Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 44


__ADS_3

"Ya sudah kalau begitu saya pulang dulu, terima kasih atas waktunya Lorenza. "


Lorenza tersenyum tipis lalu menjawab, " sama sama, Sarah."


Wanita dengan wajah putihnya itu, kini melangkahkan kaki pergi dari hadapan Lorenza, terlihat ia tampak muram dan tak bersemangat.


Hingga dimana Lorenza berteriak, memanggil Sarah, " Sarah. "


Teriakan Lorenza membuat Sarah bersemangat, yang memberikan badannya lalu bertanya, " ada apa?"


Lorenza yang sengaja mengerjai sahabatnya itu, kini menjawab dengan nada meledek, " salam pada Natasha, semoga dia bisa berubah. Nggak beringas jadi wanita. "


Sarah mengira jika Lorenza akan membujuk lagi anaknya, namun pada kenyataanya dia hanya menyindir saja Natasha habis habisan.


"Mm, sialan. Aku kira apa, kurang ajar juga si Lorenza. "


Pergi untuk segera menaiki mobil, Sarah mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pergi dari rumah yang membuat dirinya kesal.


Lorenza masih terlihat oleh kedua mata Sarah, di mana wanita itu terus melambaikan tangannya. memberi kode selamat tinggal.


Saat itulah waktunya Sarah untuk menemui anaknya, agar ia mau membujuk Edwin untuk segera pulang ke rumah.


Baru saja sampai di tempat tujuan, di mana ia pulang ke rumah. Melangkahkan kaki, mencari keberadaan Natasha.


"Natasha."


"Natasha."


Teriakan Sarah membuat Natasha terganggu, dia datang menghampiri sang mama. Dengan mengusap-ngusap daun telinganya hingga memerah.


"Ada apa sih, mah. "


beberapa kali menguap merasakan rasa kantuk, Natasha terlihat biasa saja saat ditinggalkan oleh suami, Sarah yang melihat tingkah anaknya kini memukul pelan kepala Natasha.


"Kamu ini. "


Natasha kini meringis kesakitan, dengan telapak tangan yang memegang kepalanya, ya menatap tajam ke arah Sarah.


"Mama ini kenapa sih kok tega-teganya mukul anak sendiri, aduh. Mana keras lagi mukulnya. "


Sarah menunjuk anaknya dengan jari tangan, yang memperlihatkan rambut wajah kesal di hadapan Natasha," Ini pelajaran untuk kamu karena Edwin pergi meninggalkan rumah ini, harusnya kamu ini sebagai seorang istri mencegah Edwin pergi dari rumah ini. Emangnya kamu mau jadi janda?"

__ADS_1


Natasha terlihat biasa saja saat mendengar sang Mamah mengatakan kata janda, dia tidak terkejut hanya berkata," lah memangnya salah jadi janda, toh nggak ngerugiin Mama sama orang lain."


Sarah berkacak pinggang setelah mendengar perkataan anaknya yang memalukan, " Ya ampun Natasha, bisa-bisanya kamu berkata seperti itu. Di mana-mana itu orang nggak mau jadi janda tau tidak, jadi janda itu nggak enak kesepian kedinginan, kurang belaian. Emangnya kamu mau seperti itu. "


"Apaasih mah nggak jelas, toh aku janda juga rasa perawan. "


Natasha terlihat malas saat berdebat dengan sang mama, ia kini pergi meninggalkan Sarah untuk menenangkan pikiran dan juga menyehatkan kedua telinganya agar tidak mendengar hal-hal yang membuat emosinya meluap-luap.


Sarah yang melihat kepergian anaknya, kini menggerutu kesal, " anak itu Kenapa susah sekali diatur."


Sarah mulai melangkahkan kaki mengikuti langkah anaknya yang semakin cepat," Natasha tunggu mama."


Natasha tak memperdulikan teriakan sang mama, iya terus berlari, untuk segera menghindar dan menjauh.


karena langkahnya yang terasa berat, Sarah tiba-tiba saja berhenti, dadanya naik turun. Karena sudah tak sanggup lagi mengejar Natasha.


" Anak itu benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya tak takut jadi janda."


Suara ponsel kini berbunyi, di mana Sarah melangkahkan kaki untuk segera duduk di atas sofa, iya ingin melihat siapa orang yang sudah mengirim pesan kepadanya.


