Wanita Bayaran

Wanita Bayaran
90


__ADS_3

Derald berlarih masuk kedalam kamar Jasmin. Saat sudah berada di dalam kamar Derlad langsung lompat ke tempat tidur. Membuat Jasmin yang melihat adiknya itu langsung teriak.


"Derald!!! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jasmin.


"Kak, boleh minta jajan?" Derald membuka telapak tangannya di hadapan Jasmin.


"No jajan!" tegas Jasmin.


"Baiklah." Kata Derald lalu memperbaiki duduknya di ataa tempat tidur.


"Ada apa?" tanya Jasmin memperhatikan sang adik.


"Kak. Maaf sebelumnya." Derald menunduk.


"Maaf? untuk apa?"


Lalu Derald langsung mengusap lembut perut Jasmin. "Apa kakak akan tetap melahirkan tanpa suami?"


"Derald.." Sontak Jasmin kaget dengan pertanyaan sang adik yang tiba-tiba berucap seperti itu padanya.

__ADS_1


Derald adiknya yang selalu Jasmin anggap sebagai anak kecil, tiba-tiba memberikan pertanyaan seperti seorang anak dewasa. Sungguh Jasmin kaget mendengarnya.


"Maaf." Lirih Derald "Aku sayang kakak, aku sayang bayi yang ada di perut kak Jasmin. Dan aku..." Air mata Derald jatuh membasahi pipinya tanpa di minta.


"Hey ada apa dek? Kenapa menangis?" Jasmin menarik tubuh sang adik masuk kedalam pelukannya. Kemudian Jasmin mengusal lembut pucuk kepala Derald. "Katakan ada apa?"


"Kak .. Aku tidak ingin jika keponakan ku lahir dan jika ia besar maka ia akan jadi bahan ejekan dari teman-temannya. Aku tidak mau itu kak. Aku tidak mau." Derald menggelengkan kepalanya.


"Derald.." Lagi-lagi Jasmin terkesima kepada Derald yang memikirkan nasib bayi yang ia kandung jauh di kemudian hari.


"Kakak bisa lihat kan, bagaimana Ryan anak kakak hidup tanpa orang tuanya. Kakak pasti tahu itu." Derald menghapus air matanya laku mendongakkan kepalanya menatap wajah sang kakak.


"Kumohon! Jika masih bisa diperbaiki maka perbaiki lah kak. Ini demi bayi yang kakak kandung."


"Aku penonton kak. Jelas aku tahu sedikit tentang apa yang aku tonton. Maka dari itu, jika masih ada sedikit cela untuk diperbaiki maka perbaikilah kak." Pinta Derald. "Aku tidak ingin melihat ponakan ku menangis di pojokan sekolah, karna mendapat ledekan dari teman-temannya. Aku tidak ingin saat ponakan ku terima rapot, hanya orang tua tunggal yang mengambil rapornya. Dan aku tidak ingin ponakan ku tidak mendapatkan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya."


"Tapi Derald."


"Kak, kumohon demi bayi didalam perutmu kak." Lalu Derald kembali mengusap perut Jasmin dengan lembut.

__ADS_1


"Derald keluar lah, aku ingin istirahat." Secara halus Jasmin mengusir adiknya keluar dari dalam kamar. Ia tidak ingin membahas lebih lanjut lagi.


Derald turun dari tempat tidur. Dan langsung menghampiri Jasmin yang sudah berdiri di dekat jendela kamar. Derald langsung memeluk Jasmin. "Aku tahu kakak adalah orang yang sangat bijaksana. Aku tahu itu" Derald lalu melepas pelukannya dan menghapus air mata di pipinya. "Aku keluar dulu kak."


"Iya."


...🍃🍃🍃🍃...


"Daddy, bagaimana? Apa ibu sudah memaafkan Daddy?" Tanya Ryan saat Dave memasuki rumah.


Dave langsung membawa Ryan kedalam pelukannya. "Daddy masih butuh waktu sayang. Daddy harus berjuang lebih lagi, agar ibu mau ikut bersama Daddy."


Ryan memeluk erat Dave. "Aku tahu Daddy pasti bisa. Aku yakin, ibu pasti akan pulang."


"Jangan lupa selalu doakan Daddy yah. Dan doakan juga adek bayi biar sehat di perut ibu."


"Iya Daddy."


🥱🥱

__ADS_1


Maaf autor up nya ngak beraturan krn lagi kurang enak badan. Badan autor kaya abis di gebukin orang sekampung, tenggorokan autor kaya ada biji kedondongnya. Panas pun naik turun. Jadi maaf kalau upnya bolong"..


Calangheeoooo semuanya🥰🥰🥰


__ADS_2