
"Apa yang harus aku lakukan, jika aku datang ke sana, bisa bisa pembahasan kuda kudaan terlontar lagi dari mulut para orang tua itu, " gerutu Natasha tampak kebingungan. Ia menggaruk belakang kepala yang tak terasa gatal dengan berjalan ke sana kemari.
Wanita bermata bulat dengan bibir terbalnya, menarik napas, mengeluarkan rasa takut dan keresahan pada hatinya." Sebaiknya aku pergi dari sini. Kalau aku pergi dari sini, kemungkinan besar membahas kuda kudaan itu tak terjadi."
Baru saja kaki mulai berlari menuju ke luar gedung, tiba tiba tangan Rudi mencekram tangan kanan Natasha.
"Aduh, papah ini kenapa. Lepaskan pah, Natasha mau pulang. "
Rengek Natasha berusaha melepaskan cengkraman tangan sang papah.
"Natasha, mama kamu lagi berantem, masa kamu pulang, cepat bantuin papah untuk menenangkan mama kamu, " printah sang papah pada anaknya. Dengan harapan jika pertengkaran itu berakhir saat Rudi datang.
"Nggak mau pah, " tolak Natasha, dimana Rudi terus menarik paksa anaknya. Dengan sekuat tenaga menahan tarikan sang papah dengan memeluk tiang.
Pertengkaran terdengar kembali.
"Sarah, kenapa kamu selalu menghina wajahku, hah. Bukannya wajah awet muda kamu itu bekas persugihan babi ngepet. " Hardik Lorenza, seakan tak mau kalah dengan Sarah, musuh bebuyutannya diwaktu kecil.
"Hey, nenek lampir, jaga ucapan kamu." Balas Sarah tak terima dengan hinaan Lorenza. Yang mengatakan bahwa Sarah mengandalkan kecantikan dengan persugihan.
Mereka kini saling menjambak satu sama lain, amarah keduanya meluap lupa, membuat Rudi yang baru saja datang menghampiri keduanya, sedikit kewalahan menghentikkan keduanya. " HENTIKAN. "
Teriakan Rudi ternyata membuat keduanya berhenti sejenak, mereka malah menatap sekilas ke arah Rudi, lalu melayangkan aksi mereka kembali.
Sedangkan Natasha berusaha menutup wajah dengan kedua tangannya, agar Lorenza ibunda Edwin tak mengenali dirinya sama sekali. Karena jika itu terjadi, akan ada mala pertaka bagi Natasha.
Hingga beberapa menit kemudian, Perwira datang bersama Edwin. Keduanya berusaha menghentikan aksi jambak saling menjabak itu.
"Mommy, stop. Jangan buat Papi malu. "
Perwira berusaha menghentikan sang istri dengan sekuat tenaga yang ia punya.
"Tidak bisa pih, mommy harus beri pelajaran kepada Sarah, wanita yang gampang menghina ini. "
Kedua rambut wanita itu berantakan dan terlihat mengembang, karena aksi saling jambak.
"Mamah, sebaiknya kita pulang saja ya. Papah malu lihat kelakuan mama seperti ini, " ucap Rudi, memegang kedua tangan sang istri dari belakang.
Natasha berusaha menghindar ketika suasana mencekram." Aku harus cepat cepat pergi dari sini."
__ADS_1
Namun tanpa di duga, Sarah menatap ke arah Edwin. " Hey, tunggu. "
Sontak Edwin terkejut dengan telunjuk tangan Sarah yang menunjuk pada wajahnya. " Kamu Edwin kan?"
Lorenza seketika menghempaskan tangan kanan Sarah, " jangan berani kamu menunjuk nunjuk anak saya."
Karena rasa kesal yang menggebu, Sarah berusaha menendang perut suaminya hingga tangan dan tubuhnya terlepas dari cengkraman sang suami.
"Aduhhh."
"Bukannya kamu yang kemarin datang ke rumah, ingin bertanggung jawab kepada anak saya, karena sudah melakukan hal tak senonoh. Dimana kalian main kuda kudaan. "
Deg ....
Lorenza kini maju paling depan, " jaga ucapanmu mis kecatikan abal abal, anakku tidak sehina itu, dia tidak mungkin melakukan hal tak pantas pada anakmu, apalagi anakmu itu belum jelas asal usulnya. "
Berkacak pinggang," berani kamu mengatai saya, nenek lampir."
