
Putri masuk ke dalam kamarnya terlihat ia malu pada dirinya sendiri, mengusap kasar wajah dan berkata pada dirinya sendiri, " bodoh kamu Putri, ngapain coba kamu bulak balik ke kamar mandi, lalu balik lagi, pake acara mendengar lagi permainan tante dan om kamu, ahk. Kadang kadang ini otak ada sengklek sengkleknya. "
Putri terlihat malu pada dirinya sendiri, mengacak rambutnya dengan begitu kasar membaringkan tubuh untuk bisa tertidur, melupakan rasa malu yang ia perlihatkan di depan Natasha dan juga Sarah.
Sarah kini berteriak memanggil nama Putri, dia mendekat ke arah kamar keponakan suaminya itu, mengetuk pintu berulang kali.
Putri tak merespon sama sekali teriakan Sarah, sampai Sarah merasa kuatir dengan keponakan suaminya itu yang begitu menyebalkan.
"Kenapa Putri tidak keluar juga dari kamarnya, apa dia pingsang, karena melihat batang keras milik omnya. "
Tok .... Tok ....
Sarah terus mengetuk pintu kamar Putri, harapan jika gadis itu membuka pintu kamarnya.
"Putri, bangun. Ini waktunya makan malam, kamu ini kenapa?"
Tetap tak ada respon sama sekali, sampai Natasha mendekat pada sang mama, " kenapa mah?"
Menunjuk pintu kamar Putri, Sarah kini menjawab perkataan anaknya, " ini, Mama dari tadi panggil Putri, tapi dia tak respon dan juga membuka pintu kamarnya. Mama takutnya dia overdosis karena melihat batang milik papah kamu ini. "
Natasha mengerutkan dahinya mendengar jawaban dari sang Mama yang tak masuk akal, " mama ini ngaco, mana ada overdosis karena melihat saja, overdosis itu kalau terlalu banyak makan obat. Kalau ngeliat doangmah mungkin jijik sama kebayang-bayang."
"Benar juga sih. Lalu kenapa ya dengan keponakan Papah kamu itu?" tanya Sarah pada anaknya.
Natasha hanya mengangkat kedua bahunya, lalu menjawab perkataan sang mama, " mana Natasha tahu. Si Putri itu kenapa, coba saja Mama tanya pada angin ketut yang melintas. "
Memukul kepala Natasha, membuat anak satu-satunya itu terlihat meringis kesakitan," aduh mama ini, bisa tidak kalau kesal itu jangan main pukul begitu saja, sakit tahu. "
Mengusap-ngusap kepalanya yang terasa, Natasha kini pergi dari hadapan Sarah. " Sudah ahk, Natasha mau membangunkan Edwin dulu. "
Baru saja pergi dari hadapan Sarah, tiba-tiba saja Natasha tergelincir jatuh di atas lantai," aduh, pinggangku. Sakit. "
Melihat penderitaan anak angkat satu-satunya itu, membuat Sarah tertawa terbahak-bahak. "Syukurin. Memangnya enak, makanya kalau jawab omongan orang tua itu jangan nyebelin. "
Natasha mengerutkan bibirnya mengusap pinggangnya yang terasa berdenyut, "sudah kepala sakit sekarang pinggang lagi, aduh. Habis penderitaan yang aku rasakan saat ini. "
Sarah tak henti-hentinya tertawa, sampai ia merasakan rasa sakit pada tenggorokannya," Huukh huukh. "
Natasha yang baru saja berdiri, melihat sang mama batuk karena mentertawakannya," Tuh kan kena azab juga. Makanya jangan menertawakan orang berlebihan. "
__ADS_1
Kesal karena perkataan anaknya, pada akhirnya Sarah mengejar Natasha," berani kamu mengatakan hal seperti itu kepada Mama. Awas ya."
Dengan begitu kesalnya Sarah mengejar, yang terlihat berjalan kesakitan," Natasha kembali kamu."
"Ampun mah, pinggangku ini sakit. Kenapa bisa Mama mengejarku seperti orang yang kesurupan."
Sarah menunjuk anaknya yang terus berlari dengan membungkuk seperti nenek-nenek yang sudah menopause.
" kalau ke mama bisa dapatkan kamu, mama cubit tuh mulut kamu. "
*******
Di dalam kamar, Putri bangun dari tempat tidurnya, terlihat rambut begitu berantakan. Iya beberapa kali menguap, menatap ke arah jam di dinding.
