
Lorenza membuka pintu kamar, ia melihat sosok Wina berdiri dibalik pintu kamarnya. " Wina, kamu?"
Senyuman lebar terlukis dari bibir tipis gadis itu, terlihat ia mengedipkan mata, dengan tangan yang memegang nampan. " Kopi sudah siap."
Lorenza heran kenapa bisa Wina yang membuatkan minuman untuknya, jelas jelas ia menyuruh pelayan lain. " Loh, kok kamu Wina? Padahal ibu sudah suruh pelayan lain. "
Wina tetap mempelihatkan keramahanya, di menjawab perkataan Lorenza tanpa gelisah sedikitpun.
" Ya kebetulan sekali, pelayan tadi ada urusan mendadak jadi Wina gantikan. "
"Oh."
Lorenza mulai mempersilahkan Wina masuk ke dalam kamar, dimana ia meletakan gelas berisi kopi itu di atas meja.
Lorenza masih belum sadar jika ponselnya terus berbunyi karena ponsel itu tertutup oleh bantal.
"Gimana keadaan tante sekarang?" pertanyaan Wina membuat Lorenza membalas dengan nada lembutnya, " lumanyan agak mendingan. "
Wina kini mendengarkan curhatan demi curhatan wanita tua yang ada dihadapannya, sampai ia melirik terus menerus kopi yang belum Lorenza minum.
"Kenapa lama sekali dia meminum kopi itu, " gumam hati Wina.
Wina hampir saja bosan mendengar cerita yang dibuat oleh Lorenza, sampai ia berucap, " kopinya belum di minum. "
"Oh iya, ibu sampai lupa. " Memegang gagang gelas, Lorenza kini dikagetkan dengan kedatangan pelayan villa yang tiba tiba saja mengetuk pintunya.
Lorenza menaruh gelas itu, membuat Wina geram, sampai ia mengepalkan kedua tangannya, " Masuk. "
Pelayan Villa itu masuk dan mempelihatkan senyuman dan keramahan. " Ada apa?"
Pelayan kini mendekat, dimana Wina yang masih duduk menatap sinis kearah pelayan itu, kesal dan geram karena menganggu rencananya.
"Ada surat dari perusahaan yang harus anda tanda tangani, " pelayan itu menyodorkan lembar kertas berwarna biru, dimana pelayan menunjukkan sebuah perkataan yang membuat Lorenza terkejut. "
(Nyonya harus hati hati, dengan minuman yang dibawa oleh Wina, karena minuman itu sudah ia masukan racun tikus.)
Deg ....
Sekilas Lorenza menatap ke arah wajah polos Wina, ia benar benar tak menyangka jika gadis yang berada dihadapannya sudah berniat jahat.
Lorenza kini berpura pura menandatangani berkas berwarna biru itu, dimana pelayan pergi. setelah kepergian para pelayan, waktunya Lorenza untuk menikmati kopi yang berada di hadapannya.
Wina tak sabar menantikan momen dimana Lorenza mati dihadapannya saat itu, dengan nekadnya Lorenza meminum kopi itu.
Wina yang menyaksikan, hanya tersenyum kecil. " Mm, sepertinya Lorenza meminum kopi itu. "
__ADS_1
Menaruh gelas, Lorenza tiba tiba mengusap pelan tenggorokannya, " mm. Kenapa berasa kering begini. "
Wina hanya bersikap santai, ia terlihat tak peduli. Sedangkan Lorenza tiba tiba terjatuh ke atas lantai dengan memegang tenggorokkannya yang terasa sakit.
Ia kini memegang meja, meminta pertolongan pada Wina, berharap jika wanita yang ada dihadapannya menolongnya saat itu juga.
"Tolong."
Wina hanya diam dengan posisi duduk, sampai dimana Lorenza memegang betisnya. " Tolong saya, apa kamu bisa menolong saya saat ini. "
Wina malah menghempaskan tangan Lorenza yang memegang betis kaki, " ahk, sakit. Tolong saya Wina. "
Gadis itu berdiri dengan melipatkan kedua tangan. " Mampus kamu, sebentar lagi kamu akan menemui ajalmu. "
"Wina, kenapa dengan kamu."
"Kamu masih bilang kenapa, Ibu Lorenza. Aku begini karena anak kamu sendiri. "
Lorenza meringis kesakitan, ia berusaha meminta toong terus menerus pada Wina.
