Wanita Bayaran

Wanita Bayaran
65


__ADS_3

Dave pulang tanpa mendapatkan informasi sedikitpun. Ia hanya berharap jika sabahat Jasmin datang berkunjung dan tetangga Jasmin mengabari dirinya. Dave masuk kedalam kamar melihat Ryan masih tidur dengan pulasnya. Sedangkan Margaret kini sedang duduk disofa.


"Kau sudah pulang? Dari mana saja? Tadi Ryan mencarimu" pertanyaan terlontar dari mulur Margaret


"Aku ada urusan." Jawab Dave cuek lalu menempelkan telapak tangannya di jidat Ryan, "syukurlag sudah turun panasnya."


"Jangan bilang kau mencari wanita gila itu. Jangan bilang kau mau menemuinya dan memanggilnya kembali untuk tinggal bersama kita disini."


"Aku lelah, aku mau istirahat. Lebih baik kau keluar" usir Dave lalu menutup pintu kamar Ryan.


"Buka pintunya!" Teriak Margaret dari luar, karna tidak terima Dave mengusirnya dan menutupkan nya pintu kamar.


Dave mengemasi pakaian Ryan. Dave memutuskan untuk membawa Ryan menginap dirumah Eryan, agar Ryan sedikit bisa mengurangi rasa rindunya pada sang ibu. Dan Dave juga bisa memiliki waktu untuk mencari tahu semuanya.


...🍃🍃🍃🍃...


"Dady .." Panggil Ryan saat sudah bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Kau sudah bangun? Mau makan apa? Dady buatkan."


"Ibu .. Aku mau ibu ada disini" jawab Ryan.


"Sayang, dengarkan Dady"


Dave duduk tepat di samping Ryan yang masih duduk ditempat tidur. "Dady janji akan mempertemukanmu pada ibu Jasmin, tapi makanlah dulu, setelah itu kita akan menginap dirumah Mika. Bagaimana?"


Ryan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin makan, aku ingin ibu." Ucapnya lagi.


Lalu Dave menghela nafas, dan meraih ponselnya laly menelpon Eryna. Setelah berbicara Dave akhirnya kembali membujuk Ryan, namun tetap saja Ryan tidak bisa dibujuk, karna maunya saat ini hanya ibu, tak ada yang lain.


"Cih .. dasar wanita matre, mau apa kamu kesini?" Tanya Eryna dengan sinisnya.


"Kau lupa, jika aku adalah calon nyonya Dave."


"Dalam mimpi!"

__ADS_1


Lalu Eryan melangkahkan kaki meninggalkan Margaret, namun Eryna berhenti kemudian berucap. "Wanita baik-baik tidak akan tinggal satu rumah dengan pria yang belum sah menjadi suaminya. Kecuali wanita itu ..?? Upsss" lalu Eryan menuju kamar Ryan membuat Margaret mengeram kesal dengan tingkah Eryna.


"Sayang, anaknya aunty. Kamu kenapa? Kata Dady mu kalau kamu sakit yah?" Tanya Eryna sambil menempelkan telapak tangannya dijidat Ryan.


"Aunty, apa aunty tahu ibuku ada dimana?" Tanya Ryan.


Lalu Eryna duduk di tepi ranjang, ia melihat kedalam mata Ryan, Eryna langsung merasa iba. Ia tahu betul jika saat ini Ryan sangat merindukan ibunya. Eryna langsung membayangkan bagaimana nasib Mika anaknya jika terpisah dari dirinya. Eryna langsung memeluk tubuh Ryan. Diusapnya punggu belakang Ryan dengan kelembutan, agar Ryan bisa merasa lebih tenang.


"Sayang, percaya sama aunty, apa pun yang terjadi. Aunty akan memepertemukan mu dengan ibu."


"Aunty janji?" Tanya Ryan sambil melepas pelukan dan menaikkan jari kelingkingnya.


"Ya sayang, tapi sebelum itu Ryan makan dulu, biar nanti jika ibu datang, ibu tidak akan sedih melihat anak kesayangan nya sakit. Karan kalau Ryan sakit, pasti ibu akan sedih."


Eryna mengambil mangkuk bubur yang berada diatas nakas, lau menyuapi Ryan secara perlahan hingga bubur tersebut habis tanpa sisa.


"Kamu istirahat dulu, aunty ingin menemui Dady mu."

__ADS_1


Ryan mengangguk setuju, kehadiran Eryna membantunya sedikit melepas rindu, sosok Eryna seperti sosok ibunya yang selalu memberi kehangatan dan ketenangan, berbeda dengan Margaret. Kehadirannya justru membuat Ryan tak nyaman.


__ADS_2