Wanita Bayaran

Wanita Bayaran
bab 35 Jesika menyesali perbuatannya


__ADS_3

dengan berlinang air mata Rosa berdiri sambil menghentikan taksi untuk pulang ke rumah. sebelum Rosa masuk kedalam taksi, tepat dibelakang mobil taksi itu pak Hardi menatapnya dari dalam mobil saat mengendarai mobilnya menuju kantor perusahaannya


Pak Hardi ingin berteriak memanggil Rosa namun supir taksi itu langsung mengendarai mobilnya dengan laju, dengan merasa sial Pak Hardi mengepal jari-jari tangannya dengan kuat.


kemudian Pak Hardi melanjutkan perjalanannya menuju kantornya, sampainya di kantor Pak Hardi dia menatap kedua orang tua Jesika sedang duduk menunggunya, dengan tatapan panas Pak Hardi berjalan menghampirinya.


"Pak Hardi, boleh kah kita bicara sebentar? "kata papanya Jesika


"baiklah, sebaiknya kita bicara di dalam ruangan saya "kata Pak Hardi langsung masuk kedalam ruangan kerjanya


mereka langsung naik ke lantai atas dengan naik lift, sampainya di ruangan Pak Hardi mereka langsung duduk dan ngobrol sambil minum


"apa yang membuat Pak Rudi dan Bu soraya datang kemari?"tanya Pak Hardi menatapnya


"begini Pak Hardi, sebenarnya saya malu membicarakan tentang putri saya kepada bapak tetapi karena istri saya tidak sanggup melihat putri kami yang sudah dua minggu tidak mau keluar dari kamar dan selalu memikirkan Rehan "kata Pak Rudi


"jadi hanya itu yang Pak Rudi dan Bu Soraya sampaikan kepada saya? "tanya Pak Hardi tersenyum mengejek


"tanda persahabatan kita sejak dari dulu saya ingin Pak Hardi memaafkan putri saya dan kembali bersama Rehan "kata Pak Rudi dengan memohon


"Saya sudah memaafkan Jesika tetapi saya tidak bisa Memaksa Rehan untuk mencintai Jesika,


jadi maaf saya tidak ada waktu untuk membahas rumahtangga mereka "kata Pak Hardi sambil memeriksa berkas-berkasnya.


Pak Rudi yang rendah hati hanya diam sambil memikirkan tingkah laku putrinya itu, dengan sangat emosi Bu Soraya langsung berdiri sambil menatap Pak Hardi dengan mata sinis ya itu dan berkata.


"Anda memang sangat kejam sudah menghancurkan putri saya!! "perkataan Bu Soraya membuat Pak Hardi langsung berdiri menatapnya dengan tatapan tajam dan emosi


"cukup mah, anak kita yang sudah salah "teriak Pak Rudi membuat Pak Hardi mengalihkan pandangannya dan mengontrol emosinya.


"saya tidak tinggal diam pah, bukan kah dia yang menjodohkan Rehan dengan putri kita karena persahabatan papa dengan Pak Hardi dari dulu!! "kata Bu soraya dengan keras.


"iya, itu memang benar!


tapi Jesika sudah meng-hianati suaminya sendiri dan saya sangat menyesal sudah menghancurkan kebahagiaan anak saya "kata Pak Hardi sambil menatap kearah dinding kantornya.

__ADS_1


"saya tidak percaya kalau Jesika putri saya berani meng-hianati suaminya sendiri "jawab Bu Soraya dengan lancang


dengan merasa emosi Pak Hardi langsung memberikan surat hasil tes DNA Andre yang sudah dilakukan tiga minggu yang lalu


dada Bu Soraya terasa sesak setelah mengetahui kalau andre bukanlah anaknya Rehan.


Dengan sangat malu Bu Soraya langsung menarik tangan Pak Rudi dan keluar dari kantor Pak Hardi, Pak Hardi hanya diam menyaksikan kepergian Bu Soraya dan suaminya itu dengan senyum mengejek.


sampainya di rumah Pak Rudi


Bu Soraya langsung berjalan menuju kamar Jesika dan mendorong pintu kamarnya dengan keras, dengan sangat marah dan emosi Bu Soraya langsung menarik rambut Jesika dengan keras sambil berkata.


