
"Natasha."
Baju serba pink yang dipakai Natasha mempelihatkan dirinya betapa ia begitu Feminin seperti wanita pada umumnya, tubuh putih mulus itu terlihat begitu menggoda.
"Mama lihat ini, masa Natasha pake baju warna pink. Mama tahu sendirikan Natasha tidak suka baju warna pink, tolonglah ganti lagi semua pakaian di dalam lemari. "
Natasha merasa dirinya seperti pinkaboy, karena gaya rambut cepak membuat ia tak pede.
Sarah berjalan mendekat menghampiri anak semata wayangnya itu, "siapa bilang, kamu ini cantik sayang kayak boneka annabelle."
Sontak Natasha terkejut dengan perkataan sang mama?" Apa tadi mama bilang, Boneka Annabelle."
Sarah menganggukkan kepala, " Mama salah ngomongnya, bukannya boneka itu lucu?"
Natasha menepuk jidatnya, " boneka annabelle itu boneka hantu mah, nggak ada lucu lucunya."
Natasha merengek seperti anak kecil, ia menangis dimana Edwin melihat tingkah wanita aneh itu langsung tertawa terbahak bahak.
"Lu, ngapain ketawa."
Melipatkan kedua tangan, Natasha memajukkan bibir atas bawahnya.
Edwin berusaha bangkit dengan rasa pusing yang masih dirasakan pada kepalanya.
"Kamu cantik kok pakai baju ini, hanya kekuranganmu saat ini, dari cara jalan kamu yang ngangkang. "
Kepalan tangan Natasha mulai meninju kembali wajah Edwin. Brukk.
Edwin tersungkur ke atas lantai dengan posisi terlentang dan wajah babak belurnya.
"Sukurin, emang enak. Siapa suruh ngomong asal ceplas ceplos, gue tonjok baru tahu rasa lu. " Gerutu Natasha.
Sarah sang ibunda berusaha membangunkan Edwin yang terkulai lemah diatas lantai, " Nak Edwin bangun, nak."
Menatap ke arah anak semata wayangnya itu, sang mama berkata, " Natasha kamu keterlaluan sekali, bisa bisanya membuat pacarmu jatuh pingsan lagi."
Berkacak pinggang di hadapan sang mama, Natasha kini berucap," siapa suruh ngomongnya nggak dijaga, jadi tuh orang kena batunya. "
Menggelengkan kepala, sang mama tak habis pikir dengan kelakuan anaknya yang seperti preman pasar. "Natasha kapan kamu berubah jadi primitif. Kaya cewek lain."
"Feminin bu, salah ngomong," ucap Wahyu bangun lagi dari pingsannya.
"Salah lagi ya. "
Sarah berusaha membantu Edwin berdiri, untuk segera duduk di atas sofa, " ayo tante bantu jalan. "
Edwin meringis kesakitan, belum sembuh pukulan tadi sekarang tertimpa lagi, nasib nasib.
Keduanya mulai duduk, dimana Sarah penasaran dan bertanya?" Sebenarnya Edwin ini siapanya anak tante ya? Soalnya Natasha kok kaya liat musuh saat berhadapan dengan Nak Edwin. "
__ADS_1
Edwin bingung, membalas perkataan wanita setengah tua dihadapannya, ia sebenarnya ingin mengakhiri pernikahan antara dirinya dengan Natasha karena kesalahpahaman.
Namun semua itu tak mungkin terjadi, yang ada Perwira akan murka, apalagi Lorenza sang ibunda.
"Nak Edwin, kenapa malah diam saja. Tante tanya loh."
Mengusap kasar wajah, Edwin berusaha menjelaskan semuanya. Sarah mendengar hal itu sontak terkejut saat mendengar kata kuda kudaan.
"Ya ampun, jadi kalian ini."
Belum penjelasan semua terucap dari mulut Edwin, Sarah terlihat murka," Tete, eh salah maksudnya tante, jangan salah paham dulu, kami ini tidak melakukan hal seperti itu. Semua hanya salah paham."
Edwin malah semakin terpojok, perkataan yang terlontar dari mulutnya sendiri malah menjadi bumerang dan amarah bagi Sarah.
"NATASHA CEPAT KEMARI. "
Teriakan Sarah membuat Edwin malah semakin pusing, ia malah mengacak rambutnya.
