
Setiap hari, seperti biasa Dave tak menyerah, ia masih saja datang berkunjung kerumah Jasmin. Yah walaupun Jasmin menolak, tapi tetap saja Dave bersikeras. Dave benar-benar sudah membulatkan niatnya apa-pun yang akan terjadi ia tidak akan menyerah sedikitpun.
Seperti pagi ini, ia lagi-lagi mendapatkan penolakan dari Jasmin. Bahkan Dave juga medapat lemparan tas dari Jasmin, tapi tak membuat Dave menyerah pada niat awalnya.
"Jasmin, please! Dengar kan aku. Please!" Mohon Dave sambil menggenggam tangan Jasmin.
"Dave .." Pertama kali Jasmin menyebut nama Dave setelah Jasmin pergi. "Tidak ada lagi yang perlu aku dengarkan dan tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan." Ucap Jasmin. "Jadi tolong, lepaskan tanganku" Pintanya kemudian.
"Please!!" Dave kembali memohon,
"Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi."
Tapi Dave tak mau mendengar ucapan Jasmin. Dave justru menarik Jasmin dan hingga masuk kedalam mobil. Lalu Dave ikut masuk dan menyalakan mesin mobil dan mengunci pintu.
"Dave!!" Teriak Jasmin dengan lantangnya. "Kau ingin membawaku kemana?" Tanya nya lagi.
"Aku ingin membawa mu bertemu dengan Ryan." Jawab Dave dan fokus melihat kedepan sambil menyetir mobilnya
Hingga mobil tersebut tiba di halaman rumah Dave. Dave membuka pintu mobil dan turun lalu berjalan memutari mobil dan membuka pintu mobil untuk Jasmin.
"Ryan sangat rindu padamu." Ucapnya.
__ADS_1
"Jangan membawa nama Ryan dalam hal ini."
"Maaf, tapi benar Ryan sangat merindukanmu." Ucapnya lagi.
Lalu Jasmin turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam rumah tanpa memperdulikan Dave yang ikut berjalan dari belakangnya.
"Ryan, sayang.." Panggil Jasmin sambil berjalan masuk.
Ryan yang saat ini sedang duduk menonton mendegar suara yang memanggilnya. Ryan hafat betul dengan pemilik suara itu. Suara yang begitu sangat ia rindukan selama ini. Suara yang selalu membuatnya bahagia. Suara yang membawa dunia baru untuknya. Dunia yang penuh dengan warna.
"Ibu.." Ucap Ryan lalu berdiri.
"Ibu ..." Teriak Ryan juga lalu dengan segera berlari menuju sumber suara.
Jasmin duduk dengan kedua lututnya menjadi pijakan dilantai dan merentangkan kedua tangannya agar Ryan masuk kedalam pelukannya.
"Sayang.."
"Ibu.."
Keduanya sama-sama saling memanggil dan memeluk satu sama lainnya. Air mata kerinduan tak lagi dapat di bendung diantara keduanya. Pipi Jasmin sudah basah karena buliran air mata, dan begitupun dengan Ryan. Keduanya saling diam meresapi pelukan. Melepaskan rinduan yang teramat mendalam.
__ADS_1
Setelah cukup lama saling berpelukan Jasmin melepas pelukan lalu mencium seluruh wajah Ryan. "Anak ibu, kau baik-baik saja sayang? Apa kau rajin makan? Apa tidurmu nyenyak? Dan bagaimana di sekolah mu sayang?" Banyam sekali pertanyaan yang dilontarkan oleh Jasmin
Ryan belum menjawab tapi Jasmin kembali memeluk tubuh Ryan. "Ibu rindu padamu Nak. Ibu sangat rindu"
"Ibu ..." Lirih Ryan. "Ryan juga rindu dengan ibu. Sangat-sangat rindu." ucapnya.
"Ibu lebih rindu sayang. Melebihi rindumu pada ibu."
Dave merasa terharu melihat kedekatan antara Jasmin dan juga Ryan yang begitu sangat saling menyanyangin. "Maaf karna telah memisahkan kalian." Batin Dave.
"Ibu, mau lihat kamarku?" Ajak Ryan sambil menarik tangan Jasmin.
Ryan sengaja melalukan itu, agar Ibunya bisa lebih lama tinggal bersamanya.
"Kamar yang bagus." Ucap Jasmin saat sudah berada di kamar Ryan.
"Ibu .." Ucap Ryan sambil duduk di tepi ranjang disamping Jasmin.
"Ada apa sayang?" tanya Jasmin sambil mengatup kedua pipi Ryan.
happy reading🥰🥰😘😘
__ADS_1