
"Mom perkenalkan dia Tyas, yang aku ceritakan pada Mommy."
"Nak Tyas, manis sekali kamu sayang." Ucap Momy Yoona sambil mendekat dan memeluk tubuh Tyas sesaat. "Ayo Nak silahlan duduk." Ajak Mom.
"Makasih tante."
"Momy, panggil Momy." Pintanya
"Baik tante, ehh momy." Ucap Tyaa dengan malu-malu. Baru kali ini bertemu dengan orang kaya yang baik dan sopan. Bahkan langsung akrab walau hanya sekali bertemu.
"Terima kasih Nak untuk semuanya. Mom tidak tahu harus berkata apa lagi. Yang jelas Mom sangat bahagia Jasmin bisa mengenal mu, yang begitu baik dan selalu ada di samping Jasmin kala suka maupun duka."
"Sama-sama Mom. Jutrsu aku yang sangat bahagia bisa mengenal Jasmin. Wanita yang begitu sangat baik dan mandiri."
Jasmin tersenyum melihat Mom dan Tyas begitu sangat akrabnya.
Mereka bertiga pun asyik bertukar cerita sampai melupakan waktu. Dan tersadar saat Derald memanggil Mom Yoona. Ketiganya pun serentak tertawa saat melihat Jam yang menempel di dinding. Tak terasa mereka berbincang menghabiskan waktu hingga sejam lebih. Tak tanggung-tanggung, dan begitulah wanita jika sudah berkumpul.
"Baikalah kalau begitu aku akan mengantarmu kekamar." Jasmin berdiri dan mengajak Tyas masuk kedalam kamar untuk Tyas tempati selama tinggal di rumah Jasmin.
__ADS_1
"Ini kamar siapa?" Tanya Tyas memandang isi kamar, saat pintu kamar telah dibuka oleh Jasmin.
"Kamar kak Tyas." Jawab Jasmin sambil berjalan lalu duduk di tepi tempat tidur.
"Wao luar biasa." Tyas pun ikut duduk dan bahkan berulang kali Tyas mendaratkan bokongnya untuk merasakan sensasi dari tempat tidur yang berada di kamar ini. "Sepertinya tidurku bakalan sangat nyenyak disini." Ucapnya lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Istirahatlah kak." Pinta Jasmin lalu berdiri dari duduknya.
"Tunggu dulu! Seperti nya ada yang kurang. Tapi apa yah?" Tanya Tays dengan raut wajah yang memikirkan sesuatu. "Ouh iya, aku ingat. Ryan. Dimana Ryan keponakanku" Ucapnya dengan penuh semangat, ingin sekali Tyas memeluk Ryan yang begitu sangat ia rindukan selama ini.
"Ryan, dia sekarang sedang bersama dengan Daddy nya." Jawab Jasmin.
"Nanti aku bakalan usahain untuk menjemput Ryan."
🍃🍃🍃🍃🍃
"Ibu."
"Ibu.." Teriak Ryan memanggil Margaret yang kini masih berada di kamarnya.
__ADS_1
"Ibu .." Panggilnya lagi.
Walaupun Margaret menyiksanya, tak sekalipun Ryas berkata kasar, memanggil Margaret Ibu saja, Ryan sangat sopan.
"Ada apa?" Bentak Mergaret saat membuka pintu kamarnya.
"Aku haus bu."
"Tidak boleh! Kau tidak boleh minum sampai besok." Jawab Margaret lalu kembali menutup pintu kamarnya dengan sangat keras, membuat Ryan terkaget mendengarnya.
"Ibu, kenapa kau begitu jahat bu, kenapa? Hiksss, hikkksss,hikkkkss. "Apa aku tidak layak untuk ibu sayangi? Apa kurang ku bu? Aku janji akan memperbaikinya agar ibu mau menyayangiku."
Ryan merasa ada sesuatu yang kurang dari dirinya, maka dari itu lah mungkin sang ibu sangat membencinya.
"Daddy. Daddy dimana?" Lirih Ryan sambil memejamkan matanya.
Terputar jelas di ingatan Ryan kala Jasmin mengurusnya dengan baik, memperhatikan segala sesuatu tentang kebutuhan Ryan, tak pernah sekalipun Ryan kekurangan apa-apa. Karna ibunya selalu saja memberikan semuanya untuk dirinya.
Ryan tersenyum, ia membayangkan kalau saat ini ia sedang tertidur di dalam dekapan sang ibu tercinta yaitu Jasmin. Ibu yang mengulurkan tanganya di saat tak ada seorang pun yang mau menganggapnya sebagai anak
__ADS_1
Ryan tersenyum dengan mata yang tertutup sambil mengeluarkan air mata dari sudut matanya. "Aku rindu padamu Ibu." Gumamnya