
Ini untuk kedua kalinya, Nadia merasakan hal yang membuat dirinya semakin terpuruk.
"Air comberan. "
Nadia melepaskan ember yang berada pada wajahnya, semua orang menatapnya silih bergantian, dimana mereka menutup hidung karena bau pada badan Nadia bekas air comberan.
"Siapa yang sudah berani, menguyur badanku dengan air comberan. "
Nadia, mencoba melirik ke sekitar orang-orang yang melihatnya aneh.
"Kamu ya. Hah, mengaku saja. "
"Apaan sih mbak, bau tahu. Sana pergi. "
Semua bergidig ngeri, sampai Nadia berusaha mencari kunci mobil. " Kemana kunci mobil, perasaan tadi ada di sini?"
Nadia merogoh kembali tasnya untuk mencari kunci mobil yang jelas-jelas ia sudah mengeluarkannya.
" Ya ampun, kemana kunci mobilnya. "
Nadia kesal, ia berusaha tetap tenang, mengatur napas agar tidak tersudut emosi yang malah membuat hidupnya semakin rumit.
"Sialan, kunci mobil tidak ada di sini, aku harus mencarinya ke mana lagi."
Nadia melihat pintu mobil sudah terbuka, tapo kunci mobil tidak ada.
"Apes sekali hidupku saat ini. "
Berulang kali Nadia menarik napas, agar dirinya tidak panik.
Natasha yang melihat Nadia dari kejauhan, kini tersenyum kecil, " rasain. Emang enak. "
Orang yang sudah ia perintahkan untuk mengguyur Nadia dengan Air comberan kini datang ke hadapan Natasha.
Orang itu memberikan kunci yang baru saja ia dapatkan dari pintu mobil Nadia.
"Ini nyonya. "
Natasha meraih kunci mobil itu, Iya semakin senang dengan melihat penderitaan yang dirasakan oleh Nadia.
"Bagus."
memberikan sejumlah uang pada amplop berwarna coklat itu," ini uang untuk kamu karena sudah berhasil mengerjai wanita itu. "
"Terima kasih. "
Lelaki itu pergi dari hadapan Natasha, setelah mendapatkan uang imbalan yang Natasha janjikan.
Nadia kini mengacak rambutnya dengan kasar, Iya tampak prustasi dengan kejadian yang menimpa dirinya.
Nadia pada akhirnya mencari, sebuah taksi untuk mengantarkannya pulang.
Berharap jika taksi itu tidak menganggapnya bau.
Semua taksi yang melintas di hadapan Nadia, tak ada satupun yang mau berhenti, mereka tak peduli dan merasa rugi. Jika penumpang seperti Nadia masuk ke dalam taksi mereka.
__ADS_1
"Ist, Kenapa sih tidak ada taksi yang mau mengantarkan aku pulang. Padahal aku mau bayar taksi itu dua kali lipat dengan uang yang aku punya, tapi mereka malah mengabaikanku begitu saja. "
Nadia geram, pada akhirnya ia terpaksa menunggu sampai ada orang yang mau mengasihaninya.
Sedangkan Natasha masih duduk melihat nasib malang Nadia, " kasihan banget kaya gembel. Mm, siapa suruh mau berhadapan denganku, jadinya kan begitu, apes mulu. "
Natasha memutar-mutarkan kunci berada di tangannya, dimana ia berusaha tetap tak merasa kasihan dengan Nadia.
"Nadia, kamu kenapa?"
Natasha yang tak ingin jadi penonton saja, kini mendekat pada Nadia.
"Natasha, kamu!"
Nadia malah, memalingkan wajahnya, tak mempedulikan Natasha sama sekali.
"Nadia, kenapa dengan baju kamu bau sekali," ucap Natasha pada Nadia, yang berpura pura peduli.
"Sudah, sana kamu pergi dari sini. Jangan sok-sokan peduli kepadaku, Karena aku tahu dari hati kecilmu untuk kamu tengah mentertawakan aku kan. "
Natasha membulatkan kedua mata dengan tudingan yang ia dengar dari mulut Nadia.
"Mm, kok bisa-bisanya kamu berpikir seperti itu kepadaku. Padahal aku tak sengaja loh melihat kamu di jalanan duduk menangis. "
"Ahk, semua hanya akal akalan mu saja, aku tahu kamu pasti senangkan dengan melihat aku sensara seperti ini. "
Nadia masih saja berpikir negatif tentang Natasha membuat istri Edwin itu kini pergi dari hadapan Nadia.
"Ya, sudah kalau kamu memang menganggap aku seperti itu, sebaiknya aku pergi ke ruangan suamiku saja."
"Tunggu."
Natasha berjalan dengan langkah yang sangat cepat, mengabaikan teriakan Nadia yang terus memanggilnya.
"Natasha."
Nadia tak mau kehilangan Natasha yang semakin menjauh darinya, ia mencoba mengejar dan berteriak. Membuat orang orang yang melihat pemandangan itu saling berbisik satu sama lain.
"Kamu lihat gembel itu, sudah bau, ngejar ngejar orang lagi, nggak tahu malu apa?"
