
Perwira kini angkat bicara, " Sudahlah sebaiknya kita saling intropeksi diri, sebagai orang tua kita harus mencontohkan yang baik untuk anak-anak kita, masa iya kita harus seperti ini. "
" Benar apa yang dikatakan Perwira," ucap Rudi, semua kini saling berjabat tangan, mereka saling menyadari kesalahan mereka sendiri.
Sampai Sarah meraih tangan wanita yang dulu menjadi musuhnya, " Lorenza, aku minta maaf atas kesalahan yang aku lakukan pada kamu?"
Lorenza tersenyum seperti memaklumi perkataan Sarah," aku juga terlalu berburuk sangka kepada kamu."
Semua senyuman tergambar dari diri mereka masing-masing, sampai suara pintu terdengar dibuka, kini kedua pasangan Edwin dan juga Natasha datang menghampiri orang tuanya, " Jadi kalian sudah balikan?"
Pertanyaan Edwin membuat kedua orang tuanya tersenyum lebar dan menganggukkan kepala. " tentu saja. "
" Bagus kalau begitu?"
Edwin dan Natasha kini menghampiri pada orang tuanya, " Oh ya kami juga mau bertanya pada kalian?"
Edwin dan Natasha mengerutkan dahi satu sama lain, " bertanya soal apa?"
Sarah kini memegang perut anak angkatnya itu, " Jadi kapan kalian memberi kita seorang cucu. "
Kedua mata Natasha membulat, iya sedikit menghindari tangan sang Mama yang terus mengusap perutnya.
Perlahan menatap ke arah Edwin yang mengusap dagunya mengedipkan kedua mata, " Sebenarnya Natasha?"
Edwin memotong pembicaraan istrinya, " ingin cepat-cepat mempunyai anak!"
"Apah, eh lu."
Natasha terlihat murka dengan lancangnya Edwin memotong pembicaraannya.
Natasha melambaikan kedua tangannya, ya belum siap memiliki seorang anak. Karena dirinya yang belum siap menjadi sosok seorang ibu, Edwin malah sengaja mengatakan hal-hal yang membuat orang tuanya bahagia, " pokoknya kalian jangan khawatir sebulan ini kita akan memberikan seorang bayi yang mungil untuk kalian. "
Semua bersorak hore, di mana Natasha memegang kepalanya, Iya menggelengkan kepala tak sanggup mendengarkan perkataan Edwin.
Sarah memegang bahu anaknya itu, " Mamah nggak nyangka kelakuan sengklek kamu itu, kamu mau juga mempunyai seorang bayi. "
" Tidak seperti itu mam. "
Natasha tidak diberi kesempatan untuk berbicara dan menjelaskan keinginannya, Sarah yang merasa bahagia memeluk tubuh anaknya itu dengan begitu erat.
Semua orang yang memandangnya tersentuh, sampai Natasha menarik tangan Edwin untuk keluar dari ruangan yang dikumpuli oleh para orang tua.
__ADS_1
Mereka kini mengobrol di balik pintu, " Edwin bukannya aku sudah pernah bilang pada kamu jangan bahas anak, aku benar-benar belum siap. "
Edwin memegang kedua pipi istrinya, " sudah tenang aja, mempunyai seorang anak itu tidak seburuknya kamu pikirkan. "
" kamu harus tahu mempunyai seorang anak itu harus mempunyai mental yang sangat kuat, sedangkan aku menjadi seorang istri juga masih butuh belajar. "
Edwin tahu apa yang dipikirkan istrinya itu rasa takut dan juga cemas mengelilingi hati dan pikiran Natasha, karena kelakuan dan hobinya yang masih mengelilingi pikirannya.
"Heh, kalau kamu tidak belajar jadi ibu dari sekarang sekarang kapan lagi, mau nunggu tua. "
"Bukan begitu, aku masih menyukai hobiku, jadi please jangan paksa aku menjadi seorang ibu."
Edwin memijat kepalanya yang terasa berdenyut, dia bingung harus menjelaskan apalagi, sampai Sarah datang membuka pintu menghampiri anak dan menantunya.
"Natasha, ayolah buang hobimu itu jauh jauh, semua itu tak berguna. "
Natasha melipatkan kedua tangan, tak suka dengan sang mamah yang ikut bicara akan masalahnya.
" seiring waktu berjalan kamu akan bisa kok jadi ibu yang baik, " ucapan cara membuat Natasha menghembuskan napasnya.
