Wanita Bayaran

Wanita Bayaran
62


__ADS_3

Dengan penuh semangat Ryan membuka pintu mobil, kala mobil yang Dave kendarai telah sampai di depan rumah Jasmin. "Ibu ..." Teriak Ryan dengan penuh semangat nya, sambil membawa kantong kresek berisi kue dan roti yang tadi singgah ia beli untuk sang ibu. Dave hanya tersenyum melihat anaknya yang begitu terlihat sangat bahagia. Berbeda dengan kemarin, jelas sekali wajah Ryan terlihat begitu murung, dan sangat merindukan ibunya.


"Ibu .." Panggil Ryan sambil mengetuk pintu rumahnya. "Ibu" ulang Ryan lagi, namun tak ada sahutan sama sekali dari dalam, membuat Ryan menoleh kebelakang, kearah Dave yang kini berjalan menghampirinya. "Dady .."


"Ada apa sayang?" Tanya Dave sambil menghampiri Ryan.


Lalu Ryan meletakkan kuenya di atas meja yang berada diteras. "Ibu tidak membuka pintunya." Jawab Ryan dan wajahnya mulai terlihat bersedih.


"Biar Dady yang coba mengetuk pintu."


Beberapa kali Dave mengetuk pintu, namun tetap saja tak ada sahutan sama sekali. Dave memutar handel pintu, namun sayang pintu rumah Jasmin terkunci. "Sepertinya ibumu sedang tidak berada dirumah."


"Dady kemana ibuku?" Tanya Ryan sambil mendongakan kepalanya menatap wajah Dave.


"Dady tidak tahu sayang." Jawabnya


"Dad, kau punya ponselkan. Tolong telpon ibuku." Pinta Ryan.


"Tapi .."

__ADS_1


"Aku tahu no ponsel ibu. Ayo Dad telpon ibuk" rengek Ryan sambil menarik ujung jas Dave.


"Baiklah" Dave pasrah lalu memberikan ponselnya pada Ryan. "Ini ketik no ibumu, lalu hubungi."


Ryan mengetik no ponsel ibunya. Namun sayang no ponsel ibunya pun tidak aktif. Namun Ryan tetap saja menghubungi, meski tak bisa. Air mata nya mulai jatuh. "Ibu. Apa kau marah padaku?" Lirihnya sambil duduk di lantai dan menyandarkan belakangnya kedinding tembok. Dengan kedua kaki yang di tekuk, dan Ryan menenggelamkan kepalanya diatara kedua lututnya. "Ibu .. aku rindu." Lirihnya dengan suara yang sudah terbata-bata.


Dave langsung berjongkok dihadapan sang anak. "Sayang, jangan menangis."


Ryan menangkat wajahnya melihat wajah Dave. "Apa ibu pergi meninggalkan ku, Dad? Apa ibu marah padaku? Atau apa itu benci dan tidak sayang lagi padaku?" Ryan terus saja bertanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir tanpa bisa dibendung lagi.


"Tidak sayang." Ucap Dave mengusap pucuk kepala Ryan. Dan lagi-lagi Ryan menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya.


"Ibu .. ibu .. Aku rindu ibu."


"Tidak Dad. Aku ingin disini. Aku ingin menunggu ibuku pulang"


"Tapi .."


"Dady, kumohon. Biar aku menunggu ibu. Aku rindu ibu, aku ingin memeluk ibu dan ingin dipeluk oleh ibu."

__ADS_1


"Baiklah, Dady akan menemanimu."


Hingga sore hari. Jasmin tak jua datang. Membuat Dave kembali bertanya pada dirinya, kemana wanita itu? Dan sedang apa dia? Berapa malam ia dikontrak untuk mengganti uang yang ia berikan padaku? Dave selalu saja berfikir yang tidak-tidak tentang Jasmin.


"Ryan.." panggil tentangga Jasmin yang baru saja pulang bekerja.


"Tante .." Balas Ryan memanggil.


"Apa yang kau lakukan disini. Kau tidak ikut ibumu?" Tanya tetangga Jasmin.


"Ibuku kemana?" Jawab Ryan dengan sebuah pertanyaan.


"Ibumu. Dia sudah pindah Ryan. Waktu itu tante melihatnya ada seorang pria yang datang menjemputnya."


"Tidak .. tidak mungkin ibu meninggalkan ku." Teriak Ryan sambil berlarih ke jalan raya.


"Ibu .."


"Ibu .."

__ADS_1


"Ibu .."


Ryan berlari, sambil menangis dan berteriak memanggil ibunya. "Ibu, jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri bu."


__ADS_2