengan senyuman yang dilayangkan sang istri dan sebuah kata terima kasih.

__ADS_1


Edwin mulai melepaskan pelukannya itu, yakini meraih sebuah bingkisan yang baru saja ia beli dengan sang Papah yang membuat dirinya malu di hadapan orang-orang.


"Kamu lihat ini. "


Natasha malah tertawa terbahak-bahak saat melihat CD yang dibelikan oleh suaminya." Kok kamu bisa sih membeli hal seperti ini. kamu tidak malu apa?"


Edwin mengerutkan kedua bibirnya. Ia menundukkan wajah lalu menjawab, " justru itu aku sangatlah malu, mengingat kamu rasa malu tiba-tiba saja hilang. "


Natasha terkejut dengan gombalan yang dilayangkan oleh suaminya," tumben sekali kamu mengatakan hal seperti itu, biasanya kamu selalu diam dan cuek. "


Edwin kini memeluk kembali tubuh istrinya, " itu dulu sekarang kan beda lagi, aku ini suami dan juga Ayah penyayang untuk kamu Natasha. "


Entah ada hujan angin dari mana Edwin mengatakan hal seperti itu, " oh ya aku juga beli BH loh. "


Natasha benar-benar tak bisa menahan rasa ingin tertawanya, " Edwin, Kenapa kamu bisa selucu ini. "


Natasha mulai meraih BH yang ada di tangan suaminya, yakini mengukur dan Sangat disayangkan, ukuran BH yang diberikan Edwin begitu kecil. " sayang banget kayaknya ya bh-nya nggak. "


Edwin menundukkan wajah merasa kecewa dengan apa yang ia beli tak sesuai harapan untuk istrinya," maafkan aku ya. Aku tidak tahu ukuran kamu sama sekali. "


Antara sedih dan juga tertawa membuat Natasha benar-benar bingung saat itu, Natasha mengusap pelan pipi suaminya dan berkata, " Kamu jangan bersedih dengan apa yang kamu beli aku tetap menghargai semuanya. "


Edwin semakin terharu dengan perkataan yang terlontar dari mulut istrinya," Terima kasih kamu sudah menghargai pemberianku Natasha, sangat beruntung sekali bisa mendapatkan istri seperti kamu. "


Natasha kini membalas perkataan suaminya, " Aku juga begitu bahagia bisa mendapatkan seorang lelaki yang begitu baik seperti kamu, yang mengerti keadaanku dan juga selalu menyayangiku. "


Edwin kini bergumam dalam hatinya," Apakah ini saatnya aku mendapatkan apem basah dari istriku. "


Setiap kali Melakukan kebaikan untuk sang istri, laki-laki selalu ada maunya, Natasha yang merasa heran dengan suaminya, kini melepaskan pelukan.


"Kenapa?"


"Mm."


Edwin tanpa terlihat begitu bingung, ya harus mengatakan keinginannya dengan cara bagaimana.


"mm."


"Kenapa?"


Natasha benar-benar tak peka dengan keinginan sang suami, dia hanya bertanya dan terus bertanya.


Edwin berusaha menahan rasa kesalnya," Natasha Kenapa kamu tidak peka-peka, aku dari tadi menunggu keinginanku dan juga hasratku yang membara ini. "


Tetap saja Natasha malah diam membisu, Edwin kini membaringkan tubuhnya Karena rasa lelah.


Natasha kini mengikuti gerakan suaminya yang terbaring diranjang tempat tidur.


Tak ada sentuhan sedikitpun yang dilayangkan oleh sang istri, Edwin kini merasakan kegalauan yang tak bisa dia katakan.


"Kenapa istriku tak peka, padahal aku sudah memberikan kode keras kepadanya. "


Natasha kini beranjak bangkit dari tempat tidurnya, ia mengambil baju yang baru saja dibelikan oleh suaminya.


Perlahan Natasha mencoba baju itu, dia tersenyum manis dan berkata," kamu benar-benar hebat bisa memilih baju yang begitu pas pada tubuhku. "


Sepontan Edwin membalikkan badannya di hadapan Natasha, " Natasha kamu langsung memakai baju yang aku belikan."


Natasha menangguhkan kepala tersenyum lebar di hadapan suaminya.


wanita muda itu kini duduk di ranjang tempat tidur mendekati sang suami," bagaimana penampilanku saat ini?"


Beberapa kali Edwin menelan ludah, melihat kecantikan Sang istri yang begitu luar biasa, membuat ia tak bisa lagi menahan Gelora dalam jiwa yang terus menggebu-gebu.


"Apa saatnya aku merasakan basahnya kue apem. "


"Natasha."


Edwin kini memegang bahu sang istri dengan begitu lembut, yang memberikan sebuah perkataan manis, yang membuat jiwa-jiwa sang istri meronta-ronta, " kenapa?"


Mengedipkan mata beberapa kali, berharap kode keras itu mampu dipahami oleh sang istri.


"Bisakah sekarang?"


Pertanyaan Edwin membuat Natasha menganggukkan kepala, bangkit dari tempat tidurnya meloncat-loncat dan bergembira Sukaria.


Pada saat itulah pertempuran dilakukan oleh sepasang kedua Insan, Padahal baru saja Edwin mengeluh dengan rasa capek, setelah melihat sang istri memakai baju seksi yang mampu menggoda jiwanya, membuat rasa lelah dan rasa capek itu hilang seketika.


Kini keinginan yang selalu ia nanti-nanti sudah tercapai, Edwin merasa puas dengan apa yang sudah ia lakukan bersama dengan istrinya.


Mencium kening sang istri dengan penuh kasih sayang, Edwin kini berucap, " Terima kasih kamu sudah mau membuat aku bahagia saat ini. "


Natasha tersenyum lebar, ia membalas perkataan suaminya dengan bernada lembut." aku juga berterima kasih sekali padamu karena kamu sudah membelikan semua barang mewah ini. "


kebahagiaan tanpa terlihat pada kedua Insan itu, mereka bercanda ria merasakan kebahagiaan yang tak bisa diganggu gugat oleh orang lain.

__ADS_1


Memeluk erat, sampai tak terasa malam menyelimuti kebahagiaan mereka berdua.


__ADS_2