Wanita Bayaran

Wanita Bayaran
Boncap 2


__ADS_3

Jasmin terdiam menatap Dave yang masuk kedalam kamar mandi. Jasmin tahu pikiran Dave saat ini, karna jujur Jasmin pun masih merasakan trauma saat malam itu. Malam di mana ia membutuhkan uang dan terpaksa menyerahkan dirinya kepada Dave. Setelah lama terdiam Jasmin memutuskan untuk pergi melihat Ryab yang sedang tidur sendiri di kamar yang berada di lantai satu.


Dave keluar dari kamar mandi, matanya mencari kesana kemari tak menemukan Jasmin. Lalu dengan segerah Dave memakai bajunya dan berlari keluar dari kamar. Dave takut jika Jasmin meninggalkan dirinya karna masalah tadi.


"Jasmin." Panggil Dave sambil menutuni anak tangga.


"Ada apa Nak?" Tanya Mom Yoona yang saat ini sedang berada di dapur dan mendengar Dave memanggil nama putrinya.


"Apa Mom melihat istriku?"


Mom Yoona tersenyum, kini ia tahu bahwa bukan hanya suaminya yanh bucin tapi juga menantunya. "Dia sedang berada di kamar Ryan." Ucap Mom Yoona.


Dave menghela nafas merasa lega ternyata Jasmin tidak meninggalkan dirinya. Melainkan pergi menemani Ryan di kamarnya.


"Ada apa? Kau takut jika Jasmin meninggalkanmu?" Tebak Mom.


Dave tersenyum malu, karna Mom mertuanya tahu tentang pikirannya. "Mom aku mau ke kamar Ryan dulu."


"Hhmmm." Jawab Mom sambil tersenyum.


.....


Secara perlahan Dave memutar knop pintu dan berjalan pelan masuk kedalam kamar. Jasmin yang mendengar langsung menoleh dan menaruh telunjukkan di depan bibir memberikan tanda kepada Dave agar diam, dan jangan berisik.


"Dad." Panggil Ryan saat tahu bahwa Dave berada di dalam kamar. "Ayo kesini. Tidur di sampingku." Pintanya dan Dave pun langsung naik ke atas tempat tidur.

__ADS_1


Kini mereka bertiga tidur bersama dengan posisi Ryan yang berada di tengah.


"Ibu, kapan adek bayi lahir?" Tanya Ryan.


"Kenapa? Apa Ryan sudah tidak sabar ingin melihat wajah adik bayi?" Tanya Dave.


"Iya Dad. Aku sudah tidak sabar ingin membawa adik bermaim dan menjaganya dari orang-orang yang jahat."


"Jangoanku." Dave mencium seluruh wajah Ryan.


"Ouh iya Bu' sepertinya kita harus memesan tempat tidur yang lebih besar lagi, agar kita berempat bisa tidur bersama."


"Tentu sayang" jawab Jasmin. "Tidurlah, besok kita akan pulang ke rumah Daddy."


"Aku sayang Ibu, aku sayag Daddy."


"Ibu juga sayang."


"Daddy juga."


Setelah terdengar dengkuran halus dari Ryan, Dave mengangkat sedikit kepalanya melihat apakah Jasmin sudah tertidur atau belum dan ternyata mata Jasmin masih terbuka menatap langit-langit kamar.


"Apa benar sayang, kau ingin pulang kerumah ku. Maksud ku kerumah kita?"


"Apa pernah aku berkata bohong." Balas Jasmin.

__ADS_1


"Ada apa? Apa aku membuat mu marah? Katakan! Biar aku tahu salahku di mana."


"Tidurlah."


"Sayang kau marah?" Tanya Dave sambil menggenggam tangan Jasmin.


"Jangan ribut, Ryan sedang tidur."


"Marah?"


"Tidak."


"Marah?"


"Tidak!"


Ryan yang berada di tengan tersenyum mendengar kedua orang tuanya yang tengah berselisih.


"Marah?"


"Tidak!"


"Ryan marah kalau Dad dan Ibu bertengkar." Kata Ryan dengan mata yang masih terpejam.


Dave dan juga Jasmin saling menatap lalu tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2