Sarah pada akhirnya, memanggil Natasha yang baru saja berniat kabur dari pesta. " Natasha. "
Teriakan Sarah membuat Natasha menghentikan langkah kakinya, dimana jeweran Rudi, membuat Natasha menampakan diri di depan Lorenza.
Pukulan Sarah, membuat Natasha tak berani menyapa ibunda Edwin lagi. " Jangan sok akrab, dia itu musuh bebuyutan mama dari jaman sekolah. "
Kedua mata membulat, Lorenza benar benar terkejut dengan kenyataan yang ia dapati.
"Edwin, kamu .... "
"Mommy, semua salah paham. "
Lorenza sedikit syok, ia hampir saja jatuh pingsan.
"Sudahlah jangan banyak memainkan drama. Mau berpura pura pingsan. " Ketus Sarah.
Kini Sarah menatap kearah Edwin, " heh. Kamu Edwin. Bukannya kamu sudah berjanji kepada saya, mau mengajak kedua orang tuamu datang ke rumah saya kemarin untuk melamar Natasha, tapi buktinya, kamu tak datang datang, memang ya, kamu itu lelaki tidak bertanggung jawab. "
Mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Sarah membuat Lorenza tak terima. " Heh, Mis Crem abal abal. Jangan asal bicara kamu ini, anak saya bukan lelaki sembarangan, anak saya itu lelaki sejati yang bertanggung jawab. "
"Kalau memang bertanggung jawab, kenapa kemarin dia tak datang ke rumah saya sesuai janjinya?" tanya Sarah, kedua pipi Lorenza memerah dia tak tahu jika Edwin menjanjikan sesuatu.
__ADS_1
Natasha mulai angkat bicara, " Sudahlah, semua ini hanya kesalah pahaman saja, kalian terlalu mendramalitis .... "
Lorenza dan Sarah begitu kompak memotong pembicaraan Natasha. " DIAM KAMU. "
Sontak Natasha menutup mulutnya secara tiba tiba. Perwira dan juga Rudi, merasa malu dengan tingkah istri istri mereka.
"Jadi apa mau kamu sekarang?" tanya Lorenza pada Sarah, dengan mempelihatkan kemurkaannya.
"Sekarang yang aku mau, Edwin itu bertanggung jawab pada anakku!" balas Sarah.
Tentulah Lorenza paham hati seorang ibu yang memiliki seorang anak wanita, hatinya selalu was was. Takut jika lelaki yang mendekatinya hanya mempermainkan begitu saja.
"Baik, Edwin akan bertanggung jawab dan segera mungkin menikahi anakmu, " ucap Lorenza menyodorkan tangan, untuk kata setuju.
"Nah baru itu namanya bertanggung jawab, " balas Sarah. Merasa lega dengan perkataan Lorenza.
"Mommy, jangan gila lah mom. Aku tidak pernah menyentuh hutan riba milik Natasha secuil pun. Apalagi melihatnya," bisik Edwin, membuat Lorenza menarik telinga anaknya.
"Jangan buat mommy malu di depan orang, kamu sudah melakukan hal tak senonoh dengan Natasha, berarti kamu harus bertanggung jawab, " balas Lorenza membisikan kembali perkataannya pada telinga Edwin.
"Mommy."
"Sarah, jadi besok kita mulai saja pernikahannya digedung dengan acara sederhana. Dan kebetulan sekali, mungpung kita ada di pesta ini, kita umumkan saja pernikahan kedua anak anak kita, " ucap Sarah, membuat Lorenza setuju.
"Benar juga apa yang kamu katakan, lumayan menghemat waktu dan uang banyak, " balas Lorenza, dipikirannya tiba tiba muncul kata hemat.
Edwin menepuk wajahnya dan bergumam dalam hati, " Memalukan sekali. "
Kedua wanita itu naik ke atas panggung, lalu mengumumkan pernikahan kedua anak anak mereka.
Natasha merasa menyesal karena sudah datang ke pesta tak berbobot baginya.
"Ahk, apes sekali hidupku. "
"Heh, Natasha, seharusnya kamu itu nyadar diri. Jangan mentang ...."
Kesal dengan perkataan Edwin, Natasha menarik kerah baju lelaki sombong yang akan menikah dengan dirinya. " Hey, kurang ajar sekali lu bilang gue harus sadar diri."
Setiap kali bertemu dengan Edwin, pasti gaya bicara Natasha berubah.
__ADS_1