Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 27


__ADS_3

Sudah habis kesabaran Sarah, ia langsung mengusir pembantunya itu, " kamu bukan tipe pembantu yang harus saya kasihani. Jadi sekarang juga keluar dari rumah ini. "


Tegas Sarah membuat Iyem terkejut, bukannya tadi sang majikan menyuruhnya berkata jujur, agar Iyem tetap bekerja di rumahnya.


Namun sekarang Iyem malah diusir dengan cara tidak terhormat dijam malam. Pembantu itu mulai melangkahkan kaki mempelihatkan kedua mata berkaca kaca, bersujud pada kaki Sarah. " Nyonya jangan usir saya sekarang, saya takut kalau pulang malam."


Iyem terus saja memohon dengan harapan jika sang nyonya memaafkannya saat ini juga.


"Takut kenapa, Yem?" tanya Sarah, terlihat Iyem menggerakan kedua jari jemarinya. Badan yang tak mau berhenti, seperti cacing kepanasan.


Membuat Sarah jijik melihatnya.


"Nanti kalau ada hantu gimana!" jawab Iyem, tetap dengan tubuhnya yang ia gerakan terus menerus.


"Hantu. Jhahhaha, Yem, Yem. Yang ada hantu kalau liat kamu lari ketakutan, " katus Sarah, menatap tajam ke arah pembantunya itu.


Iyem terus memaikan jari jemarinya, menggerakan tubuh, terlihat ia tak terbiasa diam. Sarah penasaran dengan model pembantunya itu, " heh. Yem. Kamu itu dari tadi kaya cacing kepanasan. Tubuh kamu itu gerak sana sini. Kamu ini kenapa? Ambyen, atau karena permainan kamu dan suamiku terganggu. "


Semakin bentakan itu terlontar dari mulut sang majikan, semakin sakit hati Iyem bekerja di rumah yang begitu besar.


"Anu, nyonya. Bukan begitu, dari tadi saya kepengan buang air kecil, perasaan sudah nggak kuat," balas Iyem berusaha menegakan wajahnya.


"Ya sudah, saya tunggu kamu di sini. " balas Sarah, dimana Iyem berlari terbirit birit, merasa jika air kecingnya akan keluar saat itu juga.


Sampai di kamar mandi, Iyem terlihat begitu gelisah, ya memikirkan cara agar dirinya tidak keluar dari pekerjaan seorang pembantu


Kepergian Iyem, membuat Sarah mendekati suaminya, memegang baju yang hanya menyampai pada bahu sang suami.


"Bagaimana rasanya, saat mau keluar. Tiba tiba terhalang karena teriakanku pasti rasanya menyebalkan bukan?" tanya Sarah, mengelilingi tubuh suaminya. Sarah tak puas, terus-menerus ia menekan dan menyindir suaminya habis-habisan.


"Jadi ini balasan kamu menjadi suamiku, berselingkuh dengan pembantu, hah." Sarah menjambak rambut putih Rudi. benci terus menggebu-gebu dalam hati Sarah, karena melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat.


"Ahk, sakit ma. Ampun, " teriak Rudi, meringis kesakitan. benar-benar tak ada akun sedikitpun terlantar dari mulut Sarah.


Kedua tangan Sarah malah semakin menjambak rambut Rudi. " Sakit."


Dalam pikirannya sekarang Sarah ingin mencabuti semua rambut Rudi.

__ADS_1


"Sudah ma, ya. Sudah. Sakit. " Rengek Rudi seperti anak kecil.


Perlahan Sarah mulai melepaskan tangannya, ia duduk di ranjang tempat tidur Iyem. Melipatkan kedua tangan, Rudi masih berdiri dihadapannya.


"Dari tadi kamu diam saja, pah?" tanya Sarah, menatap terus menerus suaminya itu.


"Mama, sudah ya marahannya. Mamah hanya hilaf kok, papah janji nggak bakal ngulanginnya lagi!" jawab Rudi memohon mohon pada sang istri.


"Siapa yang marah, mama itu hanya kecewa pada papah. Karena papah sudah menghianati mama. " Sarah mulai berdiri, ia kini berhadapan dengan suaminya, saling menatap satu sama lain.


