
"Daddy ayo jawab?"
baru saja serius membahas tentang perwira yang terlihat menyimpan rahasia, tiba-tiba saja Sarah dan juga Rudi datang mengejutkan mereka berdua yang berada di ruangan Edwin.
keduanya malah tersenyum lalu menyapa menantunya yang masih terbaring di ranjang tempat tidur." Apa kabar Edwin. Bagaimana keadaan kamu sekarang?"
"keadaan Edwin baik-baik saja, Mama. Oh ya bagaimana keadaan Mama sekarang, apa tidak ada luka serius yang Mama alami saat kecelakaan bersama dengan papa!?" Mendengar sebuah pertanyaan dari sang menantu, membuat Sarah menatap ke arah suaminya, ia menyenggol lengan Rudi, membuat Rudi tersenyum lebar dan hanya bisa diam.
"Kamu jangan kuatir masalah kecelakaan mama dan papa, kami berdua baik baik saja, hanya luka lecet, " balas Sarah, terlihat kesal pada suaminya yang hanya diam tanpa menjawab.
"Oh syukurlah kalau begitu, Edwin takut kalian kenapa-napa," ucap Edwin, mempelihatkan rasa kuatirnya.
"kami berdua itu tahan banting. Jadi kamu Edwin jangan khawatir kan kami, " timpal Rudi, menjawab perkataan menantunya.
Ini kesempatan yang bagus untuk Perwira pergi dari ruangan anaknya, di saat Sarah dan juga Rudi mengajak mengobrol anaknya, perlahan demi perlahan berjalan keluar ruangan Edwin.
Perwira mengusap pelan dadanya dan bernapas lega, ia bisa kabur dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh anaknya." Akhirnya aku bisa keluar juga dari ruangan Edwin. "
Perwira kini melangkahkan kakinya dengan begitu cepat untuk segera menemui sang istri yang berada di ruangan operasi.
"Mudah mudahan operasinya berjalan lancar, aku ingin melihat istriku bahagia. "
Setelah sampai di pintu ruangan operasi, Perwira tak sadar jika sang menantu sudah mengikuti langkah kakinya, di mana Natasha mengintip di balik tembok.
" Sedang apa Daddy di ruangan operasi?" pertanyaan mulai mengelilingi pikiran Natasha, setelah melihat sang ayah mertua yang berdiri di depan pintu ruangan operasi.
Natasha berdiri menunggu seseorang keluar dari ruangan operasi. Iya berharap jika tidak ada masalah terjadi pada ibu mertuanya.
Setelah ruangan operasi itu terbuka, betapa terkejutnya Natasha melihat suster dan juga para perawat keluar dari ruangan operasi itu membawa sang ibu mertua.
"Mommy, kenapa ada di ruang operasi?"
Natasha membulatkan mulutnya, berusaha menutupnya dengan telapak tangan.
Natasha begitu penasaran sekali, ia ingin menghampiri sang ayah mertua, namun langkahnya tak kuasa.
Sampai Perwira menyadari kehadiran Natasha yang sedang bersembunyi di balik tembok.
Natasha membalikkan badan ia berharap jika sang ayah mertua tidak mengetahui keberadaannya, " mudah mudahan saja Daddy tidak menyadari keberadaanku saat ini. "
Natasha kini pergi, ya tak mau jika Perwira menghampirinya. Ketika langkah kakinya melangkah untuk segera pergi dari persembunyian, Perwira langsung saja memanggil sang menantu. " Natasha. "
"Natasha."
Langkah Natasha tiba-tiba saja terhenti, membuat iya menghentikan langkah kakinya.
"Natasha, tunggu. Jangan pergi. "
Padahal Natasha ingin pergi lagi dari hadapan sang ayah mertua. Namun karena langkah kaki lelaki tua itu begitu cepat, membuat Ia hanya bisa berdiri dan menunggu pertanyaan-pertanyaan dari ayah mertuanya itu.
"Natasha." memegang bahu Natasha membuat wanita muda itu membalikkan badan.