"Jesika, kamu sudah membuat ibu sangat malu "teriak Bu Soraya sambil menampar wajah Jesika berulang-ulang


"hentikan mah, aku tidak mengerti dengan apa yang mama bicarakan "kata Jesika sambil melepaskan tangan Bu Soraya dari rambutnya


"lihat, lihat ini! "kata Bu Soraya sambil menunjukkan surat hasil tes DNA anaknya


"mama, maafin Jesika "kata Jesika sambil memeluk kedua kaki Bu Soraya dengan berlinang air mata


"mama, tidak ingin melihat kamu Jesika "


"Jesika, mama sangat malu punya anak seperti kamu "teriak Bu Soraya langsung pergi menuju kamarnya


*mama, tolong maafin saya*Jesika berkata-kata sendirian sambil menangis histeris di dalam kamarnya


Pak Rudi yang begitu baik menghampiri Jesika yang sedang menangis di tepi ranjang


kemudian Pak Rudi memeluk Jesika dan berkata.


"Jesika, papa sudah salah!


papa tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kamu "kata Pak Rudi sambil mengusap-usap rambut Jesika.


"papa, saya yang salah dan bodoh sudah membuat papa dan juga mama sangat malu, tidak seharusnya saya tinggal di rumah ini" kata Jesika sambil menangis

__ADS_1


"Jesika, kamu gak boleh pergi ninggalin papa sama mama dan kamu harus janji akan berubah menjadi putri papa yang baik " kata Pak Rudi dengan lembut


Jesika hanya menganggukkan kepalanya sambil menangis di pelukan Pak Rudi, setelah beberapa menit Jesika langsung berbaring di atas ranjang.


jam menunjukkan pukul 07:00pagi Jesika langsung bangun dari tidur dan berjalan menuju kamar mandi setelah siap mandi dan berpakaian Jesika langsung pergi menemui Dion ayah dari anaknya itu.


Dion tinggal tidak jauh dari rumah Pak Hardi hanya sekitar tiga kilometer, sampainya di rumah Dion Jesika langsung masuk kedalam rumah dan mendapati pembantunya sedang mengepel lantai rumah.


"bi, Dion ada di rumah gak?"tanya Jesika sambil melirik isi rumahnya


"non, den Dion sudah pergi sejak dua hari yang lalu ke Bandung " kata pembantunya itu


"oh, kapan pulangnya bi? "tanya Jesika menatapnya dengan sinis


"gak tau non, "jawabnya


dengan merasa sial Jesika langsung keluar dan berkata-kata di dalam hati


*sial, Dion pergi gak kasih kabar*


setelah beberapa menit Jesika langsung masuk kedalam mobil dan mengendarai mobilnya dengan laju, Jesika memilih untuk menjemput anaknya yang sudah duduk di bangku SD dengan perjalanan kira-kira 30 menit dari rumah Dion.


sampainya di sana dia menatap anaknya sedang berjalan menghampiri mobilnya yang sedang parkir menunggu anaknya. setelah itu mereka memilih untuk pulang menuju rumah.


setelah beberapa hari sifat Jesika yang sudah mulai berubah mencoba hidup dengan mandiri, biasanya dia adalah wanita pemalas dan masih mengharapkan harta orang tuanya.


Jesika sengaja membuat surat lamaran diberbagai perusahaan


namun semuanya tidak menerima lowongan kerja hingga membuat Bu Soraya dan Pak Rudi sangat terharu kemudian mereka menghampiri Jesika yang sedang duduk di tepi ranjang


"Jesika, papa sama mama ingin supaya kamu yang mengurus perusahaan papa "kata Pak Rudi sambil menatapnya


"papa, Jesika ingin mandiri


Jesika ingin merasakan bagaimana rasanya cape "kata Jesika dengan mata berkaca-kaca

__ADS_1


"baiklah, terserah kamu saja " kata Pak Rudi sambil mengusap usap pundak Jesika


mereka langsung keluar dari kamar Jesika dan menutupkan pintu kamarnya. Jesika yang masih terbayang dengan perlakuan buruknya disaat bersama keluarga Pak Hardi menyesali perbuatannya sambil menangis


__ADS_2