
Beberapa jam berbincang dengan Rifqi dan juga Tyas, Jasmin sedikit melupakan kerinduannya terhadap Ryan. Namun pada saat Rifqi pulang, ia mulai sedikit curiga, karna kenapa sehari lebih ini Dave tidak juga memberikan kabar, dan tumben juga Ryan tidak mencari dirinya.
Perasaan gelisah menyeruak di dalam diri Jasmin. Entah kenapa ia semakin gelisah memikirkan Ryan, hingga akhirnya Jasmin memutuskan untuk mengajak Tyas untuk bersama-sama menemui Ryan di rumah Dave.
"Baiklah, ayo sekarang kita pergi." Jawab Tyas setelah Jasmin mengajaknya tadi. Tyas begitu sangat bersemangat untuk bertemu dengan Ryan, karna sudah sangat rindu. Rindu yang tak bisa ia tahan lagi.
"Ayo," ajak Jasmin
Namun saat keduanya hendak berjalan keluar dari rumah, Mom Yoona langsung memanggil Jasmin, membuat Jasmin menghentikan langkahnya.
"Papi ingin bicara dengan mu sayang." ucap Mom.
"Tapi Mom, aku ingin-,"
"Sayang, papi ingin kau yang memberikannya obat" kata Mom Yoona, dan Jasmin pun menyetujuinya.
"Tyas, mungkin malam ini kita tunda saja. Besok kita ke sekolah Ryan."
"Aku hanya ikut sama kamu saja Jasmin." kata Tyas, namun dalam hati sebenarnya ia kecewa karna harus batal lagi bertemu dengan Ryan.
__ADS_1
Sejujurnya Jasmin pun juga merasa kecewa, karna lagi-lagi rindunya harus terpendam karna Jasmin harus mengurus sang Papi.
"Syukurlah, semoga Jasmin tidak curiga."Batin Mom, saat Jasmin kini mulai melangkah menuju kamar Papi.
Didalam kamar,
Jasmin mengurus Papinya dengan sangat baik, dan sang Papi pun terus mengajak Jasmin berbicara agar Jasmin bisa melupakan Ryan sesaat.
.........
Gubrakkkk... Suara meja yang di gebrak oleh Dave karna lagi-lagi orang suruhannya telah gagal menemukan jejak tentang Margaret.
"Dia sangat cerdik Bos."kata Salah satu anak buah Dave.
"Makanya kalian gunakan otak kalian, jangan hanya mengandalkan otot kalian yang tidak berguna itu."
Ponsel Dave berdering, membuat Dave tidak meneruskan lagi marahnya. "Keluar kalian." Pintahnya, lalu melirik ke ponselnya. Di sana jelas sekali tertera no ponsel Jasmin. Namun Dave tidak menjawab panggilan Jasmin, membuat Jasmin tak kunjung menyerah, ia terus saja menelpon hingga Dave mengehal nafas lalu menggeser icon hijau di handponenya.
"Dimana Ryan?" tanya Jasmin saat panggilan telah terhubung.
__ADS_1
"Ryan.." sesaat Dave terdiam, ia pusing harus menjawab apa. karna ia tahu, Jasmin bukan wanita yang mudah untuk di bohongi.
"Dimana Ryan." Tanya ulang Jasmin.
"Dia sudah tidur." bohong Dave tapi Jasmin terdiam sesaat.
"Dimana?" tanya Jasmin.
"Aku?"
"Bukan kamu. Tapi Ryan, dimana Ryan?" tanya ulang Jasmin.
"Sudah aku katakan Ryan sudah tidur."
Lalu Jasmin mengubah panggilan telpon menjadi panggilan video. Dave langsung pusing, Jasmin benar-benar wanita yang sangat sulit untuk di bohongi. Batin Jasmin dan Ryan sangat dalam dan erat.
"Kenapa tidak di jawab?" Setelah panggilan terputus Jasmin langsung mengirim pesan.
"Nanti aku telpon kembali." Jawabnya tidak pada tema pertanyaan.
__ADS_1
Dan Jasmin tidak lagi mengirim pesan atau pun menghubungi Dave.