"Perlahan demi perlahan karir dan kebahagian kalian sirna di depan mataku, lihat saja nanti. Sepertinya akan lucu dan tentunya seru. "
Wina masih berdiri, menyaksikan kematian Lorenza perlahan demi perlahan, hingga wanita tua itu tak bersuara lagi.
"Lorenza, apa kamu sudah mati?" pertanyaan Wina membuat Lorenza tak bersuara lagi.
Ia tertawa terbahak bahak, " sepertinya dia sudah mati, bagus lah karena itu yang kuharapkan sekarang. "
Wina bangkit dan bergegas pergi, berpura pura meminta tolong, sampai dimana langkah kakinya terhenti.
"Mau pergi kemana kamu?"
Membalikkan badan Wina menatap ke arah Lorenza yang ternyata masih hidup. " Kamu. "
Lorenza tersenyum dengan tangan yang memegang betis Wina, " kenapa, kamu terkejut melihat aku yang masih hidup setelah meminum kopi yang kamu kasih racun itu. "
Wina menelan ludah, berusaha memikirkan cara untuk menghabisi Lorenza saat itu juga, ke sana kemari mencari barang yang mampu menghancurkan kepala wanita tua itu.
Sampai akhirnya, Wina menemukan sebuah tongkat besi, di mana tongkat itu tak jauh dari hadapannya. Melepaskan tangan Lorenza yang begitu kuat memegang betisnya, " lepaskan kakiku . "
Lorenza berusaha menahan kaki Wina agar tak bergerak, sampai dimana Wina memukul tangan Lorenza dengan tangannya agar lepas dari betisnya.
Lorenza akhirnya bisa bebas, ia berjalan dengan begitu cepat, berlari untuk mengambil tongkat besi yang tak jauh dari hadapannya.
Berjalan dengan langkah yang begitu cepat, akhirnya Wina bisa meraih tongkat besi itu.
__ADS_1
Ia berniat memukulkan tongkat besi itu pada kepala Lorenza, " siap siap, kamu akan mati saat ini juga. "
Tongkat besi yang sudah siap, mulai diangkat oleh Wina. " Mati kamu. "
Namun aksinya itu langsung dihentikan oleh Edwin dan juga Natasha. Keduanya berlari, mengambil tongkat dan memukul pinggang Wina. Hingga gadis itu tersungkur jatuh ke atas lantai.
"Kalian." Wina terkejut dengan kedatangan Edwin dan Natasha, dimana keduanya berusaha membangunkan sang ibunda.
"Ayo bu bangun. "
Wina yang terlihat kesakitan kini berusaha bangun dengan memegang pinggangnya.
"Ahk, pinggangku. "
"Wina, baru saja aku datang bersama ibuku ke Villa ini, kamu sudah merencanakan hal yang jahat kepada kami. "
Wina malah tertawa mendengar kekesalan Edwin dilayangkan dihadapannya.
" Siapa suruh kamu lemah dan masuk ke dalam jebakan, pada akhirnya kalian akan hidup sengsara setelah suruhanku memperlihatkan sesuatu yang menarik dan akan dipertontonkan oleh publik. "
Lorenza merasa heran dengan perkataan Wina yang terlihat begitu percaya diri," pertontonan apa maksud kamu?"
" Sudahlah kalau sudah tua. Jangan banyak!"
Edwin kesal mendengar nada bicara Wina yang tak sopan itu, " berani kamu mengatakan hal yang tak sopan di hadapan Ibuku sendiri. "
Natasha mulai menyuruh Asep untuk masuk ke dalam kamar Lorenza.
"Asep, sini."
Wina mendengar Natasha menyebut nama Asep membuat ia mengerutkan dahinya, Asep masuk ke dalam kamar dengan tangan dan juga mulut yang dilakban. " Kamu kenal dia siapa?"
Membulatkan kedua mata Wina tak percaya dengan apa yang ia lihat, " Asep, Kenapa kamu bersama dengan Edwin dan juga Natasha? Bukannya .... "
Asep memotong pembicaraan Wina dengan menangis terisak-isak, di mana Natasha melepaskan lakban yang menempel pada mulut lelaki berjanggut itu.
" Maafkan saya bos, saya gagal. "
"Apa." Wina tak menyangka dengan hal yang diperlihatkan oleh Edwin di depan matanya.
"Bodoh, bisa-bisanya kamu gagal seperti ini."
Wina terlihat gelisah, iya tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Berusaha kabur, namun ....
__ADS_1