
Natasha mencari baju yang akan ia kenakan, tak ingin jika kedua orang tuanya tahu jika ia melakukan kuda kudaan di siang hari.
Beranjak berdiri dari tempat tidur, melihat siapa yang datang. Natasha perlahan membuka pintu kamarnya.
Ia melihat papah dan juga Putri tengah berdiri dibalik kamarnya. " Papah, Putri. "
"Natasha, apa kamu baik baik saja. Kata Putri kamu sedang tidak baik?" tanya sang papah, mempelihatkan kekhuatirannya terhadap anak satu satunya itu.
Natasha mengaruk belakang terlinganya yang tak terasa gatal, ia terlihat malu dengan pertanyaan sang papah, melihat ke arah Putri dan kini melirik ke arah Rudi.
Mendekat, memegang bahu Natasha, " ayo jawab yang jujur, Edwin tidak melakukan penyiksaan terhadap kamu kan?"
Membisikan perkataan yang terdengar memalukkan membuat Natasha tidak menjawab.
Dimana sosok Edwin datang mengejutkan keduanya, tampilan yang terlihat berantakan, membuat Rudi berkata, " buset, Edwin kamu kenapa? Tampilan kamu berantakan sekali. "
Edwin tersenyum menggaruk bawah perutnya, baju yang dikenakan sang menantu tak beraturan.
"Papah, Edwin dan Natasha tidak kenapa kenapa, jadi jangan terlalu menghuatirkan kami berdua ya."
Natasha berusaha menutup pintu kamarnya, berharap jika sang papah pergi dan tak menanyakan keadaannya lagi.
Brakkk ....
Putri terkejut akan tingkah anaknya yang menutup pintu kamar dengan begitu keras.
Sedangkan Sarah yang sudah paham dengan kedua anak anaknya, kini mendekat ke arah Rudi dan Putri. " kenapa sih kalian itu, hah. "
Putri terlihat malu pada dirinya sendiri, sedangkan Rudi masih terdiam mematung, " saya sudah peringatan kalian jangan ganggu, masih saja ganggu. "
Mereka saling menatap satu sama lain, membuat Sarah hanya mendelik kesal dan pergi.
Putri kini berucap dengan nada gelisah, " maafkan saya om."
"Kenapa kamu malah mempermalukan om di depan manantu dan istri om," ucap Rudi mengusap kasar wajahnya, padahal masalahnya dengan Sarah belum selesai.
"Putri, kalau nanti, kasih informasi itu yang benar ya, " Rudi, berusaha menasehati Putri, agar tidak berburuk sangka dengan apa yang ia lihat.
"Ya om. Maafkan Putri karena sudah asal memberikan informasi, " keluh Putri meminta maaf.
Rudi berniat menyusul Sarah kembali, ia ingin menyelesaikan masalahnya dan menegaskan tentang hubungannya yang sekarang.
Berjalan meninggalkan pintu kamar Natasha, kini Putri seperti orang yang tak tahu arah tujuan.
"Bodoh kamu Putri, bisa bisanya tertipu dengan suami istri yang lagi kuda kudaan di siang hari, ahk memalukkan. "
Putri melangkahkan kakinya yang terasa berat, ia mencoba membuang rasa malunya dengan pergi ke dalam kamar.
Sedangkan di dalam kamar, Natasha terdiam begitupun Edwin.
"Ee, maafkan papah dan Putri ya, " ucap Natasha pada suaminya, nada bicara terdengar gugup, membuat Edwin hanya diam.
Natasha yang terlihat merasa bersalah, kini mengenggam erat tangan Edwin, " jika kamu mau melakukannya lagi, silahkan aku sudah pasrah. "
Mendengar hal itu, Edwin tersenyum lebar dan mulai melayangkan aksinya.
Namun terhenti kembali oleh suara ketukan pintu yang membuat darahnya seketika naik.
"Ahk, geram. "
Natasha terburu buru mengecek orang yang mengetuk pintu kamarnya, membuka dan melihat orang itu tenyata Putri.
"Putri, ada apa lagi?" tanya Natasha terlihat kesal dengan kedatangan Putri yang menjadi pengganggu.
__ADS_1
"Kak Natasha, Putri hanya ingin meminta maaf!" jawab Natasha mempelihatkan rasa bersalahnya.
