
Sampai di dalam kamar, Edwin mulai membaringkan istrinya di atas kasur, terlihat rok yang dipakai istrinya itu tampak terbuka, di mana Edwin yang menjadi pria normal, mengusap pelan bahunya beberapa kali.
Natasha berusaha membenarkan rok yang ia pakai, dimana Edwin menarik selimut. Dan berkata, " Kamu tenang saja, aku tidak akan melakukan ketiga kalinya. "
Menutupi badan Natasha dengan selimut tebal, Edwin kini duduk mengusap pelan wajahnya, " Kenapa juga kamu bisa ceroboh seperti itu?" Pertanyaan Edwin membuat Natasha terlihat malu. " namanya orang sakit pinggang ya jadi nggak fokus lah." Ketus Natasha menjawab pertanyaan suaminya.
Tangan kekar itu kini mengusap pelan jidat sang istri, membuat Edwin kini berkata, " Jidatmu kaya lapangan golf lebar,"
Natasha memukul tangan suaminya, memajukan kedua bibir, lalu berucap, " bisa tidak kamu itu tidak meledekku setiap hari."
"Entahlah, " mencubit hidung mungil istrinya, Edwin perlahan mendekatkan bibirnya pada bibir sang istri.
Hingga si itu terhalang oleh ketukan pintu.
Tok …. Tok ….
"Tuan, hidangan sudah siap."
Edwin menarik nafasnya dengan kasar, baru saja ia ingin mencium bibir istri yang mempesona itu.
Terpaksa Edwin bangkit untuk berdiri, membuka pintu kamarnya. Terlihat para pelayan sudah berjajar rapi, menyediakan semua hidangan.
Bau wangi masakan yang dibawa oleh para pelayan, membuat Natasha tak sabar ingin mencicipinya.
"Kayaknya enak?"
Para pelayan kini pergi, di mana Natasha bangkit dari tempat tidurnya membuka selimut tebal dan terburu-buru untuk duduk.
"Wah."
__ADS_1
Natasha menepuk-nepuk tangannya seperti anak kecil ketika melihat makanan yang masih berasap, ia kini mengambil sumpit selalu mencicipinya.
Edwin yang melihat pemandangan itu berpura-pura batuk, Natasha kini menatap ke arah suaminya dengan mulut penuh makanan.
Mengangkat kepala, Natasha mengambilkan suaminya air minum. " Ayo minum."
Edwin malah menghilangkan kepala, " kenapa? Apa ada yang aneh denganku?"
Pertanyaan Natasha membuat Edwin kini mengambil nasi yang menempel pada bibir istrinya.
"Owh, hanya nasi. "
" kamu ini kesurupan apa bagaimana, makan nggak baca doa. "
Natasha tersenyum kecil, karena saking laparnya Ia lupa membaca doa." Aku lupa."
Dengan mulut yang penuh.
Edwin membulatkan kedua matanya mendengar doa yang dilayangkan oleh Natasha, dimana wanita itu mengusap wajahnya dengan kedua tangan lalu menyantap lagi makanan yang berada di dekatnya.
Namun melihat kesalahan doa yang diucapkan oleh istrinya, membuat Edwin memukul tangan istrinya dengan sumpit.
"Eh lu. "
Membulatkan kedua mata, Natasha kini menutup mulutnya dengan sumpit.
"Kamu ingat nggak, kamu itu tadi berdoa apa?"
"Doa makan!"
__ADS_1
"Masa sih, coba ulang lagi. "
"Bismillah Bi …, eh itu kan doa mau tidur ya?"
Edwin melipatkan kedua tangannya, menggelengkan kepala, tersenyum melihat kepolosan sang istri, menyandarkan dagu pada kedua tangannya menatap sang istri, yang mengulang doa makan."Bismillahi awwalahu wa akhirahu. "
"Sudah, boleh makan. "
Edwin menganggukkan kepala, wanita yang menyebalkan itu kini menjadi wanita idaman.
"Gimana makanan nya, enak?"
Natasha memperlihatkan jempol tangan dihadapan Edwin, sambil mengunyah makanan.
Selesai menghabiskan hidangan yang berada di atas meja, Natasha kini mengusap-ngusap perutnya yang terlihat buncit.
Mengeluarkan suara sendawa, " Eeeh. "
"Ya ampun Natasha, kamu ini wanita tapi mengeluarkan sendawa. "
"Yaelah, namanya juga manusia ya wajar saja. Kalau demit baru, " balas Natasha, mengangkat kakinya ke atas kursi.
Edwin membulatkan kedua matanya, "Natasha kamu lupa dengan apemu sendiri. "
Natasha malah tertawa, " Ya aku kira aku pakai celana. "
Edwin kini mengangkat kedua alisnya, " gimana kalau kita bermain lagi, mungpung apem kamu terbuka. "
"Nggak ah, nggak mau. Aku kenyang, nanti isi perutku keluar lagi. "
__ADS_1
"Ya elah, hanya sebentar. "
Edwin bangkit dari tempat duduknya, menarik tangan sang istri dan berkata, " Ayolah sekali ini aja."