"Mm, ternyata Perwira."


Sarah menyipitkan kedua matanya, ia tersenyum sini membaca sapaan dari Perwira, lelaki yang dulu sangat ia sukai.


Sampai Sarah dan juga Lorenza menjadi musuh hingga sekarang, karena seorang lelaki tampan yang terpopuler di sekolah, bernama Perwira.


"Bisa bisanya dia genit kepadaku, bukannya dulu dia selalu menghina aku karena aku ini jelek, tapi sekarang ya malah mengirim pesan dengan sapaan cantik. Dasar buaya. "


Sarah kini membalas pesan dari Perwira.


(Hey juga ganteng, kabarku baik. Kalau kamu sendiri.)


Pesan langsung terkirim pada Perwira, di mana lelaki itu dengan cepatnya mengetik untuk segera membalas pesan dari Sarah.


(Lagi apa, malam jalan yuk.)


Sarah terkejut membaca balasan dari Perwira, di mana lelaki itu ingin mengajaknya pergi.


" Sepertinya Perwira sudah bosan dengan Lorenza yang kini terlihat semakin tua, berbanding balik dengan Perwira. Dia semakin tua semakin terlihat tampan dan berkarisma."


Sarah terlihat bimbang, ia mencoba melihat layar ponselnya kembali. Jika ia pergi malam ini akan kah suaminya mencurigai dirinya, jika sampai Rudi mencurigai dirinya, bisa-bisa Sarah kehilangan mata uangnya, karena yang sudah membuat wajahnya cantik itu suaminya sendiri.

__ADS_1


Walaupun suaminya itu tua, tapi Sarah begitu senang, karena Rudi sudah mencukupi keinginannya, segala apapun yang ia inginkan selalu terpenuhi.


Hingga suara ponsel berbunyi, menandakan seseorang menelepon Sarah. Dengan sigapnya Sarah mengangkat panggilan telepon dari Rudi.


Padahal baru saja ia memikirkan Rudi, lelaki itu langsung menelepon.


"Halo papah."


"Sarah, sepertinya papah tidak akan pulang sekarang, masih ada pekerjaan yang harus Papa selesaikan, di luar kota, yang kebetulan Papa akan menginap di sana."


" Yang benar Pah, bukannya baru kemarin papa itu pergi ke luar kota, masa sekarang pergi lagi. Ingat loh pah, Mama ini sudah jarang disentuh oleh papa, sawah mama itu sudah gatal. apa Papa tidak kasihan sama mama."


Itulah rayuan maut yang terlontar dari mulut Sarah kepada suaminya, dengan harapan jika suami tidak mencurigai dirinya.


" Mama yang sabar ya, nanti kalau Papa sudah selesai mengerjakan pekerjaan di luar kota, Papa pasti garap kok sawah mama itu yang sudah kering kerontang tak ber air. "


Sarah tersenyum tipis, di mana Rudi kiriman transfer uang untuk kebutuhan sehari-hari istrinya.


"Oh ya sayang, transferan uang sudah Papa kirim ya. "


Mendengar Rudi mengatakan kata uang, membuat Sarah langsung membulatkan kedua mata.


Sarah dengan rasa senangnya langsung mengecek uang yang dikirim oleh Rudi, Nominal uang yang dikirim suaminya itu cukup lumayan.


"Ya ampun papah sayang, makasih. "


"Iya, mama. Sudah dulu ya, Papa mau kerja dulu, masih banyak pekerjaan Papa sekarang."


"Baik pah. "


Rudi langsung mematikan panggilan telepon, cara merasa bahagia dengan nominal uang yang dikirim oleh sang suami.


"Lumayan, buat ke salon."


Tiba-tiba saja Natasha menyodorkan tangannya di hadapan sang mama, " mah, minta duit dong. "


Sarah yang mendengar perkataan anaknya kini berbicara kesal," Natasha Kamu ini sudah mempunyai suami, jadi kamu nggak pantes minta duit sama mama. Seharusnya kamu ini sekarang meminta uang pada suamimu si Edwin."


"Ya elah, Mama ini gimana sih, kan sebentar lagi Natasha mau jadi janda. "


"Natasha, kamu itu baru dua hari menikah masa mau jadi janda?"

__ADS_1


__ADS_2