"Oh, hanya itu saja, sudah kakak maafkan. Jadi kamu tenang saja ya, " balas Natasha. Menutup pintu kamarnya.
Putri malah mengetuk pintu kamar Natasha kembali, membuat Edwin yang berada di dalam kamar tidur merasa terganggu sekali.
"Sebenarnya kenapa dengan keponakan kamu, dia bisa bisanya ganggu kita."
Natasha mengangkat kedua bahunya, ia juga tak mengerti dengan tingkah Putri yang terlihat keterlaluan.
Tok .... Tok .... Tok.
Berulang kali ketukan pintu yang dilayangkan Putri, benar benar membuat Natasha sangatlah geram, ia ingin sekali memarahi gadis itu.
Edwin kini menarik tangan istrinya, dimana ia menutup lubang telinga sang istri dengan hadset, "pakai ini, pasti gadis sanekala itu kelelahan karena mengetuk pintu. Berulang kali. "
Natasha sebagai seorang istri hanya bisa menurut dengan menutup kedua lubang telinganya. Ia tak mendengar sama sekali ketukan pintu dari kamarnya, sampai dimana Edwin kini membaringkan tubuh sang istri.
Kedua tatapan mata Edwin membuat Natasha terpukau, ia seperti terpana dengan kedua bola mata hitam milik suaminya.
Tangan kekar mulai mengusap pelan wajah istrinya, Natasha yang merasakan hal itu kini bersuara.
Sedangkan Putri terus mengganggu aktivitas Natasha dan Edwin di siang bolong. Ia tak suka kemesraan yang ia lihat, karena bagi dirinya semua terasa mengganggu dan membuat hatinya menjadi iri.
"Kak Natasha, " berulang kali berteriak, keduanya tanpak fokus.
Edwin mencium pipi kiri sang istri dengan penuh kemesraan dan berkata, " aku berharap kamu menikmatinya. Dan jangan pernah menolak keinginanku yang ingin memiliki seorang anak dari kamu." Mendengar hal itu, pastinya membuat Natasha sedikit tegang.
"Tenang, kamu tak usah ketakutan begitu, menjadi seorang istri dan juga seorang ibu bukanhal yang menakutkan," nasehat terlontar dari bibir suaminya terus menerus membuat Natasha tak menyadari permainan mereka sudah hampir tahap akhir.
Karena rasa kesal, pada akhirnya Putri mendobrak pintu kamar Natasha, berulang kali. Sampai, Brakkk ....
Putri terjatuh, dimana pintu kamar Natasha terbuka, pemandangan yang tak pernah ia lihat di depan matanya membuat ia menjerit.
Edwin dan Natasha hanya bisa bersembunyi dibalik selimut mereka. Karena terkejut melihat Putri yang lancang masuk ke dalam kamar dengan mendobrak pintu.
"Putri, kamu gila ya. "
Putri menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia perlahan mengintip, sampai dimana Natasha melemparkan sebuah bantal ke arah Putri.
Geram yang kini dirasakan Edwin, bisa bisanya saat titik pembuahan terganggu oleh Putri yang tiba tiba saja membuka pintu kamar mereka.
"Apa maksud si Putri itu, bisa bisanya dia berperilaku tidak sopan dan lancang masuk ke dalam kamar, apa sebelumnya dia pernah di didik sopan santun oleh orang tuanya. "
Edwin tak sadarkan diri, ia terus mengerutu dirinya sendiri di dapan Natasha.
"Maafkan aku Edwin, aku tidak tahu jika Putri akan lancang masuk ke dalam kamar kita, " keluh Natahsa merasa bersalah.
Sedangkan Putri malah tersenyum licik dan pergi dari kamar Natasha.
Sampai tangan Sarah memutar telinga gadis berumur delapan belas tahun itu.
"Heh, kurang ajar sekali kamu. Bisa bisanya kamu mengganggu aktifitas anakku yang sedang enak enakanya di siang bolong ini, bermain kuda kudaan." pekik Sarah, geram dengan kelakuan Putri.
Gadis berumur delapan belas tahun itu, mengusap ngusap telinganya yang terlihat memerah.
"Sakit tante, tante kok kurang ajar sih, bisa bisanya menyakiti kupingku ini. "
"Alah lebai sekali kamu, sok soan kesakitan. Heh, aku ingatkan lagi sama kamu, kalau kamu carmuk di rumah ini, aku akan buat mulutmu itu tidak terbuka lagi, " ancam Sarah dihadapan keponakan suaminya.
