
Ponsel Dave berdering, membuat Dave melepaskan pelukannya dari Jasmin. Dave melihat kelayar ponsel, tertera di sana panggilan dari salah satu anak buahnya.
"Siapa?" tanya Jasmin, dengan raut wajah yang cemas. "Ayo di jawab, mungkin saja itu berita dari Ryan." timpalnya lagi
Lalu Dave menjawab panggilan tersebut. Dave lalu berdiri, dan menunduk lalu mencium kening Jasmin. "Aku pergi dulu, aku janji akan membawa Ryan kembali." Ucapnya, namun Jasmin meraih tangan Dave.
"Aku ikut." Pinta nya.
"Tapi Jasmin-,"
"Aku bilang, aku mau ikut. Titik!" Ucap Jasmin lalu turun dari tempat tidur dan berjalan mendahului Dave. "Ayo kita pergi." Ajaknya kemudian.
Dave hanya bisa menghela nafas, Jasmin memang sangat sulit untuk di taklukkan. Jika ia sudah berkehendak, maka tak ada yang bisa menghalanginya. Lalu Dave meraih ponselnya menghubungi Junior, agar bisa menjaga Jasmin di sana nanti.
Dan setelah selesai menghubungi Junior, kini Dave dan Jasmin pergi menuju tempat di mana Ryan saat inu sedang di tawan.
"Apa tempatnya sangat jauh?" tanya Jasmin, daat keduanya kini sedang berada di dalam mobil.
Dave yang mengendarai mobil hanya bisa menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Aku mohon padamu, nanti kau hanya boleh menunggu di mobil saja."
"Tapi aku ingin."
"Jasmin, tolong dengarkan ucapanku. Aku tidak ingin kau dan bayi kita ada dalam bahaya."
"Tapi Ryan. Bagaimana dengan Ryan?" Tanya Jasmin yang tidak setuju dengan permintaan Dave.
"Aku yang akan mengurus Ryan, aku yang akan menolongnya."
"Tidak! aku tidak ingin. Bagaimana jika Ryan menangis mencariku, bagaimana jika Ryan lapar, Bagaimana jika Ryan kedinginan. Lalu siapa yang akan memeluknya, jika aku hanya duduk di mobil sambil menunggu. Aku tidak ingin seperti itu."
"Sungguh mulia hatimu Jasmin, disaat Margaret kejam dengan Ryan, justru kau yang bukan ibu kandungnya mengkhawatirkan Ryan. Aku tidak menyesal mengenalmu. Justru aku menyesal telah jahat padamu. Andai waktu bisa diputar, aku ingin mengenalmu dari awal dengan kesan yang baik." Batin Dave.
"Dave! kenapa kau hanya diam. Oke baiklah, diammu aku anggap setuju."
...🍃🍃🍃🍃🍃...
"Jadi mereka sudah datang kesini?" tanya Margaret pada anak buahnya.
__ADS_1
"Iya nyonya, dan seperti yang nyonya katakan. Jasmin juga ikut serta kesini."
"Bagus!" Kata Margaret lalu memberi kode dengan tangan agar anak buahnya keluar dari ruangan.
Margaret tersenyum penuh arti, rencana yang ia rancang sedemikian rupa berjalan dengan mulus. Tidak sia-sia ia melakukan hal nekat dengan menculik anak kandungnya sendiri. "Tinggal selangkah lagi, dan kau akan menjadi milikku selamanya Dave." Gumam Margaret lalu tertawa dengan sangat kerasnya.
Ryan yang berada di tempat itu, hanya bisa menatap iba pada sang ibu kandung, yang tega melakukan segala cara agar keinginannya terpenuhi.
"Ibu,"Teriak Ryan, saat salah seorang anak buah datang langsung menggendong tubuh Ryan. "Lepaskan!" teriak Ryan sambil memukul tubuh pria itu.
"Ibu" Teriak Ryan kembali.
"Jangan dengarkan perkataan anak kecil ini. Bawah dia!" Titah Margaret. "Jangan biarkan dia menggagalkan rencanaku, kau harus tega melakukan apapun pada anak ini, jika Dave tidak ingin menikahiku."
"Baik nyonya."
"Lepaskan! ibu kumohon, ini salah bu. Ibu." Teriak Ryan kembali, namun percuma saja karna Margaret sama sekali tak menggubrisnya.
Hati Margaret sudah gelap tidak ada lagi perasaan cinta dan sayang untuk sang anak. Yang ada di benaknya saat ini, hanya bagaimana bisa ia menikah dengan Dave, dan merebut harta Dave, agar ia bisa hidup dengan tenang dan dengan bergelimang harta.
__ADS_1