Wanita Bayaran

Wanita Bayaran
61


__ADS_3

"Kau memikirkan anak mu?"


Jasmin langsung tersadar dengan lamunannya kala mendengar ucapan dari Junior. Jasmin hanya tersenyum, tak mampu berkata-kata lagi.


"Jika kau rindu, maka hubungi saja." Ide Junior


Jasmin menunduk sambil menggelengkan kepalanya. Entah mungkin pengaruh hamil, sekarang Jasmin menjadi melow, sering meneteskan air matanya hanya karna hal kecil, beda dengan Jasmin yang dulu yang selalu berdiri tegar meski dibanting dengan keadaan yang hancur sekalipun.


"Kenapa?"


Jasmin menghembuskan nafasnya. "Jika aku menghubungi anakku, nanti dia akan menangis. Jika ia menangis siapa yang akan menghapus air matanya. Siapa yang akan memeluknya, dan siapa yang akan menenangkan nya." Air matanya kini telah jatuh membasahi pipi mulusnya.


"Kau sungguh luar biasa Jasmin."


"Aku rindu anak ku, tapi aku tidak dapat melakukan apa-apa. Aku hanya bisa berdoa semoga Ryan anak ku bisa segerah melupakan ku, dan hidup bahagia dengan kedua orang tua aslinya."


"Tenangkan dirimu, dan sabarlah." Ucap Junior sambil menggenggam tangan kanan Jasmin. "Siapkan dirimu, sebentar lagi kau akan bekerja, itu artinya mau tak mau kau harus bertemu dengan masa lalumu"


Jasmin menoleh ke arah Junior. "Aku siap."

__ADS_1


"Ini baru Jasmin adik ku. Yang sangat kuat dan tegar."


...🍃🍃🍃🍃...


Ryan berlari kala jam pulang sekolah telah usai, Ryan sungguh bersemangat, ia sudah ingin sekali bertemu dengan sang ibu. Namun Ryan merasa sangat kecewa kala melihat tempat dimana ia Tyas tadi menunggunya sudah kosong, Tyas sudah tidak ada di tempat itu. Patah sudah semangat Ryan untuk bertemu sang ibu tercinta. Selang beberapa saat Dave pun datang untuk menjemput Ryan.


"sayang ayo" ajak Dave.


"Dad, jadikan hari ini kita kerumah ibu?"


"Iya sayang." Jawab Dave dan Ryan bersorak bahagia, langsung berlari menuju mobil, karna sudah tak sabar ingin segera menuju rumah ibunya.


"Dad, ayo singgah dulu ketoko kue. Aku ingin membelikan kue untuk ibu."


"Kau punya uang?" tanya Dave sambil melihat Ryan sesaat, lalu kembali fokus kedepan karna sedang menyetir mobil.


Ryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil tersenyum memamerkan derata giginya yang terlihat rapi, karna dirawat baik oleh ibunya.


"Kenapa tersenyum?" tanya Dave yang juga ikut tersenyum melihat tinggak Ryan. Lalu kemudian Dave menepikan mobilnya tepat di depan tokoh kue.

__ADS_1


"Boleh aku minta uang Dad?"


Dave mangacak rambut Ryan dengan gemas, lalu meraih dompet yang ada di kantong belakang celananya. "Belikan kue kesukaan ibumu," kata Dave sambil memberi uang merah lima lembar ke Ryan.


Ryan menerima uang itu dengan sangat bahagia, "Makasih Dad." Ucapnya dan langsung membuka pintu mobil dan masuk kedalam toko kue.


"Segitu bahagianya kamu nak, yang ingin beryemu dengan ibumu. Apa istimewanya ibumu sampai kau sangat menyanyanginya seperti itu." Gumam Dave sambil memeprhatikan Ryan dari dalam mobil.


Dilihatnya Ryan dengan sangat bahagia memilih kue untuk Jasmin. "Andai kau tahu nak, jika ibumu adalah wanita bayaran, aku yakin kau akan sangat kecewa pada ibumu" Dave kembali bergumam.


"Dad .." Panggil Ryan setelah membuka pintu mobil lalu duduk dikursi.


"Sudah selesai?" tanya Dave sambil melirik Ryan.


"Sudah Dad, lihatlah." Ryan mengangkat kantong kresek yang transparan melihatkan berbagai macam kue dan juga roti.


"Banyak sekali."


"Iya Dad, ini semua kesukaan ibuku. Ibu suka roti coklat, dan juga suka rasa nanas. Dan ibu sangat suka kue coklat juga Dad." Jelas Ryan. "Ouh iya Dad, ini sisa uang Dady." Ryan mengembalikan sisa uang belanja tadi ke Dave kembali. "Ayo Dady, aku sudah tidak sabar ingin bertemu ibu."

__ADS_1


__ADS_2