"Ternyata sudah pukul tujuh malam. "
Putri terkejut dengan jarum jam yang sudah menunjukkan jam 07.00 malam, membuat ia berusaha bangkit untuk berdiri.
Walau berjalan dengan sempoyongan, ia memaksakan diri untuk membersihkan badan. Bau menyengat pada tubuhnya, membuat ia merasa tak nyaman.
"Aku harus segara mandi, agar tubuhku ini baunya wangi. "
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Putri bertanya. Di mana mereka malah menunjukkan pandangan dan menikmati makanan mereka masing-masing.
Putri mulai duduk di atas kursi, ia mengambil makanan yang membuat ia terkejut. " Ahkkk. "
Rudi bangkit dari tempat, mendekat ke arah sang keponakan," Kenapa kamu berteriak Putri, ada apa?" Pertanyaan sang om, membuat Putri menunjuk makanan yang tak jauh di dekatnya.
Tangan Rudi mulai meraih hidangan yang membuat Putri terkejut, " kenapa?"
"Hidangan itu kaya batang milik om, ihh. Jijik!" jawaban Putri bergidig ngeri, ia tiba tiba ingin memuntahkan isi perutnya, berlari ke kamar mandi.
Rudi menatap ke arah anak dan juga istri," Kenapa Putri menyamakan batang milikku dengan sosis besar ini?"
Natasha berusaha menahan tawa begitupun dengan suaminya.
Mengelengkan kepala, Rudi meraih sosis itu, dan memakannya, " tidak ada yang aneh, hanya bentuknya saja. "
Sarah mendelik kesal, memijit kepalanya, merasa malu dengan tingkah suaminya. " ayolah pah, ini mememalukan sekali. "
__ADS_1
Pada akhirnya Rudi duduk di pada kursinya, Ya mulai meneruskan makanannya.
Sedangkan Natasha sudah tak kuat menahan tawa, sampai iya kini tertawa terbahak-bahak.
Sang mama berusaha menghentikan tawa anaknya," Natasha."
"Ahk, iya mam kenapa?"
"Apa kamu bisa diam!"
"Ahk, habisnya lucu sih mah, masa ia Putri sebut tuh sosis kaya batang kepunyaan papah kan jadinya kocak. "
"NATASHA."
Panggilan sang mama yang terdengar tegas membuat Edwin menutup mulut istrinya dengan menyumpalkan sosis itu.
"Hap, gimana enak kan?"
Mengunyah, lalu menelannya saat itu juga," tidak buruk seperti apa yang dibayangkan oleh Putri."
Edwin yang terkesan jahil, mulai membisikan perkataan pada telinga istrinya itu, " jadi bisa dong nanti malam memperaktekan hal seperti itu, pada batangku, gimana?"
Sontak perkataan itu membuat Natasha batuk dan hampir memuncratkan makananya dari dalam mulut.
Sarah yang melihat hal itu, membuat ia berucap, " Natasha, jangan bercanda kalau sedang makan. "
Natasha berusaha menelan makananya dengan terpaksa, "Ahk, kenapa sih disituasi seperti ini perkataan Edwin menyebalkan. " gerutu hati Natasha, mengunyah kembali sosok besar yang ada dihadapannya.
Putri kini datang lagi, ia duduk berusaha tak melirik sosis besar yang dimakan Natasha.
"Kenapa Putri? Kamu jijik ya?" tanya Natasha sengaja membuat Putri tak napsu makan, gadis itu begidig ngeri, mendengar perkataan Natasha. Yang terdengar begitu keterlaluan.
"Natasha, kita ini sedang makan, " Timpal Sarah kepada anaknya itu, sampai di mana Natasha hanya menganggukkan kepala, menaruh sosis besar yang belum ia habiskan.
Putri yang tak bisa mengabaikan sosis besar itu, ini berlari lagi untuk segera memutuskan isi perutnya.
"Ahk, sepertinya aku tak napsu makan." Putri berlari menjauhi meja makan, ya kembali lagi ke kamar tidur.
Sarah menghembuskan napas, geram dengan perkataan anaknya, " Natasha, kamu ini tidak kasihan terhadap keponakan kamu itu, bisa-bisanya kamu membuat ia muntah terus menerus."
__ADS_1
Natasha mengabaikan perkataan sang mama, ia seperti balas dendam, karena Putri sudah membuat Natasha malu bersama dengan Edwin.