Wanita Barbar Milik Ceo

Wanita Barbar Milik Ceo
Tak percaya.


__ADS_3

"Ini semua hanya mimpi kan? Mami, bangun. " Dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi, " Mami ini papih, bangunlah."


Natasha mulai memegang punggung ayah mertuanya, namun Perwira menangis sekencang mungkin. " Mami bangun."


Membuat Natasha mengurungkan niatnya, menenangkan sang ayah mertua. Ia hanya menundukkan wajah, menunggu keajaiban datang dimana Lorenza sadarkan diri. 


"Papih hey, kenapa menangis. "


Mendengar suara itu, membuat Perwira mengangkat kepalanya, melihat ke arah Lorenza. 


"Mami sadar. " 


Senyuman dari Lorenza membuat perwira mengusap air matanya. " Mam, ini papih."


"Iya papi, mami tahu.  Cepat lap tuh ingus, kaya anak sd aja nangis keluar ingus. "


Perwira mencoba mengusap ingus yang keluar dari hidungnya. 


"Iww, jorok. "


Perwira tertawa terbahak bahak, dimana ia memeluk istrinya. 


"Ahk."


Melepaskan pelukan sang istri, Perwira kini berucap," Maafkan papi mami, saking senangnya melihat mami sadar. "


"Itu ingus masih berleberan kemana mana?"


Perwira merogoh cermin kecil pada saku celana. Melihat wajahnya, apa masih ada ingus yang menempel.  Dan benar saja, sekalian dengan kotoran hidung. 


"Idih, kok ada kotoran segede batu kerikil ya. " Gumam hati Natasha, bergidik ngeri. 


Perwira sekilas menatap kearah Natasha dan tersenyum kecil, menahan rasa malu. 


"Hehe, kenapa menantu. "


Natasha semakin dikejutkan dengan pemandangan daging sapi yang menempel pada gigi ayah mertuanya. 


"Asazimm. Itu apaan Dad, nempel di gigi?"


Pertanyaan Natasha membuat sang mertua melihat giginya di cermin. 


"Ya ampun Natasha, ini tuh daging sapi sisa lebaran. Hehe, kirain nggak nempel di gigi!"


Mendengar jawaban dari sang ayah mertua, Natasha menggelengkan kepala, melihat Perwira yang super duper jorok. 


"Papih, udah kakek kakek juga masa nggak bisa ngerawat diri. Gimana kalau mami sudah tidak ada di dunia ini lagi, siapa nanti yang gosok punggung papi pake batu biar dakinya hilang. "


"Aduhh, mami, jangan bilang mami mau mati ya, papi ini belum siap ditinggal mami. Papi masih butuh mami, buat nyabutin bulu di batang papi ini. "

__ADS_1


Obrolan sudah mulai tak karuan, membuat Natasha menggaruk belakang kepalanya. 


"Mommy, Natasha mau tanya sama mommy?"


Natasha berusaha memberanikan diri bertanya, dia berharap jika pertanyaannya dijawab dengan baik oleh sang ibu mertua. 


"Kamu mau tanya apa menantuku?"


Lorenza berusaha memperlihatkan raut wajah bahagianya, ia berharap jika Natasha tidak kecewa dengan dirinya yang tak memberitahu dari awal jika Lorenza menjadi seorang pendonor. 


"Mommy kenapa tidak terus terang kepada kami, jika mommy jadi seorang pendonor?"


Lorenza berusaha tetap santai menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh menantunya. 


"Maafkan mommy, sebenarnya mommy tidak bermaksud membohongi kalian, mommy melakukan semua ini semata mata ingin melihat Edwin bahagia. "


"Membuat Edwin bahagia, dengan membuat mommy jadi menderita?"


Lorenza berharap sekali jika Natasha mengerti, tapi ternyata Natasha tak jauh berbeda dengan anaknya Edwin. 


" Natasha, mommy tidak menderita, mommy bahagia. Kamu harus tahu, letak kebahagian seorang ibu yaitu, membuat anaknya bahagia dan jauh dari penderitaan. "


"Tapi mom, tidak dengan menyiksa diri mommy sendiri hanya karena ingin melihat Edwin menderita. "


Lorenza tersenyum tipis dan menjelaskan semuanya."Mommy tidak menderita dan mommy tidak tersiksa. kan mommy sudah tegaskan sama kamu."


