
Dave benar-benar marah saat melihat isi pesan Margaret, dan kasihan terhadap Ryan yang tak tahu apa-apa justru malah di jadikan sebagai tahanan agar Margarer bisa bersama dengan dirinya. Dave tidak habis pikir, kenapa dulu dia bisa jatuh cinta kepada wanit gila itu. Sungguh Dave sangat menyesal bisa mengenal Margaret. Andai waktu bisa di putar, ia tidak akan mau mengenal siapa Margaret itu. Tapi! nasi sudah menjadi bubur, mau dikatakan bagaimana lagi. Yang berlalu biarlah berlalu dan menjadi pembelajaran untuk kedepan.
Jasmin gelisah, ia berjalan mondar-mandir. Entah kenapa sejak tadi perasaannya tak tahu kenapa menjadi gelisah.
"Bibi, apa tadi ada Dave datang?" tanya Jasmin saat keluar dari kamarnya dan bertemu dengan Bibi.
"Tidak nyonya." jawab Bibi berbohong.
"Baiklah Bi."
Kemudian Jasmin berjalan menuju kamar Papinya. Jasmin melihat sang Papi yanh kini sedang duduk santai di sofa sambil melihat ponselnya.
"Papi." Sapa Jasmin berjalan masuk kedalam dan duduk tepat di samping Papinya.
__ADS_1
Papi Adam pun langsung meletakkan ponselnya. "Ada apa sayang?" tanya Papi.
"Papi, aku tidak tahu kenapa yah kok perasaan aku seperti ini?"
"Perasaan? Ada apa? Kenapa sayang?" tanya Papi sambil melihat raut wajah Jasmin.
"Entahlah Pi. Tapi perasaan aku kok seperti terjadi sesuatu kepada Ryan anakku. Tapi tidak mungkin, Dave kan selalu bersama Ryan dan selalu menjaga Ryan dengan sangat baik."
"Mendekatlah sayang." Panggil Papi, lalu saat Jasmin lebih dekat, Papi Adam langsung menepuk pundaknya agae Jasmin mau menyandarkan kepalanya di pundak Papi.
...🍃🍃🍃🍃🍃...
"Hiksss, hikkksss, hikkkksss" Tangis Ryan pecah kala Margaret menyiksanya. Bukan tangis karna kesakitan tapi Ryan menangis karna merasa sangat kecewa dengan ibu kandungnya.
__ADS_1
Benarkah Margaret ibu kandungnya? tapi kenapa sikap seorang ibu kandung seperti ini? Bukan kah hanya ibu tiri yang menyiksa sang anak, seperti di sebuah dongeng. Tapi kenapa terbalik di kehidupan Ryan, kenapa justru ibu kandung yang menyiksa anaknya. Itu yang Ryan pikirkan.
"Hentikan tangisanmu" Teriak Margaret lantang, membuat Ryan semakin mengeraskan suara tangisannya.
"Dasar anak lemah! Baru di gertak sedikit sudah menangis. Cengeng!"
"Ibu.. Ibu.." Panggil Ryan dengan isak tangisnya. "Benarkah kau ibuku? benarkah kau yang mengandungku? benarkah kau yang melahirkanku ibu?" Tanya Ryan membuat Maegaret menaikkan satu alisnya.
"Ibu.. Ibu.. Boleh kah aku memelukmu." Tanya Ryan lagi, namun Margaret tetap diam di tempat tidak mendekat sedikitpun pada Ryan.
"Ibu.. Hiksss, hikkkks, hikkkksss. Tidak kah kau rindu padaku? pada anakmu ini?"
"Diam!! Hentikan!!" Sentak Margaret lalu berjalan meninggalkan Ryan dan masuk kedalam kamar.
__ADS_1
"Hikkkssss, hikkkkssss, hikkkkkssss." Hanya suara tangis pilu yang terdengar di ruangan.
Ryan menangis kecewa terhadap sang ibu yang tega melakukan hal itu pada dirinya. Dan saat ini Ryan pun sangat rindu pada ibu Jasmin. Ibu yang begitu sangat sempurnah, walaupun bukan ibu kandung, tapi kasih sayang, perlakuan Jasmin, tak menunjukkan sedikitpun kalau Jasmin adalah ibu angkat.