
"Jasmin lebih baik kau dan Ryan pulang dulu, biar aku yang di sini menjaga Dave." kata Junior yang kini berhadapan dengan Jasmin.
Mereka semua saat ini sedang berdiri menunggu di depan ruang operasi.
"Tidak Kak, aku mau tetap di sini." Ucapnya sambil mengusap lembut pucuk kepala Ryan, karna saat ini Ryan kini berdiri di samping Jasmin sambil melingkarkan kedua tangan nya ke pingga Jasmin.
"Bu, Daddy baik-baik saja kan?" tanya Ryan sambil mendongakkan kepalanya melihat wajah Jasmin.
"Tentu sayang, Daddy pasti baik-baik saja."
"Jasmin, Ryan." Teriak Tyas memanggil sambil berlari di lorong rs. "Apa yang terjadi? Kalian tidak apa-apa kan?" tanya Tyas sembari melihat Jasmin, lalu menunduk melihat Ryan.
"Aunty." lirih Ryan.
"Sayang." Tyas langsung memeluk tubuh Ryan.
"Kak Ty, apa aku boleh minta tolong?" tanya Jasmin.
"Iya, ada apa? katakan."
"Bawa Ryan pulang, tolong bersihkan tubuhnya."
"Baiklah."
"Tapi Bu.." Ucap Ryan.
"Sayang, pulang lah dulu. Biar ibu yang di sini menjaga Daddy mu."
__ADS_1
"Bu.."
Jasmin mengusap lembut pipi Ryan. "Maafkan ibu, karna bukan ibu yang membersihkan tubuhmu. Tapi ibu janji, setelah daddy mu sadar ibu akan pulang dan kembali mengurusmu sayang."
"Ayo Ryan, ikut aunty." Ajak Tyas.
"Menurut sama aunty Tyas yah sayang." Ucap Jasmin lalu mengecup pipi kiri dan kanan Ryan.
"Rifqi, mungkin sebaiknya kau antar Tyas pulang." pinta Jasmin.
"Aku?" tunjuk Rifqi pada dirinya sendiri.
"Ya." Jasmin menganggukkan kepalanya.
"Baiklah." Rifqi berjalan mendekat ke arah Ryan dan juga Tyan. "Ayo jagoan, biar aku yang menggendong mu" katanya sambil melirik ke arah Tyas yang berdiri di dekat Ryan.
"Sepertinya mereka pacaran" ucap Junior saat Rifqi dan Tyas sudah berjalan meninggalkan mereka.
"Aku tidak tahu." jawab Jasmin.
.........
Kini Dave telah selesai menjalankan operasi dan di pindahkan di ruang inap. Jasmin dan Juniorasih setia berada di samping Dave menunggu Dave hingga sadar. Jasmin tak pernah luput dari samping brangkar tempat Dave berbaring tak sadarkan diri. Jasmin terus menggenggap tangan Dave dan sesekali mengusap lembut pipi Dave.
"Sadarlah." ucap Jasmin.
"Jasmin. Aku pulang dulu." Pamit Junior. "Tapi tenang saja, aku sudah memberikan penjagaan yang ketat di sepanjang rs ini, jadi jangan takut, semua akan aman"
__ADS_1
"Makasih." ucap Jasmin.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Kalau ada hal yang penting hubungi aku secepatnya."
"Ya.."
Setelah Junior pergi, Jasmin menatap wajah Dave yang masih menutup matanya. "Kenapa kau menolongku?" tanya Jasmin, dan Dave tidak menjawab karna memang masih belum sadar.
"Ayo sadarlah, Ryan membutuhkan mu. Dan," Jasmin terdiam sesaat. "Dan bayi yang ada di kandungan ku ini juga membutuhkan mu. Dia membutuhkan Daddy yang begitu luar biasa seperti dirimu."
Hingga beberapa saat, Dave tak juga sadar membuat Jasmin semakin beredih dan juga merasa bersalah, karna seharusnya yang berbaring di tempat ini adalah dirinya, bukan Dave.
Jasmin duduk di kursi tepat di sampin Dave, lalu Jasmin membaringkan kepalanya tepat di atas tangan Dave yang sejak tadi ia genggam.
Dan tanpa Jasmin tahu, kalau saat ini Dave telah sadar, Dave tersenyum melihat Jasmin. Dalam hati Dave bersorak gembira, karna Jasmin mau menjaganya dan juga sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Aku mencintaimu" kata Dave dengan pelan, namun masih dapat di dengar oleh Jasmin.
Jasmin langsung bangun, dan melihat ke wajah Dave. Jasmin langsung menitihkan air matanya karna melihat Dave masih menutup mata.
"Bahkan sampai sekarang, aku masih mendengar kau bilang cinta padaku." Ucap Jasmin sambil menghapus sendiri air mata yang membasahi pipinya. "Sadarlah, dan katakan itu secara langsung di hadapanku."
"Aku mencintaimu."
"Dave...
"Aku sungguh mencintaimu Jasmin."
__ADS_1
...TAMMAT...