
Ryan gelisah tidur karna sampai saat ini Jasmin belum juga pulang. Hingga Ryan memutuskan untuk menuju kamar Dady.
"Dad, bolehkah aku masuk?" Tanya Ryan dari depan pintu setelah mengetuk pintu kamar.
Dave lalu membuka pintu kamar, dan berjongkok di depan Ryan. "Sayang, jika kau ingin masuk, langsung masuk saja. Tidak usah izin. Okey" ucapnya sambil mengacak rambut Ryan. Dan Ryan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Ada apa sayang??" Tanya Dave sambil berjalan masuk kedalam kamar bersama Ryan.
"Aku tidak bisa tidur dad."
"Kenapa?"
"Ibu belum pulang, dan aku tidak terbiasa tidur tanpa ibu."
"Belum pulang?" Ulang Dave
"Iya Dad."
"Tunggu, bukan kah ini sudah jam 10 malam. Lalu kira-kira pergi kemana ibumu?"
Ryan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu Dad." Jawabnya.
"Apa jangan-jangan wanita itu masih bersama pria yang memberikan nya uang?" Batin Dave. "Pastilah, karna uang itu bukan uang yang sedikit. Jumlahnya sangat banyak, dan tidak mungkin dia bisa mendapatkan dengan muda uang itu." Dave semakin meyakini dalam hatinya, jika Jasmin memang benar wanita seperti yang ia pikirkan selama ini. Karna terbukti, setelah Jasmin memberikan uang padanya. Jasmin tak kunjung pulang, menampakkan batang hidungnya sama sekali.
"Baiklah kalau begitu, kau tidur sama Dady malam ini." Ajak Dave pada Ryan, naik ke tempat tidur.
__ADS_1
"Dad .." Panggil Ryan
"Yah ada apa sayang?" Tanya nya sambil merapikan selimut di badan Ryan.
"Apa ibu dan Dady tidak bisa bersama?"
Dave menghentikan tangan nya menarik selimut, lalu duduk di tepi tempat tidur dan mengusap lembut pucuk kepala Ryan. "Tidak bisa sayang."
"Kenapa Dad? Bukan kah Dady tidak memiliki pacar, dan ibu pun juga tidak."
Dave tersenyum lalu berkata. "Aku dan ibumu tidak bisa bersama."
"Kenapa?" Tanya ulang Ryan. Dan Dave hanya tersenyum. "Lalu apa Dady akan hidup bersama dengan ibu Margaret?" Tanya nya kembali.
"Tidak juga sayang."
Lagi-lagi Dave hanya tersenyum. "Kau akan mengerti jika sudah dewasa. Ayo tidurlah, besok kau akan bersekolah."
....
"Yes, akhirnya wanita itu sudah tidak ada lagi, sekarang tinggal bagaimana aku harus mengambil hati Ryan agar mau menerimaku dan mau membujuk Dave agar mau menikahi ku. Dan setelah itu aku akan menjadi nyonya besar dan menguasai semua hartanya." Ucap Margaret sambil tertawa membayangkan dirinya akan menjadi nyonya Dave. Yang bisa memiliki apa pun yang ia inginkan.
🍃🍃🍃🍃
"Jasmin, pagi sekali kau bangun." Tegur Disthi saat melihat Jasmin yang kini sedang berkutat didapur.
__ADS_1
"Ini sudah menjadi kebiasaku" balas Jamsin sambil tersenyum kepada Disthi.
"Ouh yah Jas, kau berutang cerita kepadaku. Aku ingin tahu kemana kamu selama ini, dan apa yang kamu lakukan." Disthi membatu Jasmin menyiapkan sarapan pagi.
"Iya nanti akan aku ceritakan semuanya."
"Pagi .." Sapa Junior sambil memeluk tubuh Disthi dari arah belakang.
"Sayang. Lepaskan ada Jasmin disini."
"Biarkan saja. Jasmin kan sudah dewasa." Kata Junior lalu memeluk mencium pipi Disthi.
Plakkkk. Jasmin memukul lengan Junior. "Masih pagi, jangan mesum dulu."
Disthi hanya bisa tertawa melihat kedua adik sepupu ini yang sedang terlibat pertengkaran kecil.
"Sudahlah, ayo kita makan." Ajak Disthi sambil membawa makanan yang telah di masak oleh Jasmin.
Di meja makan.
"Jadi kapan kau akan mulai bekerja?" Tanya Junior
"Bekerja?" Ulang Disthi sambil menatap Jasmin dan Junior secara bergantian.
"Ya sayang. Jasmin ingin bekerja dengan ku."
__ADS_1
"Ohh."