"Benar sih, aku juga ngerasa kaya gitu, malu maluin ya. Tuh cewek, masih muda jadi gembel!"
Nadia merasakan cacian itu, terdengar menusuk hati dan membuat dirinya malu.
Sedangkan Natasha melihat hal itu, malah senang dan bertepuk tangan pada dirinya sendiri.
"Kamu memang hebat, Natasha, bisa membuat Nadia malu sendiri. "
Nadia tak putus asa, dia kembali lagi mengejar Natasha untuk meminta tolong.
"Natasha tunggu. "
Karena langkah kaki Nadia sudah dekat dengan Natasha, mau tidak mau Natasha membalikkan badan dan bertanya. " ada apa Nadia?"
"Natasha"
__ADS_1
Dengan menundukkan wajah, terlihat rasa malu dalam diri Nadia, membuat ia merasa gengsi untuk mengatakan jika ia ingin meminta pertolongan.
"Kamu, kenapa malah diam saja. Apa ada sesuatu yang kamu ingin katakan."
Keraguan terus bermunculan dalam diri Nadia sendiri, ia perlahan mengangkat wajahnya agar bisa berhadapan langsung dengan wajah Natasha.
"Aku boleh meminta tolong sama kamu?"
Natasha mengerutkan kedua alisnya, " meminta tolong untuk apa?"
"Kamu bisa antarkan aku pulang!"
"Pulang. Bukannya kamu punya mobil sendiri kenapa harus minta antarkan aku pulang?"
Nadia mengepalkan tangannya, ia kini menjawab dengan nada kesal," saat aku hendak menaiki mobil, tiba-tiba saja ada orang yang mengguyurku dengan air comberan lalu orang itu seperti mencuri kunci mobilku. "
Natasha berpura-pura terkejut setelah mendengar cerita yang dilontarkan oleh Nadia, ia memperlihatkan rasa khawatir dan juga perasaan kasihan terhadap Nadia.
"Ya ampun, kasihan sekali kamu Nadia. Sampai menderita seperti ini. "
"Kamu bisa bantu aku. "
"Gimana kalau terlebih dahulu kita mencari kunci mobil yang hilang karena orang yang sudah menjahili kamu. "
" Aku setuju, soalnya ponselku juga ikut hilang setelah kejadian air comberan yang mengguyut tubuhku ini. "
Natasha dan Nadia pada akhirnya pergi ke tempat mobil, mereka di sana sengaja mencari keberadaan kunci mobil Nadia.
Dimana Nadia tak tahu jika dalam kejahilan itu. Ada sosok Natasha yang merencanakan semuanya.
Natasha tak suka dengan orang yang selalu mengusik hidupnya dan juga menyalahkan dirinya, sampai ia dengan dekatnya menjahili orang itu.
"Ayo kita cari. "
Natasha sengaja berpura-pura menemukan kunci mobil Nadia," ini kunci mobilmu bukan."
Natasha memperlihatkan kunci mobil itu ke arah Nadia, di mana Nadia terlihat begitu senang. Iya kini mengambil kunci mobilnya." Ya ampun Natasha Dari mana kamu bisa menemukan kunci mobilku, padahal dari tadi aku mencarinya kemana-mana tapi tidak ketemu juga. "
"Kamu itu kurang teliti Kalau mencari barang, jelas-jelas kunci mobilnya ada di bawah mobil kamu sendiri, " ucap Natasha kepada Nadia, saat memberikan kunci mobil itu.
" Aku akan mencoba menyalahkan mobil terlebih dahulu," balas Nadia, naik ke dalam mobilnya.
Ponsel yang selama ini ia cari ternyata ada di dalam mobil, Iya merasa bingung padahal seingat Nadia jika ponselnya selalu ia bawa di dalam tas.
Nadia mulai turun dari dalam mobilnya, mendekati Natasha, selalu berterima kasih kepada wanita itu, " Natasha Terima kasih atas bantuannya, aku tak menyangka jika ponsel dan juga kunci mobilku masih berada di tempat, padahal jelas-jelas aku dari tadi mencari dengan perasaan kamu. "
"Nah itu, perasaan panik kamu yang membuat kamu tak bisa menemukan barang yang kamu benar-benar butuhkan saat itu."
Nadia tersenyum lebar lalu berpamitan kepada Natasha untuk pulang ke rumah, dengan sigapnya Nadia masuk ke dalam mobil, melambaikan tangan ke arah Natasha.
Namun di tengah perjalanan, nadia malah menggerutu kesal dirinya sendiri.
"Kenapa bisa kunci mobil dan HP masih berada di tempat, jelas-jelas tadi aku simpan di dalam dompet. "
Nadia mulai berpikir jika semua yang dilakukan Natasha, seolah-olah drama, agar Nadia percaya dan tak mengganggu lagi Edwin.
__ADS_1
" sepertinya kejahilan ini ada hubungannya dengan Natasha, dari awal terlihat jelas jika Natasha hanya berpura-pura dan mempermalukan, agar aku menganggap Natasha itu adalah orang baik."