
"Apa kau tidak kasihan padanya? Apa kau tidak bisa menaruh posisimu padanya? Kau ingat dulu, kau juga pernah seperti ini. Dan bagaimana susahnya kamu untuk bertemu Disthi. Jadi aku harap kau beri dia kesempatan untuk berbicara pada Jasmin. Urusan maaf meaafkan biar mereka berdua yang selesaikan." Jelas Rey panjang kali lebar
Junior hanya bisa terdiam. Sepintas kenangan tentang dirinya yang juga dulu pernah berjuang untuk Disthi. Lalu Junior menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku tidak sama dengannya. Dia lebih parah dari aku." Tegas Junior.
"Egois!" Ucap Rey lalu berdiri dari duduknya.
"Mau kemana?" Tanya Junior.
"Mau mencari uang yang banyak." Jawab Rey lalu keluar dari ruangan Junior.
Junior menghela nafas. Karna meskipun dia bos disini tapi tetap saja dia selalu kalah bicara oleh Rey sih mulut tanpa filter dan selalu saja ujung-ujung pembicaraannya uang, uang dan uang.
Rey berjalan dengan cepat, agar tidak telat menemui orang yang sedang ia targetkan untuk mendapatkan pundi-pundi uang. "Aku harus bertemu dengannya." Dengan semangat 45 Rey berjalan. Rey membayangkan uang masuk ke rekeningnya dengan nominal yang sangat banyak.
"Dimana dia?" Gumam Rey melihat kesana kemari. Mencari keberadaan orang yang ingin dia temui. "Itu dia!" Dengan senyum mengembang diwajahnya Rey berjalan menuju mobil yang kini sedang terparkir.
Tok..tok..tok.. Rey mengeruk pintu mobil, membuat seseorang yang berada didalam mobil langsung tersadar dari lamunannya.
Rey memberikan kode, agar menurunkan kacanya. Dan seseorang yang berada didalam mobil pun menuruti perintah Rey.
__ADS_1
"Buka pintunya." Ucap Rey, dan kemudian pintu terbuka. Rey segerah masuk kedalam mobil tersebut. Dan langsung menutup pintu dan kaca mobil.
"Siapa?" Tanya Dave.
"Tidak usag bertanya siapa aku. Yang jelas jika ingin bertemu dengan Jasmin, maka ikuti apa keinginanku."
"Apa itu? Apa pun akan aku lakukan asal kau benar-benar bisa mempertemukan ku dengan Jamsin."
"Tidak sekarang."
"Kenapa?" Tanya Dave.
Dengan segera Dave mengambil dompetnya yang berada dikantong celana belakang, dan membuka dompet lalu menyerahkan kartu namanya ke Rey.
Rey mengambil kartu tersebut lalu memasukkan kesaku celananya. "Baiklah, tunggu kabar dariku. Dan lebih baik kau pulang lah saja dulu."
Rey membuka pintu mobil.
"Terima kasih" ucap Dave tulus. Setidaknya ada harapan meski hanya secuil debu. Tapi Dave tidak akan menyerah dengan harapan itu.
__ADS_1
Rey dengan penuh semangat kembali berjalan ke ruangan Junior. Sambil melihat kartu nama yang Dave tadi berikan padanya.
"Waoo" kata Rey saat membaca kartu nama Dave. "Lumayan, akhirnya rekeningku bisa kenyang bulan ini." Lalu disimpan nya kembali kartu nama itu di dalam kantong celananya.
"Apa ini, kenapa ada keributan lagi?" Rey heran. "Tunggu itukan, Al" lalu Rey langsung mendekat.
"Sudah aku katakan, Jasmin tidak ingin bertemu dengan mu." Bentak Junior.
"Aku tidak ada urusan denganmu, tapi dengan Jasmin." Al tidak mau kalah.
Akhirnya kedua nya saling menarik kera kemeja satu sama lainnya.
"Aku anggap kau sebagai kakak. Aku harap kau bisa jaga sikap mu." Tegas Junior.
"Jangan banyak ucap, cepat minggir."
"Ingat posisimu Al." Murkah Junior dan langsung memberi bogeman mentah kewajah Al.
"Hentikan!!" Sentak Rey memisahkan keduanya. "Apa kalian tidak malu, haa??" teriak Rey. "Dan kalian semua" Rey menatap karyawan yang sedang berdiri menonton. "Kembali bekerja, jika tidak ingin gaji kalian dipotong." Ancam Rey.
__ADS_1