Wanita Bayaran

Wanita Bayaran
72


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, kini mobil yang Dave kendarai telah tiba dipekarangan rumahnya. Dave menoleh ke kiri melihat Ryan yang kini tertidur pulas. Dave turun dari mobil dan menutup pintu secara perlahan, dan memutari mobil dan kembali membuka pintu mobil disisi Ryan. Secara perlahan Dave mengangkat tubuh Ryan hingga masuk kedalam rumah, dan tak lupa memerintahkan kepada para art nya untuk mengambil barang-barang yang ada didalam mobil.


"Dad .." Panggil Ryan kala Dave ingin melangkah keluar dari kamar Ryan.


"Ya sayang." Dave kembali berjalan dan duduk ditepi ranjang.


"Apa kita sudah sampai?" Tanya Ryan sambil memandang kamarnya yang begitu luas dan sangat mewah. Dave menganggukkan kepalanya.


"Dimana ibu?" Tanya Ryan kembali.


"Ibu?" Ulang Dave, lalu terdiam.


"Dimana ibuku, Dad? Aku ingin bertemu dengan ibu."


"Sayang, bersabarlah dulu. Besok aku janji akan membawamu untuk bertemu dengan ibu mu." Janji Dave sambil mengusap pucuk kepala Ryan, "Tidurlah kembali, Dad janji besok kita akan pergi menemui ibumu."


Ryan mengangguk setuju dan mengikuti perintah Dave. Ryan sudah tidak sabar ingin secepatnya malam ini berlalu. Tapi berbeda dengan Dave, saat ini hatinya berdebar tak karuan, bahkan Dave sulit sekali untuk memejamkan matanya malam ini. Dave juga tak sabar ingin bertemu Jasmin dan meminta maaf langsung pada Jasmin, namun Dave khawatir jika Jasmin tidak bisa memaafkan dirinya, mengingat kesalahan yang ia lakukan pada Jasmin yang begitu sangat fatal dan menurutnya itu sangat sulit untuk dimaafkan.


......


Pagi hari pun menyapa. Dengan penuh semangat Ryan bangun dan membersihkan dirinya, lalu keluar dari kamar untuk menemui Dave.


"Dad .." Panggil Ryan lalu menatap sekeliling isi dalam rumah yang ia tempati sekarang. "Sangat besar" batin Ryan.


"Pagi tuan muda" sapa salah satu art sambil menunduk di hadapan Ryan.


Ryan pun ikut menunduk dan berkata "Pagi juga tante"

__ADS_1


Wanita yang berumur kisaran 40tahun itu tersenyum melihat Ryan yang begitu sangat ramah menyapa kembali dirinya.


"Tante dimana Dady ku?"


"Tuan masih berada dikamarnya, tuan muda" jawab Bibi tersebut.


"Tante bisa mengantarku?" Tanya nya kembali, karna sejujurnya Ryan bingung dimana kamar Dady nya mengingat rumah ini begitu luas.


"Ikut Bibi tuan." Bibi mengajak Ryan dan mengantar Ryan menuju kamar Dave.


"Tuan muda, ini kamar tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Terima kasih tante" ucap Ryan tulus. Inilah yang selalu Jasmin ajarkan kepada anaknya selalu hormat kepada yang lebih tua, dan jangan lupa selalu mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah membantu kita dalam hal sekecil apapun itu.


...πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ...


Jasmin diam mematung didalam mobil, kala mobil yang Junior kendarai pagi ini telah tiba dipekarangan rumah mom Yoona, orang tua Jasmin.


"Kak, aku takut." Jasmin menundukkan kepalanya.


"Takut? Takut untuk apa?" Tanya Junior sambil menautkan alisnya. "Mom sangat rindu padamu. Ayo kita turun" ajak Junior.


"Aku takut mom akan kecewa padaku. Aku anak perempuan satu-satunya dan .." ucapan Jasmin berhenti ia meneteskan air matanya. Entah kenapa dengan mata Jasmin, semenjak ia hamil, hal sekecil apapun selalu saja Jasmin baper dan muda mengeluarkan air matanya. Padahal Jasmin yang dulu tidak seperti ini.


"Dan apa?" Tanya Junior dengan serius.


"Dan sekarang aku pulang dalam keadaan hamil tanpa suami" lirihnya dan semakin banyak air mata yang keluar menetes tanpa bisa dihentikan.

__ADS_1


Junior langsung memeluk Jasmin. Menepuk pundak belakang Jasmin, memberikan ketenangan. "Aku yakin Mom akan sangat bangga padamu Jas, tidak ada wanita yang sekuat dan setegar dirimu. Jadi jangan malu dan jangan takut, karna tidak semua perempuan bisa tahan dan kuat berada diposisimu." Lalu setelah berkata seperti itu, Junior melepas pelukannya da menatap wajah Jasmin, dan menghampus air mata di pipi mulus Jasmin. "Ayo kita turun, Mom dan Dad mu sudah sangat merindukan mu. Terlebih Derald, sejak kau pergi dia selalu saja termenung." Ajak Junior dan Jasmin menganggukkan kepalanya.


Pintu dibuka lebar-lebar oleh Junior. Entah ini yang dinamakan ikatan batin antara seorang ibu dan anak. Mom Yoona yang semenjak semalam tidak bisa tidur, terus saja berada di ruang tamu, entah kenapa perasaannya mengatakan jika anaknya Jasmin akan pulang. Dan benar saja saat ini Mom Yoona teleh melihat sang anak ada di depan matanya.


Air mata Mom Yoona langsung jatuh tanpa bisa dibendung lagi. Mom Yoona langsung merentangkan kedua tangannya. Dan Jasmin pun langsung memeluk tubuh Mom nya. Tak ada dari satupun yang berbicara, mereka berdua saling berpelukan sambil menangis. Kerinduan yang amat terdalam dilepas dalam pelukan.


Junior yang berada di situ, ikut meneteskan air matanya dan berlalu masuk kedalam rumah meninggalkan Jamsin dan Mom Yoona.


Setelah cukup lama keduanya saling berpelukan sambil menangis, kini Mom Yoona melepas pelukannya dan mencium seluruh wajah Jasmin.


"Bagaimana kabarmu sayang? Kamu sehat? Apa ada yang sakit? Kamu lapar? Kamu selama ini tidur dengan nyenyak?" Berbagai macam pertanyaan yang keluar dari bibir Mom Yoona sambil terus mengecup pucuk kepala Jasmin lalu kembali memeluk putri tercintanya yang sangat ia rindukan.


"Ibu sangat merindukan mu sayang, jangan pergi lagi. Tetaplah disini di sisi ibu."


"Mom .." satu kata berhasil keluar dari mulut Jasmin.


Mom Yoona menangis mendengar panggilan dari Jasmin. Panggilan yang begitu sangat ia rindukan selama ini.. Lagi-lagi air mata sangat sulit untuk dikendalikan. Keduanya larut dalam tangis, kerinduan yang sangat mendalam membuat mereka larut dengan tangis dalam pelukan.


"Mom .." Panggil Jasmin lagi dengan lirih. "Maafkan Jasmin."


Huaaaaaaaa, jari autor ikut mewek..


Dan ada reader bertanya.


R : "Tor adakah novelnya kisah nyata atau terinspirasi gitu?"


A : Jawab di bab selanjutnya yah kak..

__ADS_1


Jangan ki lupa like lek. πŸ₯°


Calangheeooo semuanyaπŸ€—πŸ€—


__ADS_2