
Pulang ke rumah, Natasha nampak tak senang. Hatinya terlihat begitu gelisah, bulak balik ke sana ke mari, karena memikirkan pernikahan yang tak diinginkannya.
Terlihat Sarah tampak santai, ia duduk di atas sofa dengan raut wajah senangnya.
" Mama ini ngapain coba pake acara berantem segala dengan istri dari CEO Perwira, memalukan sekali. " Gerutu Rudi, memarahi istrinya.
"Papah ini gimana sih, " bangkit dari tempat duduk, Sarah kini berkacak pinggang lalu membulatkan kedua mata." Papah, harusnya bersyukur dong, anak kita bisa kawin."
"Tapi tidak dengan cara mempermalukan diri mama sendiri, aduhh gimana sih." Gerutu Rudi kepada istrinya.
"Mempermalukan papah gimana, toh semua orang bertepuk tangan dan mengatakan kata selamat. " balas Sarah melebarkan tangan mempelihatkan keangkuhannya.
Menepuk jidat, Natasha kini pergi dari hadapan kedua orang tuanya.
"Natasha, kamu mau kemana? "
Natasha sekilas menatap kearah Sarah dan Rudi, mempelihatkan ketidak senangannya.
"Natasha. Kalau orang tua tanya itu jawab dong, jangan asal pergi begitu saja, hah. Memang kamu mau bibir kamu itu rapat nggak bisa terbuka. "
Sumpah serapah yang dikatakan sang mama membuat Natasha membalikkan badan." Ya mah, aku ngantuk sekali, kepengen tidur. "
"Mm, gitu dong ngomong. "
Menyunggingkan bibir, Natasha lalu pergi lagi dari hadapan kedua orang tuanya.
Rudi mulai melangkahkan kaki, " Papah mau kemana?"
Pertanyaan Sarah membuat Rudi kesal, " tidur lah mah, mau apa lagi. "
"Tidur dimana?" tanya Sarah melihat langkah kaki suaminya.
"Di kamarlah, masa diwc!" jawab Rudi bernada tinggi.
"Mm. Papah yakin. Masa mau tidur, langkah kaki papah malah pergi ke kamar Iyem," ucap Sarah, membuat Rudi tersenyum tipis.
"Oh ya, maaf sayang. Papah salah langkah, " balas lelaki tua itu, menggaruk rambut putihnya.
Sarah melipatkan kedua tangan, kesal dengan Rudi yang terlihat mengicar Iyem.
"Sialan, malam ini aku harusnya menemui Iyem segera mungkin, mengucapkan perpisahan besok. Tak lupa mencicipi kedua buah segar Iyem yang selalu terlihat keluar menggebul ketika memakai baju kurang bahan." Gumam hati Rudi, membayangkan seksinya tubuh pembantunya itu.
Sarah duduk kembali, merebahkan tubuh. Ia membayangkan bagaimana jadinya nanti jika dirinya menjadi besan dari musuh bubuyutan yang tak lain ialah Lorenza.
Tring, pesan datang.
__ADS_1
(Sarah, jika nanti anak kita menikah. Aku tak sudi memanggil kamu besan, karena sampai kapanpun kamu tetap musuhku.)
Melihat pesan dari Lorenza yang baru saja datang, membuat Sarah menggerutu, " idih, memang aku mau gitu besanan sama nenek peot seperti kamu. Ih malas sekali, kalau bukan karena Edwin dan Natasha melakukan hal tak pantas."
(Terserah kamu, yang terpenting. Anak kamu itu bertanggung jawab.)
Tak ada balasan lagi dari Lorenza, waktunya Sarah melangkahkan kaki menuju kamar sang suami.
Menggeliat badan merasa betapa melelahkannya setelah pulang dari pesta.
Masuk ke dalam kamar, lelaki tua yang menjadi suami Sarah ternyata sudah terlelap tidur, dengan mengeluarkan suara khas babi ngepetnya.
"Kebiasaan kalau tidur berisik. "
Sarah berjalan menuju kamar mandi, ia menatap ke arah cermin, wajahnya terlihat begitu fres apalagi tubuhnya terlihat kencang, tak ada penuan sama sekali.
"Mm, tak payah aku merawat tubuh dan wajahku."
Selesai membersihkan diri, Sarah mulai mengambil air minum, ia melihat ada sesuatu dalam air minumnya.