"Ngapain tante so - soan ngacam Putri, " balas Putri terlihat santai, dimana ia melipatkan kedua tangannya.
"Heh, kamu harus ingat ya, saya ini Nyonya Rumah ini. Jadi jangan membantah, " ketus Sarah terdengar membentak sang keponakan.
__ADS_1
"Loh, loh. Bukannya tante mau dicerai, dan lagi tante sudah bawa koper untuk pergi dari rumah ini, " hardik Putri menatap ke arah koper yang ditenteng oleh Sarah.
Sampai dimana Sarah membantingkan koper itu dihadapan Putri, " nggak jadi. "
Mendelik kesal, Putri menyugingkan bibirnya. Dimana Sarah balik lagi ke kamarnya.
"Dasar stress. "
Sarah melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamar, Rudi yang melihat istrinya datang kembali kini bertanya. " Loh mah, balik lagi?"
Sarah mebanting kopernya ke atas lantai, " NGGAK JADI. "
"Terus cerainya?"
"Ya nggak jadi!"
Rudi mengerutkan dahi, membuat ia mendekat ke arah istrinya, memegang jidat sang istri dengan telapak tangan.
"Nggak panas."
Sarah menghempaskan tangan suaminya dan berkata, " papah ini apa apaan sih, pake acara dicek segala, emang mama ini sakit apa?"
"Lah memang mama sakit!" Sarah menatap ke arah suaminya dimana Rusi meneruskan perkataannya, " mama tahu sakit apa?"
Mengerutkan dahi, " apa?"
"Sakit jiwa. "
Memukul kepala sang suami dengan begitu keras, membuat Rudi meringis kesakitan. " Aw, mama ini kenapa sih. "
"Habisnya papah tadi bilang mama sakit jiwa. " Mengerutkan dahi, membuat Rudi mencium pipi istrinya.
Padahal tadi mereka berdebat dan adu mulut, mengatakan kata cerai. " Jadi sekarang kita akur lagi nih?" tanya Rudi, membuat Sarah menganggukkan kepala.
Entah kenapa dengan Rudi, lelaki tua itu begitu mampu memaafkan kesalahan istrinya padahal ia begitu sakit hati.
"Mama tidak akan mengulangi kesalahan lagi kan?" tanya Rudi, lelaki plin plan yang tak mau kehilangan sang istri.
"Tidak akan pah, mami janji!" jawab Sarah, terlihat ia merasa senang dan tak kuatir lagi.
"Sudah aku bilang, jika pelet bulu ketek manjur kan, Rudi tidak mungkin melepaskanku begitu saja, " gumam hati Sarah, menatap tajam ke arah suaminya.
"Jadi, sekarang bisa dong. Anu anuan. " ucap Rudi pada sang istri yang tengah ia peluk.
"Anu anuan apa pah?" tanya Sarah, terlihat tak mengerti, ia mengerutkan dahi dan melepaskan pelukan istrinya.
"Ya anu anuan, kaya yang tadi dilakukan oleh Natasha dan Edwin!" jawab Rudi, terlihat malu malu setelah pertengkaran itu terjadi, ia kini meminta jatah kueh apem basah yang belum dibelah lagi olehnya.
"Jadi gimana mam, mau kan, biar papah bersihkan dulu pedang samurai yang sudah tegang ini, " ucap Rudi sedikit bercanda dihadapan istrinya.
Sarah yang hanya sebagai seorang istri kini pasrah, " oke pah. "
Betapa senangnya Rudi saat itu, dimana Sarah berkata, " papah harus bikin mama kelepek kelepek ya. "
"Emangnya ikan pari kelepek kelepek, " balas Rudi bercanda.
Putri yang tak bisa mengendalikan amarahnya, kini mendekat pada pintu kamar sang paman, ia penasaran dengan obrolan kedua insan yang ia anggap sudah bercerai.
Hingga telinga kanan ia sengaja tempelkan dan terdengarlah suara menyebalkan yang berusaha Putri hindari.
"Ahk, ehh. Ohh. "
Menelan ludah, beberapa kali mendengar hal itu Putri terburu buru berlari masuk ke dalam kamar mandi, " kenapa dengan orang orang di rumah ini?"
__ADS_1