
"Aunty Tyas.." Panggil Ryan sambil berlari kearah Tyas yang sedari tadi sudah menunggunya dihalaman sekolah.
Tyas yang melihat Ryan berlari, langsung merentangkan kedua tangannya agar Ryan bisa masuk kedalam pelukannya. "Sayang"
"Aunty, Ryan rindu." Ucapnya sambil menenggelampak kepalanya di punda Tyas, yang kini sedang berjongkok dihadapannya.
"Sama sayang, aunty pun juga rindu." Tyan mengusap lembut punggu Ryan, lalu melepas pelukannya dan mencium kening Ryan. "Bagaimana kabarmu?" Tanyanya.
"Baik aunty." Jawabnya dengan wajah yang nampak begitu sedih.
"Ada apa? Katakan apa yang terjadi? Kenapa wajahmu seperti ini sayang?"
"Aunty, aku rindu ibu." Jawabnya dengan air mata yang sudah tak dapat Ryan bendung lagi. "Ryan rindu ibu, apa aunty mau menjemputku dan mengantarku bertemu dengan ibu." Ucap Ryan kembali dengan suara yang tersendat-sendat karna menangis.
Tyas langsung meraih tubuh Ryan masuk kedalam pelukan nya. "Jangan menangis sayang."
"Ibu .." Lirih Ryan
Tak terasa air mata Tyas pun ikut menetes, sungguh Tyas tak sanggup menceritakan kepada Ryan jika Jasmin sudah pergi dari kota ini. "Sudahlah sayang jangan menangis lagi. Ibumu pasti bersedih jika tahu kau menangis seperti ini."
Lalu Ryan mengusap air mata yang ada dipipinya. "Aunty, antarkan aku kerumah ibu."
__ADS_1
"Sayang, bukannya aunty tidak mau. Tapi ini masih jam sekolah. Masa jagoannya ibu Jasmin bolos belajar. Nanti klo ibumu tahu, dia akan marah."
"Ibu tidak pernah marah, aunty."
"Iya karna ibu sayang Ryan, tapi jika Ryan bolos sekolah, ibu tidak suka itu."
Ryan menganggukkan kepalanya, paham dengan apa yang Tyas katakan.
"Baiklah, sekarang masuklah kembali bejalar."
"Tapi janji dulu aunty."
"Ya sayang, janji apa?"
Tyas tersenyum sesaat lalu menautkan jarinya ke jari Ryan. "Iya sayang, aunty janji"
Lalu setelah Ryan melepas jarinya, ia berlari masuk kedam kelas. Sungguh Ryan sangat tidak sabar menunggu jam pulang sekolah selesai. Ryan sudah tidak sabar ingin melepas rindu pada sang ibu tercinta. Ibu yang selalu ada untuknya.
Tyas yang melihat Ryan berlarih, merasa bersedih karna harus berbohong untuk menunggu Ryan, dan juga Tyas sungguh tidak mampu jika harus meneceritakan ke Ryan. Pikir Tyas apa yang akan Ryan lakukan nantinya jika ia tahu bahwa ibunya telah pergi meninggalkan kota ini dengan sejuta kenangan indah bersama dengan Ryan, dan juga dengan sejuta kenangan luka dengan Dave yang selalu saja menyakiti hati Jasmin.
"Ayo Jasmin." Ajak Junior saat ia sudar rapi ingin berangkat kerja ke perusahaan.
__ADS_1
Jasmin yang sudah sedari tadi rapi menunggu Junior diruang tamu, langsung berdiri dari duduknya. "Ayo." Katanya mengulang.
"Jasmin." Panggil Disthi
"Ya"
"Kau yakin, akan bekerja kembali?"
"Mau tak mau, aku harus mau. Aku harus membuktikan kalau aku bukan wanita seperti yang pria itu katakan."
Disthi memeluk tubuh Jasmin. "Semoga harimu menyenangkan, aku doakan kelak kau akan mendapatkan kebahagian yang tak terhenti."
"Aamiin"
"Ayo" ulang Junior sambil melirik jam yang melingkar ditangan nya.
"Aku pergi dulu Dis" pamit Jasmin.
"Sayang, kami pergi dulu yah. Baik-baik dirumah." Pamit Junior sambil mengecup kening Disthi.
"Iya sayang. Ingat jaga Jasmin dengan baik-baik."
__ADS_1
Di dalam mobil, Jasmin hanya terdiam memandang kaca samping, ia terus saja memikirkan bagaimana keadaan Ryan saat ini, apakah Ryan sudah makan? Apakah Ryan tidur dengan nyenyak? Apakah Ryan tidak kesulitan memakai seragam sekolahnya? Pertanyaan itu terus saja terusik dipikiran Jasmin.
"Kau memikirkan anak mu?"