Ia pergi meninggalkan sang mama dan juga suaminya, membuat Edwin berusaha menyusul, namun Sarah yang mengerti keadaan anaknya itu kini menarik tangan Edwin, " sudah kamu tak usah menyusul dia biarkan dia sendirian, memikirkan dua pilihan mana yang baik untuk dirinya mana yang tidak baik untuk diri."
Pada akhirnya Edwin menurut yang mendengarkan apa yang dikatakan mertuanya itu.
Ada senyuman terukir dari bibir Natasha setelah melihat pemandangan anak dan ibu itu tengah bermain, sampai Natasha terkejut dengan bola yang tak sengaja dilemparkan anak-anak ke arahnya.
" Hai Kakak coba lemparkan bolanya jangan bengong saja, " perkataan anak-anak itu membuat Natasha terkejut.
Iya mulai mengambil bola yang berada di hadapannya, " Bola ini?"
"Ya, tolong cepat lemparkan ke sini, kami sangat membutuhkan bola itu. "
Natasha menuruti perkataan para anak-anak yang tengah bermain bola itu, ia melemparkan bola tepat pada anak anak yang berada di lapangan yang dikhususkan dan niat untuk permainan anak-anak.
" Lemparan yang bagus, mau bermain dengan kami, " anak-anak itu sengaja mengajak Natasha untuk bermain bola dengannya.
Sampai Natasha setuju, iya turun ke lapangan. Untuk bermain bola dengan anak-anak yang baru saja ia kenal.
Natasha baru pertama kali tersenyum dengan sekumpulan anak-anak yang telah bermain bola, Iya menikmati setiap tendangan yang ia layangkan pada anak-anak, sangat menyenangkan sampai Ia bermain dan bermain lagi.
Karena terlalu lama Natasha keluar dari Villa dan belum kembali, pada akhirnya Edwin menyusul, ya khawatir dengan keadaan istrinya.
__ADS_1
Sampai di mana Edwin terkejut melihat tingkah istrinya yang tengah bermain bola, ya tertawa begitu bahagia, membuat Edwin merasa jika sosok wanita yang dulu tak pernah ia sukai, menjadi sangatlah berarti untuk dirinya.
Walau sosok itu sedikit barbar dan kadang menyebalkan, Edwin yang melihat keseruan istri dan juga anak-anak yang tengah bermain bola, perlahan menyusul.
Lelaki berbadan kekar itu ikut serta bermain dengan anak-anak dan juga istrinya, ada kebahagiaan yang dirasakan Edwin saat ini begitupun dengan Natasha, begitu menyenangkan.
Sampai mereka tak sadar, jika air hujan tengah mengguyur badan mereka. "Hujan."
Namun mereka tetap saja menikmati permainan bola itu, sampai pikiran Edwin tak fokus, ia melihat pakaian istrinya yang terkena air hujan. Menampilkan tumpukan gunung, besar itu bergoyang goyang.
Tak kuat, Edwin berusaha melepaskan jaket yang ia pakai untuk menutupi tubuh istrinya.
"Kenapa?"
Dipercikkan air hujan yang begitu deras, Edwin menyuruh istrinya untuk berhenti tidak bermain bola lagi, karena waktunya Ia yang akan bermain dengan istrinya.
"Sudah bermainnya ya!"
Natasha sebenarnya menikmati permainan bola bersama anak-anak, tapi karena suaminya yang menyuruh ia untuk berhenti, pada akhirnya Natasha menurut dan pergi dari lapangan itu.
Anak anak itu kini berteriak memanggil Natasha dan juga Edwin, " Hey kak, kok berhenti sih, nggak asik tahu. "
" Edwin kamu dengar apa yang dikatakan mereka," ucap Natasha pada suaminya, di mana Edwin berusaha menjelaskan pada anak anak itu, untuk mengerti urusan orang dewasa.
Berulang kali mengedipkan mata dan ia sengaja melemparkan sebuah uang.
"Edwin ayo kita bermain lagi. "
Anak anak itu kini mengambil uang yang dilemparkan Edwin, dan pergi. " Kita pergi dulu ya kak, dah. "
Edwin akhirnya bisa melayangkan aksinya, " Edwin kok mereka malah pergi. "
"Ahk, sudahlah, mereka mungkin hanya bercanda, lebih baik kita bermain saja berdua gimana. "
"Main apa berdua, kagak seru, seru banyak banyak. "
"Pasti seru kok, main bola sama. Di kamar."
"Ahk, di kamar. "
"Ya sudah ayo. "
__ADS_1
Natasha kini menurut, dimana Edwin merangkul bahu istrinya untuk masuk ke dalam kamar. " Yes berhasil. "