Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 40


__ADS_3

Sarah tampak gelisah, ia berusaha mencari cara agar dirinya bisa dekat dengan sang menantu.


Bolak balik kesana kemari, saat keadaan rumah sedang sepi.


"Bagaimana caranya, agar aku bisa membuat Edwin jatuh kepelukanku. Mm. " Melihat jam di dinding, membuat Sarah terkejut. Karena bel rumah tiba tiba berbunyi.


"Siapa yang datang, tumben sekali. Bukannya Natasha dan papah pulang selalu sore ya. " Hati Sarah bertanya tanya, dan kebetulan sekali di rumah pembantu sedang sibuk merapikan rumah.


Karena Sarah yang tak punya kegiatan, kini berjalan menuju ke pintu depan rumah.


Melihat siapa yang datang.


Perlahan membuka pintu, sosok Lorenza datang menyapa Sarah dengan melabaikan tangan.


"Hai, besan. Apa kabar?"


Pertanyaan Lorenza membuat Sarah menyunggingkan bibirnya," baik, tumben sekali anda datang ke rumah saya!?"


Lorenza tertawa kecil dengan menutup mulutnya.


"Owh ya, masa tamu tidak diizinkan masuk. "


Perkataan Lorenza membuat Sarah mendelik kesal, " ya ampun, anda mau masuk. Silahkan, saya menyambut anda dengan hormat. "


Sifat jail Sarah sudah terbayang bayang pada kepala Lorenza, membuat ia berusaha bersikap hati hati.


Lorenza perlahan masuk ke dalam rumah Sarah yang terlihat begitu megah, yakini dipersilakan untuk duduk di atas sofa yang terlihat begitu empuk.


Saat Lorenza duduk, tiba-tiba saja Sarah menekan sebuah tombol untuk membuat tamunya itu jatuh ke atas lantai.


Satu, dua, tiga.


Brakk ....


Entah sofa apa yang diduduki oleh Lorenza, sampai Lorenzo terpental jatuh ke atas lantai, Sarah yang melihat musuhnya berhasil ia jahili, membuat ia tersenyum manis dengan berkata dalam hati," sepertinya dia kesakitan. Mampus. "


Sarah mulai berjalan mendekat ke arah Lorenza, memberi bantuan kepada Ibunda Edwin itu," Apa anda baik-baik saja, saya lupa memberitahu anda jika sofa saya ini adalah sofa mahal. Jadi tidak sembarang orang bisa duduk di sofa mahal ini."


Sarah kini menyodorkan tangan kanan untuk segera membantu Lorenzo berdiri, sampai sodoran tangan itu ditepis oleh Lorenza begitu saja." Saya tidak perlu bantuan anda, saya masih bisa berdiri sendiri."


Sarah melipatkan kedua tangannya, Iya memajukan kedua bibir, menatap ke arah Lorenza yang berusaha berdiri dengan memegang pinggangnya yang mungkin terasa sakit.

__ADS_1


"Ahk, pinggangku. "


Ingin rasanya Sarah saat itu tertawa terbahak-bahak di hadapan besan sendiri.


Lorenza mulai melangkahkan kakinya menjauh dari hadapan Sarah, sampai di mana keduanya mendengar suara Edwin juga Natasha yang baru saja pulang.


Keduanya tanpa terlihat berdebat saat masuk ke dalam rumah.


"Awas aja ya lu, kalau ngadu sama mama. Gue potong tuh gigi depanlu biar kaya kakek kakek. "


Edwin memegang bibirnya, sedikit terkejut dan membalas. " tak masalah, aku juga bisa potong kacang kamu. "


Natasha mengerutkan dahi, megedipkan sebelah matanya, " bisa bisanya ya lu. Jorok. "


"Siapa yang jorok. Emang aku salah bicara ya. "


"Idih tadi lu itu bahas kacang, hah. Kacang apa coba hah. "


"Makanya cuci tuh otak, pake sambun pembersih wc, biar kerak hitam dan membandel hilang. "


Natasha memegang kepalanya setelah mendengar ucapan dari suaminya sendiri.


"Heh, memangnya otak gue tempat mempung tai."


"Kurang ajar. "


Sudah habis kesabaran yang dimiliki Natasha, ia kini mencekik leher suaminya sendiri.


"Kamu ya. Hah. "


"Ahkk, leherku. "


"Sesak napas sesak napas lu. "


Lorenza dan juga Sarah kini berlari menghampiri kedua anak-anaknya yang tengah, mereka berusaha memisahkan keduanya agar tidak bertengkar dan juga saling menyakiti.


