Wanita Bayaran

Wanita Bayaran
92


__ADS_3

"Ibu .. Maukah Ibu memaafkan Daddy? Kasihan Daddy, Bu. Daddy sudah sangat menyesal, setiap malam .." Ucapan Ryan terpotong kala ia mengusap air mata yang sudah membanjiri pipinya. Bahkan ingusnya pun sudah keluar.


"Sayang." Jasmin mengusap air mata Ryan. "Hey jangan menangis. Sayang nya ibu ngak boleh sedih."


"Ibu.. Setiap malam aku selalu melihat Daddy menangis dalam kesunyian. Paginya Daddy selalu tersenyum mengurusku dengan baik. Dan aku tahu ibu, Daddy hanya pura-pura tersenyum karna tak ingin terlihat lemah dihadapanku." Ryan menarik nafas, mengaturnya dengan perlahan. "Ibu, kumohon, maafkan Daddy." Pinta Ryan memohon pada Ibunya sambil meneteskan air matanya.


"Sayang.." Jasmin mengusap lembut pipi Ryan.


"Bu kumohon." Ryan mengatupkan kedua tangannya untuk memohon. "Maafkan Daddy demi aku, Bu!"


"Sayang.." panggil Jasmin. "Ayo bantu Ibu masak untuk makan malam" Ajak Jasmin mengalihkan pembicaraan. "Ayo sayang." Jasmin berdiri lalu menarik tangan Ryan, dan Ryan pun ikut.


"Ayo antar Ibu kedapur"


"Baiklah Bu."


Jasmin mengikuti Ryan yang berjalan sambil menggenggam tanganya.


Dave yang melihat Jasmin dan Ryan, merasa bahagia.


Tawa terdengar dari dapur. Rumah yang begitu besar dan megah ini akhirnya terdengar ramai karna kehadiran Ryan dan juga Jasmin. Bibi yanh selalu berada di dapur, merasa sangat bahagia melihat Jasmin yang begitu baik dan sopan kepada dirinya. Berbeda sekali dengan Margaret dulu yang hampir menjadi nyonya dirumah ini.


"Bi, tidak usah dibantu. Bibi istirahat saja, aku dan Ryan yang akan memasak untuk menu nanti malam."


"Tapi Nyonya.."

__ADS_1


Jasmin tersenyum. "Percayalah Bi, aku pandai memasak kok."


"Bi, Ibu itu orang yang hebat. Semuanya bisa ia lakukan." Timpal Ryan.


"Hhhmm." Dave berhadem membuat mereka yang ada di dapur menoleh kehadapannya


"Tuan." Sapa Bibi sambil menundukkan kepalanya.


"Bibi istirahat saja. Biarkan Ryan dan ibunya yang memasak untuk malam ini."


"Baik Tuan. Kalau begitu saya pamit dulu." Sopan Bibi sambil pergi dari dapur.


Saar Dave hendak berjalan keluar dari dapur. Tiba-tiba langkah nya terhenti. "Daddy mau kemana?" tanya Ryan.


"No Dad." Ryan menggelengkan kepalanya. Lalu kemudian menarik tangan Dave. "Daddy harus disini membantu ku dan membantu Ibu." Pinta Ryan.


"Tapi sayang." Ucap Dave dan Jasmin bersamaan.


"Ibu dan Daddy jodoh." Lalu Ryan tertawa.


Dave dan Jasmin saling pandang, dan terdiam sesaat


"Ibu, Daddy. Ayo kita mulai memasak." Ajak Ryan membuat keduanya tersadar dan langsung seperti salah tingkah.


...๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ...

__ADS_1


Setelah semua nya telah selesai. Kini Ryan berlari meninggalkan Dave dan juga Jasmin yang masih berada didapur.


"Terima kasih" tulus Dave.


"Iya." Jawab Jasmin lalu melangkah namun langkahnya terhenti karna Dave menahan tangannya.


"Terima kasih." Ucap Dave lagi.


"Tolong lepaskan" Pinta Jasmin.


"Terima kasih sudah membawa tawa dirumah ini. Dan terima kasih sudah mau memasak untuk makan malam."


"Untuk Ryan, bukan untukmu Dave."


"Tidak masalah. Itu sudah membuatku bahagia." Lalu Dave melepaskan tangan Jasmin.


Tapi Jasmin tidak melanjutkan langkahnya kala Dave berucap.


"Kau membuatku gila, setiap aku melangkah kemanapun aku pergi, aku selalu mendengar suaramu. Benar!! Aku hancur. Hancur karna terus memikirkanmu. Bahkan aku mabuk sampai rasa sakit ini hilang. Namun apa yang kudapat? Aku masih tetap saja memikirkan mu. Dan kau tahu?? Aku benar-benar tidak bisa melupakanmu. Maafkan aku, please maafkan aku Jasmin. Aku berjanji akan membawa tawa disetiap harimu."


Jangan lupa like dan komen yah...๐Ÿฅฐ


Ouh iyaa jangan lupa Vote juga.


calangheeeooo semuanya๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ

__ADS_1


__ADS_2