Wanita Bayaran

Wanita Bayaran
59


__ADS_3

"Serius kau ingin kembali bekerja?" Tanya Disthi pada Jasmin.


"Ya Dis."


"Tunggu, tapi bukan hari ini kan?? Kita masih belum melepas rindu Jasmin, dan kau masih berutang cerita padaku. Aku tidak mau kaui bekerja dulu." Jelas Disthi membuat Junior menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Dan Jasmin hanya bisa tersenyum.


"Ingat! Kau berutang cerita padaku."


"Iya-iya aku ingat."


"Bersiap-siaplah Jas, kau akan dikepo habis oleh istriku."


...🍃🍃🍃🍃...


"Dad apa ibu belum pulang?" Tanya Ryan saat berada di meja makan, sambil memperhatikan Dave menyiapkan sarapan paginya di bantu oleh Margaret.


"Sayang, aku ibumu. Aku sudah ada disini." Margaret meletakkan sepiring nasi goreng dihadapan Ryan. "Makanlah sayang." Pintanya.


"Dad, boleh aku meminta?"


"Ya, ada apa sayang?" Jawab Dave lalu duduk di kursi dan menyantap sarapan paginya.

__ADS_1


"Apa boleh aku pulang kerumah ibu nanti?"


"Tidak boleh!!" Margaret langsung menjawab pertanyaan Ryan. "Aku ibumu, kau tidak boleh lagi kembali kerumah itu."


Ryan menunduk, ia tidak lagi berselerah untuk melanjutkan makannya. Dave yang melihat langsung membuka suara. "Ibumu akan pulang, jika sudah waktunya."


Ryan langsung berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruang makan dengan seragam yang sudah lengkap di badannya.


"Sayang." Panggil Dave namun Ryan tak juga menoleh, ia tetap terus berjalan.


"Biarkan saja sayang, Ryan masih butuh penyesuaian." Margaret menggenggam lengan Dave. Dave kemudian berdiri lalu melangkah mengejar Ryan.


"Anak itu!" geram Margaret.


"Tunggu!" Dave menahan lengan Ryan agar berhenti berjalan. "Ayo Dad antar kesekolah"


"Aku rindu ibu, aku tidak ingin kesekolah" lirih Ryan dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya.


Dave yang mulai merasa kasihan melihat sang anak yang sudah meneteskam air mata. "Baiklah, Dady janji sepulang sekolah Dady akan mengantarmu ke rumah ibu."


"Janji!" Ucap Ryan sambil menaikkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


"Ya, janji sayang" jawab nya sambil menautkan kelingkingnya ke jari kelingking Ryan.


...🍃🍃🍃🍃...


Disthi menangis tersedu-sedu mendengar cerita Jasmin. Entah sudah berapa banyak tisu yang Disthi habiskan saat ini. Disthi tak menyangka, Jasmin bisa kuat menghadapi ujian hidupnya. Pertama ditinggal selingkuh oleh suaminya sekaligus cinta pertaman nya dan yang kedua, ia harus mengiklaskan Ryan, anak yang sudah Jasmin anggap sebagai anak kandung. Lalu Jasmin kembali menceritakan kisahnya membuat Disthi kaget.


"What??" tunggu. Sekarang kau hamil?"


Jasmin mengangguk sambil menghapus air mata yang menetes dipipi mulusnya.


"Lalu yang menghamilimu itu kemana? Biar aku suruh Junior menghajarnya, memberikan pelajaran padanya. Enak saja membuat orang hamil lalu hilang."


"Dia ayah dari anak angkatku."


"Haaa???" Disthi kembali kaget dibuat Jasmin.


Lalu Jasmin kembali menceritakan semuanya secara detail. Disthi yang mendengarpun langsung memeluk tubuh Jasmin dan menepuk pundak Jasmin. "Kau hebat, kau sangat kuat. Jika aku berada diposisimu mungkin aku tidak akan bisa setegar dirimu." Lalu Disthi melepas pelukan nya dan menggenggam kedua tangan Jasmin. "Bangkitlah, buktikan padanya. Pada pria itu, jika kau bukan wanita yang lemah, kau bukan wanita yang seperti ia tuduhkan padamu. Buktikan padanya kalau kau wanita berkelas dan dari kalangan atas."


"Tentu." Jawab Jasmin sambil tersenyum, meski air mata masih tetap menetes di kedua pipinya.


"Tapi percayalah Jasmin, jika aku bertemu dengan pria itu. Maka jangan bilang namaku Disthi jika aku tidak memberikannya pelajaran."

__ADS_1


__ADS_2