
"Dady apa kita jadi untuk menemui ibu?" Tanya Ryan saat keduanya sedang berada di kamar.
"Iya sayang." Jawab Dave.
"Horeeee" teriak Ryan penuh dengan bahagia.
Lalu Dave meraih ponselnya yang berada di atas nakas dan mencoba menghubungi orang kepercayaan nya.
"Aku ingin kamu mencari tahu semuanya tentang ibu Ryan. Foto sudah aku kirim dan aku mau info yang akurat satu jam dari dari sekarang. Aku ingin mendengar kabar darimu."
"Baik tuan."
Lalu Dave mematikan ponselnya. Dan menatap wajah Jasmin yang berada di hp nya. "Dimana pun kamu, aku akan menemukan mu dan membawamu kembali pada ku dan kepada Ryan." Batin Dave
Sedangkan di tempat lain, di rumah Mom Yoona, kini Jasmin dan juga Mom nya sedang melepas rindu.
"Apa pun yang terjadi jangan pergi lagi." Ucap Mom Yoona.
"Iya Mom, Jasmin janji."
Mom Yoona menarik tangan Jasmin menuju kamar utama, dimana Dad Adam yang kini tengah berbaring.
"Dady .." Lirih Jasmin saat pintu kamar terbuka.
__ADS_1
Dad Adam pun menoleh kesumber suara, ia hafal betul dengan suara yang saat ini tengah memanggilnya Dady. Ia begitu rindu dengan panggilan itu dari putri tercintanya. Tanpa di minta air mata Dad Adam menetes melihat sang putri tercinta yang kini berada di depan pintu. "Sayang." Katanya dengan lemah.
Jasmin langsung berlari berhamburan mememeluk tubuh Dady Adam yang masih berbaring ditempat tidur. "Dady.." lirihnya. "Maafkan Jasmin." Timpalnya kemudian diikuti oleh sela tangis.
"Maafkan Dady." Ucap Dad Adam.
Jasmin menggelengkan kepalanya di dada Dady nya. "Aku yang salah Dad, aku salah telah pergi."
"Dady rindu padamu sayang."
Keduanya larut dalam tangis, Mom Yoona yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar ikut mengeluarkan air mata. Penantian nya kini tak sia-sia. Anak nya akhirnya pulang kembali kerumah mereka.
"Terima kasih YaRabb. Semoga ini akhir yang bahagia." Gumam Mom Yoona.
"Kak Jasmin.." Teriak Derald sambil berlari masuk kedalam kamar Dady nya.
"Kak Jasmin.." ucapnya lagi lalu memeluk tubuh Jasmin.. "hiikksss, hikkksss, jangan pergi lagi. Rumah ini sepi tanpa kakak disini." Ucapnya.
"Derald, kau sudah dewasa." Kata Jasmin sambil mengusap pucuk kepala Derald.
Derald mengangguk." Aku rindu kak Jasmin. Kumohon! Jangan pergi lagi. Tetaplah kak Jasmin disini." Pinta nya.
Derald mendongakkan kepalanya menatap wajah Jasmin. "Janji padaku kak, jangan pergi lagi." Pintanya.
__ADS_1
Jasmin hanya bisa tersenyum, ia belum bisa janji akan hal itu. Jasmin belum cerita kepada Mom dan juga Dad tentang keadaan nya yang saat ini sedang hamil. Jasmin masih takut jika Mom dan Dad nya kecewa akan apa yang terjadi pada dirinya..
"Ayo ganti baju sekolah mu dulu." Jasmi berdiri dari duduknya. "Dad, aku keluar dulu. Mau menemui Junior."
"Jangan lama-lama. Dady masih merindukanmu."
...🍃🍃🍃🍃...
"Bagaimana apa kau sudah mendapatkan info tentang yang aku suruhkan padamu?" Tanya Dave yang sangat penasaran.
"Iya tuan."
Dan duaaarrrrrr, Dave bagai disampar petir saat mendengar penjelasan tentang siapa Jasmin sebenarnya. Dari keluarga mana Jasmin berasal.
"Tuan .. tuan." Panggil orang kepercayaan Dave di seberang sana saat panggilan masih terhubung.
"Ya." Jawab singkat Dave.
"Itu semua informasi yang tuan minta. Apa masih ada lagi tuan?"
"Sudah cukup!" Lalu Dave mamutuskan sambungannya.
"Bodoh" satu kata keluar dari bibir Dave. Ia mengatai dirinya sendiri bodoh. "Kenapa kau tidak curiga dari dulu, Jasmin Luthfi Adam. Harusnya aku tahu kalau dia anak dari pengusaha sukses Adam." Gumamnya.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku yakin semakin sulit untuk mendapat maaf darinya."