Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Bab 66


__ADS_3

Di dalam kamar, Natasha menutup pintu kamarnya, ia melihat wajah bete suaminya.


" Natasha?" tanya Edwin memberanikan diri, ia melihat Natasha seperti bidadari yang tak mengeluarkan sifat aslinya saat ini.


Natasha menatap ke arah suaminya, " kenapa?"


Edwin memberanikan diri untuk mengajak sang istri keluar dari rumah yang tengah ia tinggali saat ini.


"Apa kamu bersedia ikut denganku?" tanya Edwin, membuat Natasha terkejut, ia membulatkan kedua matanya, " kenapa memang dengan rumah ini!" jawaban Natsaha membuat Edwin sedikit bingung untuk menjelaskan semuanya.


"Kamu jangan marah ya, aku tidak bermaksud menjauhkan kamu dari keluargamu di sini, " ucap pelan Edwin dengan bersikap hati hati, takut jika perkataanya malah melukai hati sang istri.


"Maksud kamu apa, ngomong saja secara langsung, " balas Natasha, memberikan kesempatan untuk Edwin berbicara.


Edwin berusaha membuat suasana menjadi sedikit tenang, ia tak mau jika nanti perkataannya malah membuat Natasha terlihat tak suka.


"Sebenarnya, aku ingin kamu ikut denganku ke vila. " ucap Edwin, berharap jika Natasha menyetujui keinginanya saat ini.


Natasha berusaha memikirkan perkataan Edwin, yang dimana perkataan suaminya membuat ia bimbang.


"Jadi bagaimana, apa kamu mau Natasha? Sebenarnya aku tidak menekan kamu sama sekali, " Edwin berusaha meluluhkan hati dan pikiran Natasha agar wanitanya mau.


Natasha juga sempat berpikir hal itu, tapi ia malu pada suaminya. Karena memang dirinya yang masih bersikap barbar dan sok polos.


"Kamu mau kan?" tanya kembali Edwin, dengan harapan ia jika Natasha mau mengikuti keinginannya.


Natasha masih diam membisu, ia seakan enggan menjawab perkataan Edwin, perasanya tak karuan.


"Baiklah jika kamu belum bisa menjawab, aku akan tunggu jawaban kamu nanti. "


Natasha hanya menganggukkan kepala, mendengar jawaban dari suaminya.


Edwin kini membaringkan tubuhnya, terlihat ia kelelahan karena sudah mendapatkan kejutan yang kurang menyenangkan dari keluarga Natasha.

__ADS_1


Wanita itu kini turun dari tempat tidur, ia mulai membersihkan badannya, untuk segera memukai aktifitasnya di sore hari.


Keluar dari kamar tidur, Natasha melihat Putri berada di depan pintu kamar kedua orang tuanya. Ia kini bergegas mendekat ke arah Putri.


"Hem."


Mendengar suara batuk Natasha, membuat Putri membalikkan badannya.


"Eh, Kak Natasha?"


Menatap tajam kearah Putri, " sedang apa di sini."


Gadis berumur delapan belas tahun yang kini tinggal bersama Natasha membuat ia kadang geram, bisa bisanya sang papah membawa keponakan yang rese ini ke dalam rumah.


"Sudah mama dan sekarang gadis kecentilan ini, bisa bisanya Putri semakin besar semakin rese. " Gerutu Natasha di dalam hati.


"Kamu sedang apa di depan kamar orang tuaku?" tanya Natasha, dimana Putri hanya menundukkan pandangan, menggerakan jari tangannya yang terus beradu.


"Aku ....!"


"Ahk, tidak seperti itu kok, " timpal Putri, terlihat tak ingin disalahkan.


"Lalu apa, Putri jika kamu menjadi tamu di rumah ini, bisakan bersikap sopan, jangan seenak jidat nguping pembicaraan orang, " ketus Natasha terlihat tak sabar, sampai ia lancang meluapkan kekesalanya.


"Ahk, Kak Natasha bukan seperti itu, " balas Putri mempelihatkan kepolosannya, raut wajah itu seperti ingin dikasihani.


"Bukan seperti itu bagaimana, bukannya sudah jelas apa yang kamu lakukan itu tidak benar, katanya kamu lulusan sekolah luar negri tapi adab dan sopan satunmu, " ucap Natasha, sedikit menyindir keponakan papahnya agar sadar.