"Natasha."
Panggilan nama itu dilayangkan lagi oleh sang ayah mertua, Natasha kini menundukkan pandangan," Iya Daddy, ada apa?"
__ADS_1
Perwira mulai mengatakan yang sebenarnya, " Padahal tadinya, Daddy ingin merahasiakan tentang operasi mommy kamu, tapi karena kamu mengetahui semua ini, jadi operasi tentang mommy kamu bukanlah sebuah rahasia lagi. "
Natasha mengerutkan dahinya. Iya juga tak tahu operasi apa yang sedang dijalankam oleh ibu mertuanya, sampai operasi itu harus dirahasiakan segala.
Karena rasa penasaran yang terus menggebu-gebu dalam hati Natasha, pada akhirnya ia bertanya pada sang ayah mertua," Sebenarnya menjalankan operasi apa Dad, sampai harus dirahasiakan segala."
Lelaki tua yang bernama Perwira itu tersenyum lebar, " biar nanti saja Daddy ceritakan. "
Natasha yang mendengar jawaban itu hanya bisa pasrah dan menunggu jawaban dari ayah mertuanya, ia berharap sekali jika jawabannya itu adalah hal yang sangat membahagiakan bagi dirinya dan juga Edwin.
" kalau begitu kita temui mom di ruangannya," ajak Perwira pada sang menantu.
Pada akhirnya Natasha hanya menganggukkan kepala, menuruti perkataan sang papa. Mengikuti langkah kaki lelaki tua itu masuk ke dalam ruangan.
Terlihat di dalam ruangan itu sang mommy belum sadarkan diri, iya masih menutup kedua matanya.
"Mommy."
kedua mata Natasha berkaca-kaca, " Mommy, ini Natasha. "
Wanita tua yang baru saja menjalankan operasi tak mengeluarkan suara sedikit, Natasha sangat berharap sekali jika Ibu mertuanya itu dapat mendengar perkataannya.
"Kita bedoa saja agar mommy bisa cepat sadar. "
Natasha hanya mengganggukan kepala tak terasa air matanya menetes, iya berusaha menyekah air matanya itu, agar tak menetes mengenai sang ibu mertua yang terbaring lemah di ranjang tempat tidur.
"Mommy, aku berharap sekali mommy cepat sadar." Gumam hati Natasha. Mengusap jidat kepala sang mommy.
Sampai beberapa saat kemudian, wanita tua itu membuka kedua matanya, " Na-ta-sha. "
Suara sang ibu mertua membuat Natasha terkejut, "mommy bangun, akhirnya. "
"Lorenza, kamu bangun."
Lorenza berusaha tersenyum, dimana Perwira berkata, " kamu jangan dulu banyak bicara dan juga gerak. "
"Natasha, kamu jaga dulu Mommy ya. Daddy mau pergi ke ruangan Edwin. "
"Iya, Dad. "
Setelah kepergian Perwira, Natasha tersenyum lebar dihadapan ibu mertuanya, " terima kasih untuk semuanya mommy. "
Lorenza berusaha menggerakan tangannya, memegang pipi Natasha, " semua sudah direncanakan oleh sang maha kuasa, kamu jangan berterima kasih terus pada mommy. "
Natasha menitihkan lagi air mata, ia tak menyangka jika saat ini kehidupannya berubah menjadi bahagia lagi, setelah hujan turun ada matahari menyinari.
"Sudah jangan menangis, kita akan bersama sama lagi, berkumpul. Mommy, akan merasakan bagaimana rasanya mempunyai seorang cucu. "
Tangan sang ibu mertua kini perlahan memegang perut Natasha, " gimana kabarnya cucu mommy ini. "
Natasha tersenyum lebar ia mengusap air matanya, merasa bahagia. Dengan sentuhan tangan sang mommy.
"Pada akhirnya kita akan berkumpul lagi bersama sama. "
Perwira datang ke ruangan Edwin, terlihat jika Edwin tampak bete dengan obrolan kedua mertuanya.