Lelaki berbadan kekar itu, mencoba berdiri menenangkan amarah Sarah." Tante, tunggu jangan marah dulu, tante belum mendengarkan semua penjelasan saya."
Sarah mengabaikan perkataan Edwin, ia terus berteriak memanggil anaknya.
"NATASHA."
Karena anak perempuannya itu tak datang menemui sang mama yang penuh dengan amarah. Sarah kini berjalan begitu cepat menuju ke kamar anaknya.
Natasha bangun, ia mengusap ngusap kedua mata yang masih tertutup dengan punggung tangannya. " Ada apa coba nenek sihir ini."
"Natasha buka cepat, mama hitung ya sampai tiga jika kamu tidak membuka pintu kamarmu, jangan harap kamar kamu ada pintunya. Natasha."
Menggaruk belakang kepala, menggerutu kesal. " Iya ma, Natasha buka kok."
Perlahan Natasha membuka pintu kamarnya, ia menatap wajah sang mama begitu merah padam seperti terbakar cream abal abal.
"Ada apa sih, ma. " Menguap mulut beberapa kali. Sang mama langsung menjewer telinga kiri Natasha, " ikut mama."
"Aduh sakit ma, ada apa sih, nggak jelas banget mama tiba-tiba saja marah. "
"Sekarang pokoknya kamu harus ikut mama, cepat. "
"Ya, iya ma. Tapi nggak harus dijewer sampai ditarik gini ma, sakit tahu."
"Sudah jangan banyak bicara sekarang kamu ikut mama."
Entah setan apa yang merasuki Sarah saat itu, sampai ia tega membuat anaknya meringis kesakitan.
Sarah mulai melepaskan tangan dari telinga Natasha, ia kini mulai menatap ke arah Edwin.
"Coba jawab dengan jujur, dengan gaya apa kalian main kuda kudaan?"
__ADS_1
Keduanya saling menatap satu sama, Natasha berkacak pinggang di depan Edwin," Apa yang kamu katakan pada mamaku? Sampai dia membahas kuda kudaan."
"Aku hanya membahas masalah kejadian tadi, tapi mama kamu malah salah sangka. Dia tak mau lagi mendengar penjelasan dariku!"
"Ahk, kenapa juga kamu malah membahas masalah tadi siang, bukanya masalah sudah kelar. "
"Kata siapa sudah kelar, kamu belum membayar ganti rugi mobilku."
"Aku tidak sudi mengganti rugi mobil butut mu itu."
"Heh, apa kamu bilang tadi, mobil butut. Kamu bilang mobilku itu mobil butut. Stupid. "
"Lalu aku harus bilang mobil apa? Oh ya aku bilang saja di depan mamaku ini mobil sampah."
"Gayanya aja elit, ekonomi sulit, ganti rugi nggak mau."
"Heh, menghina kamu."
"CUKUUUuuuuuuup."
Teriakan Sarah mampu membuat keduanya diam, mereka saling menatap penuh kebencian.
"Gadis ini, kalau berdebat di depan mamanya sok sopan, gaya lu gue, hilang sekejap mata." Gerutu hati Edwin.
"JIKA ADA YANG BERANI MELAWAN PERKATAAN MAMA, MAMA PASTIKAN MULUT KALIAN MAMA SUMPAL DENGAN CABAI DI WARUNG MBOK SUMIATI SE ONS. "
"Yaelah se ons dikit, mah. nggak sekalian sekilo. " timpal Natasha.
Dimana Sarah kini berteriak lagi.
"DIAM."
Edwin yang berdiri di samping Nasha kini berucap, " Syukurin emang enak. "
Sarah mulai mengintrogasi keduanya, wanita tua itu membahas tentang kuda kudaan yang dikatakan Edwin.
"Natasha, mama tak habis pikir dengan kelakuan kamu ini, kenapa bisa kamu bermain kuda kudaan dengan lelaki yang jelas jelas masih bersetatus pacarmu. Mama itu belum mengajarkan hal itu kepada kamu, tapi kamu malah melakukannya."
"Mama ini curhat apa, meluapkan emosi pada Natasha dan Edwin."
Sarah membulatkan kedua matanya dan berkata tegas. " DIAM KAMU NATSHA. "
"Salah lagi. " Gerutu Natsha dalam hati, ia berusaha mengalah demi mendengar curhatan sang mama.
"Natasha."
"Iya, ma. "
"DIAM."
__ADS_1