"Kemarin mama masih maafin papah, karena kesalahan papah itu, suka ngelubangin sabun, sekarang malah nyobain apem si Iyem terus menerus. "


Rudi mulai bersujud, dengan kedua tangan yang saling menempel. " Mama, please maafin papah, beri papah kesempatan. "


Sarah mengetuk ngetukan jari tangan pada pipi berulang kali, " gimana ya pah. Sepertinya mama tak bisa. "


Sarah pergi dari hadapan sang suami, ia kini berpapasan dengan Iyem. " Nyonya?"


"Oh ya Yem, cepat masukin barang kamu ke koper ya, saya tunggu di ruang tamu, mau sekalian bayar sisa gaji kamu, " ucap Sarah pada pembantunya itu.


Kepergian Sarah yang sudah jauh dari hadapan Iyem, membuat Rudi menarik tangan pembantunya itu.


"Yem, kita lanjut lagi, tanggung nih. "


ucap Rudi tak ada kapok kapoknya, padahal Sarah menunggu Iyem untuk segera menemuinya di ruang tamu.


Rudi kini melemparkan tubuh Iyem, dimana gaya ayam bakakak diperagakan oleh Iyem.


"Tuan ini kenapa, sudah tahu Iyem di usir, masih mau bermain ayam bekakak."


"Aduh Yem, kalau nggak keluar rasanya kepalaku pusing, " keluh Rudi, memegang kepalanya yang terasa berdenyut.


"Nggak mau Tuan, saya takut nanti malah di sembur Nyonyo Sarah, " balas Iyem, berusaha memberontak.


"Lima menit saja Yem, soalnya apem kamu hangat dan bau bunga melati. " Rayu Rudi, terus memaksa Iyem.


Sarah yang sudah pergi jauh, membuat Rudi beringas pada Iyem, seperti napsu tak terkendali. Memangsa Iyem habis habisna.

__ADS_1


"Tuan jangan. "


Namun di sisi lain, Sarah yang sudah menyadari hal itu, memukulkan sepatu hak tingginya pada kepala sang suami.


"Duh."


Membalikkan wajah, barkkkk. Satu kali pukulan langsung mengenai wajah Rudi, lelaki tua itu kini terdampar pada atas lantai.


"Memang ya kalian ini tidak tahu malu. " Bentak Sarah, Iyem berusaha menjelaskan semuanya.


"Nyonya jangan salah paham dulu, saya dipaksa oleh Tuan Rudi, padahal saya sudah menolak beberapa kali, " jelas Iyem.


"Bodoh, memangnya aku akan percaya dengan kata kata busukmu itu, kalau memang kamu dipaksa. Kenapa tidak berteriak? Menghajar telur suami saya?"


Pertanyaan Sarah benar-benar masuk akal, dimana Rudi terbangun dari pingsannya.


Dan Brakk. Tak segan segan Sarah, memukul kembali Rudi. Hingga lelaki itu jatuh pingsan lagi.


"Gimana, apa kamu mau seperti suami saya. "


Sarah merogoh saku celana, mengambil ponsel, menyuruh Iyem bersaksi dengan mengakui semuanya. Jika Iyem tidak mengakui semuanya, Sarah sudah berencana akan membuat Iyem sengsara dan kabar semua ini akan menyebar pada keluarga Iyem.


"Cepat katakan semuanya, jika tidak. "


Sarah yang memegang pisau, kini memperlihatkannya di hadapan Iyem, ia menggerak-gerakan pisau itu pada lehernya, memberi kode jika jika Iyem melalukan hal yang tidak akan di ampuni Sarah sama sekali.


Karena tekanan dari Sarah, akhirnya ia memberi kesaksian yang nyata tanpa ada rekayasa sedikitpun. Sarah yang Mendengar hal itu sangatlah puas, sebentar lagi akan melepaskan lelaki brengsek yang tak pernah menghargai dirinya.


Rudi kini bangkit kembali, dia berharap jika pembantunya itu tidak berkata jujur," hentikan Sarah, Jangan pukul aku terus-menerus, wajahku sudah babak belur seperti ini, apa kamu tidak tega dengan suamimu sendiri. "


"Tega, untuk apa aku harus tega dengan lelaki penghianat seperti kamu, harusnya lelaki tak berguna seperti kamu itu dibuang pada tempatnya, ya itu sampah. "


Sarah masih dengan posisinya yang berkacak pinggang, menatap tajam ke arah suaminya itu.


Rudi tak tahu besok menjadi masalah apa, saking kesalnya Sarah langsung memukul kembali suaminya itu.


"Mampus kamu. "

__ADS_1


__ADS_2