Putri terlihat tak terima dengan perkataan Natasha, ia melipatkan kedua tanganya, " jangan asal bicara. "


"Kenapa kamu kesal padaku, aku lebih kesal padamu, siapa yang suruh kamu mendobrak pintu kamarku, " tegur Natasha pada Putri.


"Kak, aku melakukan semua itu, karena aku kuatir sama kakak, takut jika Kak Edwin menyakiti kakak. Habisnya suara teriakan kakak membuat aku takut kakak kenapa kenapa, " ucap Putri menjelaskan semuanya dengan kepolosan yang tak pernah dipikirkan Natsha sebelumnya.

__ADS_1


"Aku tak mau mendengar alasan kamu lagi, jadi jangan mengarang cerita seperti anak sd ya, " pungkas Natasha, berusaha mengatakan apa yang ada dipikirannya sendiri.


"What, " Putri berusaha tetap tenang tak mempelihatkan kepanikannya, karena sebenarnya ia sangat malu pada dirinya sendiri karena mendobrak pintu kamar hanya karena rasa iri mendengar des*ahan dari kamar Natasha.


"Kenapa mau menimpal, jadi sudahlah tak ada pembelaan lagi untuk diri kamu sendiri, jika salah tetap salah jadi jangan paling sok benar, " Natasha berusah memberi peringatan, agar Putri tak mengulangi kesalahannya yang kedua kalinya.


Sedangkan di dalam kamar, kedua insan yang tengah memadu kasih, kini keluar dari kamar mereka masing masing, terlihat keduanya tampak heran," Natasha ada apa ini, kenapa kalian malah berkumpul di depan kamar papah dan mama. " Ucap Rudi membenarkan sarung yang ia pakai.


Putri melihat sang om yang berpenampilan seperti orang yang habis di sunat kini menarik sarung itu.


Natasha menjerit, dimana Putri hanya tertawa melihat sesuatu yang mengantung di sana.


Sarah berusaha menutup keperjakaan suaminya, kedua pipinya memerah melihat kejailan Putri.


"Putri, bisa bisanya kamu tidak sopan seperti ini. Sudah jelas tadi kamu mendobrak pintu kamar Natasha, dan sekarang. Ahk kamu benar benar stres. "


Sarah meluapkan semua hinaan yang menggundung pada hatinya, sampai dimana Natasha menimpal," iya Putri, kamu ini gila apa ya. Bisa bisanya melalukan hal yang sangat konyol. "


Putri malah tertawa terbahak bahak, dimana Sarah yang sudah geram kini memukul kepala keponakan suaminya itu.


"Heh, gila. "


Kini Putri diam membisu, ia merasakan rasa sakit yang ia rasakan sangatlah menyiksa membuat dirinya membulatkan kedua mata.


"Kalian ini enak enakan main di kamar kalian masing masing, sedangkan aku sendirian tanpa pasangan. Iri lah, heh menimal kalian hargailah aku sebagai tamu. "


Keluhan Putri membuat semua orang yang berada di sana saling menatap satu sama lain mereka tertawa terbahak bahak dan pastinya saling menggelengkan kepala. " Sadar kamu masih bocah, " ucap Natasha, membuat Putri memonyongkan bibirnya.


"Ya aku masih bocah, tapi setidaknya aku masih normal lah, jika mendengar suara kenikmatan dari kamar kalian, " balas Putri menerangkan isi hatinya saat ini.


Rudi lupa jika keponakannya itu sudah gadis, " ya maafkan tante sama om, ya namanya juga suami istri habis bertengkar ya akur lagi, kuda kudaan lagi, ya masa kita harus terus musuhan, kan nggak enak juga. "


Putri menyungingkan bibirnya ia kesal akan jawaban Rudi, yang membuat kepalanya berdenyut, " sudahlah, pusing Putri melihat keluarga yang sengklek ini. Lebih baik Putri tidur saja. "

__ADS_1


Natasha berteriak dan menjawab, " ya elah si Putri nggak sadar diri ya, jelas jelas dia juga agak stres. Bisa bisanya menyebut keluarga ini keluarga sengklek."


__ADS_2