"Mati kau. "


"Sarah, cepat kamu tahan Natasha agar tidak mencekik lagi anakku. Ayo cepat. "


Natasha seperti hilang kendali. Kedua matanya membulat memperlihatkan kekesalan yang begitu mendera.

__ADS_1


Sarah dengan sekuat tenaga melepaskan tangan anaknya yang mencekik Edwin, hingga di mana tangan itu terlepas dari leher Edwin.


Lelaki bergelar CEO anak satu-satunya Lorenza kini terjatuh ke atas lantai bersama dengan ibunya, sedangkan Sarah berusaha menyadarkan anaknya untuk tetap sadar dan tidak terkendalikan oleh emosi.


"Natasha kamu harusnya sadar. "


Mengusap kasar wajah, Natasha kini melihat ibunda mertuanya terlihat kesakitan. Iya sadar apa yang sudah ia lakukan adalah hal yang salah besar.


Edwin berusaha bangkit dari atas lantai, memegang lehernya yang terasa sakit akibat cekitan dari tangan istrinya sendiri.


Edwin mengingat sang ibu yang terjatuh saat menolongnya, " ibu. Apa ibu baik baik saja. "


Menyodorkan tangan untuk segera bangkit dari atas, dengan sekuat tenaga Edwin berusaha membantu ibunya sendiri untuk berdiri.


Wajah panik Edwin diperlihatkan di hadapan Lorenza, di mana kekhawatiran yang begitu berlebihan membuat sang ibunda selalu senang karena mendapatkan perhatian seorang anak.


"Ibu baik baik saja. "


"Syukurlah."


Natasha terlihat menundukkan pandangan, saat Lorenza melangkahkan kaki mendekat ke arah menantunya itu," Apa maksud kamu menyakiti Edwin, dia itu adalah suaminya. Bukan musuhmu. "


Sarah berusaha menenangkan anak angkat satu satunya, memegang kedua bahu Natasha, " Maaf sebelumnya Nyonya Lorenza, sepertinya anak saya melakukan semua itu hanya untuk melindungi dirinya, Edwin sepertinya melakukan kesalahan terhadap anak saya sampai anak saya berani kepada suaminya sendiri."


Lorenza tak terima dengan perkataan sang besan, ia melipatkan kedua tangan sembari mendelik kekal di hadapan Sarah.


" Seharusnya anda itu menegur anak anda sendiri, jika perlakuannya terhadap suami. Itu bukanlah hal yang baik. Anda juga sebagai seorang ibu + sebagai seorang wanita, harusnya bisa memberitahu mana yang benar dan mana yang salah. Bukan malah membela. "


Sarah terlihat tak suka jika dinasehati oleh Lorenza, ya kini meninggikan nada bicaranya.


"Jaga mulut anda, saya sebagai ibu dan juga seorang wanita, selalu menasehati anak saya sendiri dengan baik, harusnya anda intropeksi diri, jika yang salah itu bukan anak saya melainkan anak anda. "


Sarah seperti tas terima dengan kesalahannya sendiri, membuat Lorenza menggelengkan kepala. " Bisa-bisanya anda sebagai seorang ibu malah berkata seperti itu. "


Sarah terlihat tak menanggapi perkataan Lorenza, yakini mengajak anaknya untuk masuk ke dalam kamar." Ayo sayang sebaiknya kamu istirahat saja di dalam kamar. "


Lorenza kesal dengan Sarah, seharusnya dia tak memperbolehkan Natasha masuk ke dalam kamar, sebagai seorang ibu yang berada di dalam rumah bersama dengan anak- dan juga menantunya, Sarah harus bisa bersikap dewasa dan memahami situasi.


kepergian Natasha yang masuk ke dalam kamar dengan sang ibunda, membuat Lorenza kini menatap sayu ke arah anaknya. " Edwin Terima kasih kamu sudah menolong. "


Edwin yang begitu perhatian terhadap Ibunya sendiri, kini berucap, " Ibu kenapa ibu malah datang ke sini, tanpa memberitahu Edwin terlebih dahulu. Edwin kan jadi khawatir dengan keadaan ibu, takut jika Ibu kenapa-napa."

__ADS_1


Mengusap pelan kepala Edwin, Lorenza kini memeluk anaknya. " kamu memang anak terbaik ibu. "


__ADS_2