"Apa ya ini, " gumam hati Sarah, mencium bau minuman itu, Sarah kini menatap ke arah suaminya.
"Kenapa aku merasa curiga dengan minuman ini, " ucap sarah dalam hati, ia mulai membawa air minum itu keluar kamar.
Akhir akhir ini memang Sarah selalu tidur begitu nyenyak sampai ia kadang bangun kesiangan, entah karena apa.
Meletakan makanan dan air minum di atas meja. Sarah akhirnya tertidur di atas sofa, setelah ia selesai menyantap salad buah kesukaanya.
********
Di dalam kamar.
Rudi bangun, ia melihat istrinya tidak ada di sampingnya, lalu melihat ke atas meja, air yang sudah ia campurkan dengan obat tidur sudah tidak ada.
"Sepertinya Sarah sudah meminum air itu sampai habis, ahk, kesempatan yang sangat bagus untuk menggali lobang milik Iyem." Mengusap kasar kedua telapak tangan, lelaki tua itu merasa tak sabar ingin melakukan rutinitas malamnya bersama Iyem.
Rudi kini bangkit dari tempat tidur, membuka pintu kamar.
Ceklek. Perlahan, melihat situasi kesana kemari, Rudi sudah tak sabar, ia terus membayangkan body seperti pisang ambon milik pembantunya itu.
Rudi melihat siara tv menyala, ternyata istrinya tengah menonton hingga ketiduran. Rudi mulai melihat gelas yang sudah ia taburkan obat tidur berada di meja ruang tv.
"Wah, sepertinya istriku sudah meminum habis air yang aku taburkan obat tidur. "
Mendekat, Rudi berusaha mengecek melambai lambaikan tangan. Mencubit bahu dan perut sang istri. " Mama, bangun. "
__ADS_1
Dan ternyata Sarah tak bangun, " sepertinya dia sudah berada di alam mimpi, hah, baguslah, sekarang aku bisa menemui Iyem, memuaskan gelora asmara dalam benakku. "
Berdiri menyelimuti sang istri, " selamat tidur sayangku. "
Rudi terlihat kegirangan, ingin segera menemui pembantunya itu, karena saat ini malam terakhir Iyem tinggal di rumah.
"I come Iyem. "
Dengan senyum mengambang, Rudi berlari untuk segera menghampiri pembantunya itu. Tak sabar ingin mengulek ngulek semua yang dimiliki Iyem.
Sampai di pintu kamar pembantunya itu, Rudi perlahan mengetuk pintu.
Tok .... Tok ....
"Iyem."
"Oh Iyem sayang, buka pintu dong. Ini abang mau basahin sawah dan garap sawah kamu yang sudah kering itu. Hehe. "
Rudi terus mengetuk pintu kamar pembantunya, ia tak sabar, badannya terus menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Iyem oh Iyem, buka dong. Ular sanca mau masuk ke goa riba. "
Rudi terus menggoda Iyem, dengan harapan Iyem membuka pintu kamarnya.
Di dalam kamar.
Menguap, Iyem mendengar suara ketukan pintu. Menggaruk rambutnya yang menggembang bagai mak lampir, Iyem beranjak berdiri.
Menatap jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. " Seperti suara tuan. "
Perlahan membuka pintu. Lelaki tua itu langsung menerobos masuk begitu saja kedalam kamar. " Tuan Rudi, ngapain ke sini, bukannya kemarin ular sancanya baru masuk goa, masa sekarang mau di masukkin lagi, nanti mabok loh. "
Rudi mempelihatkan keperjakaannya, bahwa dia laki laki kuat, " ahk, kamu bisa saja. Namanya juga semakin tua semakin menjadi jadi. "
Iyem menutup mulutnya, mengoyang goyangkan kedua pinggang dengan tertawa pelan. " Iyem kira semakin tua semakin gila. "
"Apa yem. "
"Oh nggak kok, cuman bercanda aja. "
"Ayo Yem, saya sudah nggak kuat. Besok kan kamu mau pergi dari rumah ini, mana tahan saya kehilangan kamu di rumah ini. "
Memukul pelan bahu Rudi dengan memperlihatkan kecentilannya, " ahk tuan bisa aja, ngomong aja tuan, nggak puas dengan istri tuan sendiri. "
"Ahk, tuh itu kamu tahu, makananya ular sancaku lebih nyaman di terowongan kamu yang sepit menjepit. Aw. "
__ADS_1