__ADS_1
"Edwin, mommy ingin bertemu dengan kamu."
Mendengar perkataan dari sang ayah, membuat Edwin terkejut dan ia kini berpikir negatip akan keadaan sang ibunda.
"Apa terjadi sesuatu dengan mommy?" Edwin hanya menundukkan pandangan seakan tak kuasa, jika harus bertemu dengan sang ibunda yang rela jadi pendonor.
"Edwin?"
"Iya Dad, kenapa?"
"Sekarang kita ke ruangan mommy, ada sesuatu yang ingin mommy katakan pada kamu!"
Perkataan yang dikatakan sang ayah, membuat Edwin tak bersemangat, " sesuatu? Sepertinya Edwin tak sanggup jika harus bertemu degan mommy. "
Deg ....
Kenapa Edwin berkata seperti itu, padahal Perwira ingin mengatakan sesuatu yang membahagiakan bagi Edwin sendiri.
"Edwin kenapa?"
Edwin mengira jika tidak bertemu dengan sang mommy akan menghilangkan kesedihannya, karena menjadi seorang pendonor bukanlah waktu yang lama untuk bertahan hidup.
Lorenza akan merasakan rasa sakit terus menerus
"Edwin tidak mau melihat mommy menderita, biar Edwin jauh dari mommy. "
Perwira tahu jika Edwin masih kesal dengan sang mommy, " buang egomu itu, Edwin. "
"Tidak segampang itu Dad, mommy tidak pernah mendengarkan perkataanku, saat aku menyuruhnya untuk tidak jadi seorang pendonor. "
"Daddy, tahu itu, tapi alangkah baiknya kamu menghargai usaha mommy kamu untuk membuat kamu bahagia. "
"Bukan bahagia yang aku dapatkan sekarang, tapi penderitaan dan rasa sesal karena mommy mengorbankan hidupnya sia sia demi Edwin. "
Perwira mendekat, menasehati anak satu satunya itu, " Edwin, sekarang mommy sudah mendapatkan pendonor dan mommy baru saja melakukan operasi yang kedua kalinya. "
Terkejut setelah mendengar hal itu, Edwin masih tak percaya, ia menatap ke arah sang ayah. " Aku tahu, daddy berbohong agar aku tidak membuat sutu kebencian pada Mommy. "
"Daddy tidak berbohong, Daddy mengatakan semuanya dengan kejujuran. "
Edwin berusaha menenangkan diri, ia belum yakin, sampai, dimana Perwira berkata lagi, " kita akan berkumpul bersama sama lagi. Tak akan ada rasa kehilangan. "
"Percaya pada Daddy. "
Sarah dan Rudi yang baru saja mengetahui hal itu, tersenyum lebar dan berkata, " syukurlah, Lorenza mendapatkan kebaikan dari apa yang ia lakukan untuk Edwin."
Edwin menatap ke arah kedua mertuanya, di mana mereka menyuruh Edwin untuk segera bertemu dengan sang ibunda yang menunggu kehadirannya.
" tunggu apa lagi Edwin, ketemui Mommy kamu yang sudah berjuang demi kamu bahagia."
Edwin memperlihatkan ketidakpercayaannya sampai ia bertanya lagi pada lelaki tua yang menjadi ayahnya, " Daddy tidak sedang berbohong kan?"
" Daddy tidak berbohong, apapun yang dikatakan Daddy adalah sebuah kejujuran, dan untuk apa Daddy membohongi kamu yang akan nantinya malah membuat kamu terluka dan kecewa lagi. "
" kalau begitu Edwin sekarang mau bertemu dengan Mommy. "
__ADS_1
Perwira memperlihatkan sebuah senyuman, ia dengan begitu semangatnya membawa aku untuk segera menemui Lorenza yang sangat berharap sekali untuk bisa memeluk anak semata wayangnya.
Edwin mulai dibantu untuk bisa duduk di atas kursi roda, perlahan demi perlahan Perlahan sampai pada akhirnya Edwin bisa duduk.