"Lorenza saya bawa dulu Natasha, ada hal  penting  yang akan saya obrolkan dengan anak saya. "


"Baiklah"


Menyered tubuh Natasha, lalu membawa anaknya pergi dari ruangan Lorenza.


"Mama."


Sarah kini menutup mulut anaknya dengan jadi tangan, lalu berkata," sudah cukup. Jangan buat pertanyaan seperti itu lagi pada mertuamu. "


"Tapi kenapa mah, Natasha hanya ingin mendengar jawaban yang sesungguhnya dari mulut Mommy Lorenza. "


Sarah menarik napasnya perlahan, berusaha memberi nasehat baik untuk anaknya.


"Kamu dengarkan apa yang mama katakan sekarang ya, jangan membantah oke. "


Pada akhirnya Natasha menurut, ia menganggukkan kepala menutup mulutnya agar tak bersuara.


"Oke, mama akan jelaskan saat ini pada kamu, mama berharap kamu mengerti, tolong dengarkan ini baik baik. "


"Baik mama. "


"Natasha kamu lihat keadaan mertua kamu?"

__ADS_1


Natasha menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. 


"Mama mertua kamu sedang tidak baik baik saja, kamu lihat tubuhnya terlihat lemas. Jangan kamu berikan pertanyaan pertanyaan yang malah membuat mertua kamu tertekan dong Sayang, mama takut jika nantinya Mamah mertua kamu itu merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan, pengorbanannya itu merasa tidak dihargai oleh kalian berdua. "


Natasha yang mendengar nasehat dari sang mama, kini melirik ke arah Ibu mertuanya. " benar juga apa yang dikatakan mama, aku terlalu menekan dan juga memaksa Mommy untuk berkata jujur. " gumam hati Natasha merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan kepada sang ibu mertua. 


Karena sejatinya orang yang sedang sakit hanyalah membutuhkan sebuah dukungan dan juga kata semangat, bukan sebuah pertanyaan yang malah membuat tubuhnya menjadi lemah dan hilangnya kata semangat untuk sehat kembali. 


"Natasha, kamu dengar tidak perkataan mama?"


Lamunan Natasha kini membuyar, setelah sang Mamah memukul bahunya. " Kenapa mah?"


Sarah menggelengkan kepala melihat anaknya yang malah bertanya, " dari tadi itu kamu dengar tidak perkataan mama?"


Natasha malah menggaruk belakang kepalanya, " Hehe, dengar kok mah."


"Mm, apa yang mama katakan tadi?"


"Ee, lupa!"


Sarah kini berkacak pinggang di depan anaknya, " Natasha, kebiasaan kamu ini ya. "


Tangan Sarah mulai menjewer telinga kanan milik Natasha, di mana Natasha meringis kesakitan.


"Aduhh, mah, sakit. Jangan dijewer," ucap Natasha memohon-mohon kepada ibunya sendiri.


"Siapa suruh. Kamu tidak mendengarkan perkataan Mama kamu ini yang panjang lebar dari tadi, menjelaskan dan juga memberi nasehat kepada kamu?"


"Ya mah, habisnya terlalu kepanjangan, jadinya Natasha kurang menyerap perkataan mama!"


Orang orang yang berada di rumah sakit, ingin menatap satu sama lain ke arah Natasha yang tengah dimarahi oleh ibunya sendiri.


"Mah lihat deh, banyak orang yang melihat kita, jadi please, lepaskan tangan Mama ini yang menjawab telinga Natasha, sakit mah. "


" Mama tidak peduli, jika orang-orang melihat ke arah kita. "


"Mama tidak malu apa?"


"Tidak!"


Kedua pipi Natasha memerah, ia benar benar malu sekali saat ini. " Ya ampun mama, Natasha ini bukan anak kecil lagi, jadi tolonglah lepaskan tangan Mama yang menjewer telinga Natasha. "


" Mama akan melepaskan tangan mama, setelah kamu meminta maaf dengan bersujud pada kedua kaki Mama ini. "


"Ya ampun mah, sampai sebegitunya, ayo lah ma jangan bikin aku malu di rumah sakit ini. "


"Mama tidak membuat kamu malu, tapi mama memberi kamu pelajaran agar kamu selalu mendengarkan nasehat dari mama. "


"Natasha janji akan selalu. Mendengarkan nasehat Mama dengan baik, Natasha tidak akan melawan ataupun membantah nasehat mama."

__ADS_1


__ADS_2