
"Jasmin kau yakin akan pergi?" Tanya Tyas dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan air matanya agar tak jatuh membasahi pipinya.
"Ya kak, ini sudah keputusan ku." Jawab Jasmin lalu mengemasi satu persatu bajunya.
"Ryan? Kau yakin akan meninggalkan Ryan?"
Jasmin sejenak berhenti memasukkan bajunya ke dalam tas, lalu menghembuskan nafasnya. "Mau tak mau, aku harus iklas. Sekarang Ryan sudah memiliki ayah dan ibu."
"Tapi Jasmin! Kau tahu sendirikan wanita gila itu tak mungkin bisa menjaga Ryan seperti kau menjaganya."
"Ya aku tahu itu kak. Tapi ada Dady nya yang selalu ada menemaninya." Jawab Jasmin lalu kembali mengemasi pakaian nya.
Lalu Tyas memeluk tubuh Jasmin. Menyandarkan kepalanya di pundak Jasmin. "Jika kau butuh sesuatu, kau bisa bilang padaku. Aku akan membantumu."
Jamsin menepuk pelan tangan Tyas, agar Tyas tak menangis. "Aku hanya ingin kak Tyas menjaga Ryan selagi aku tidak ada."
"Aku janji, pasti akan rajin menemui Ryan disekolahnya nanti." Ucapnya lalu melepas pelukannya dan menatap wajah Jasmin. "Apa aku boleh tahu, kemana kau akan pergi?" Tanya Tyas, ia penasaran Jasmin akan kemana, dan dengan siapa.
__ADS_1
Jasmin tersenyum dan menjawab. "Suatu saat aku pasti akan memanggil kak Tyas dan Faa datang berkunjung ke tempatku."
"Apa aku boleh tahu dimana itu?" Tanya Tyas lagi, dan Jasmin hanya menggelengkan kepalanya. Tyas yang sudah mengerti tak lagi melanjutkan pertanyaan nya.
"Jasmin. Aku berdoa semoga kau bisa menemukan kebahagianmu dikota yang akan kau tuju berikutnya. Aku berharap kelak kau menemukan seorang pangerang yang akan menemanimu, menjagamu dan mencintaimu tanpa syarat, dan mau mendampingimu hingga menua."
"Aamiin." Jawab Jasmin sambil terkekeh mendengar ucapan Tyas.
"Kenapa ketawa?" Tanya Tyas.
"Kau lucu kak. Mana ada jaman sekarang pangeran? Emang nya ini negeri dongeng? Atau novel?"
Dan mereka berdua pun tertawa bersama. Baik Tyas dan Jasmin. Hingga saat ini mereka belum juga menemukan pageran yang dapat menerima kekurangan mereka. Yang mau menerima mereka tanpa syarat, tanpa memandang siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
Jasmin yang sudah dulu mengalami kegagalan, kini takut membuka hatinya. Begitupun dengan Tyas, ternyata dulu juga ia sempat mengalami kegagalan kala orang yang paling ia cintai tega meninggalkan dirinya demi wanita lain.
Beberapa saat kemudian. Mobil mewah telah sampai tepat di depan rumah Jasmin. Seseorang dengan gagahnya turun dari mobil dengan kacamata hitam yang bertengker di hidung mancungnya.
__ADS_1
"Jasmin, kau sudah siapa?" Tanya nya sambil melihat tas Jasmin yang sudah berisikan pakaian.
"Ya." Jawabnya singkat.
Tyas yang penasaran, lalu berbisik pada Jasmin. "Siapa dia?" Tanya nya.
"Dia kakak ku."
Tyas melotot, melihat Junior yang ada di hadapan nya. "Jika dia kakak Jasmin, itu artinya? Jasmin orang berada" Batin Tyas. Karna Tyas jelas tahu mobil dan pakaian pria yang kini ada di hadapan nya bukan lah yang murah.
"Aku pamit kak. Makasih atas selama ini." Ucap Jasmin tulus lalu memeluk tubun Tyas.
"Jaga dirimu baik-baik. Ingat jangan lupa mengabariku jika kau sudah sampai. Itupun jika kau masih mengingatku." Tyas kembali bersedih.
"Hey jangan bersedih. Aku baik-baik saja. Ouh iya kak, sampaikan salam ku pada adikmu Faa."
"Jaga dirimu Jasmin." Ucap Tyas sekali lagi.
__ADS_1
"Kau juga kak."
Kini Jasmin masuk kedalam mobil, dan Tyas melambaikan tanganya melihat mobil secara perlahan melesat menjauh.