
"Jangan harap kau bisa menemui Jasmin." Ucap Junior dengan tegasnya lalu kembali memukul tubuh Dave.
Dave hanya diam dan pasrah menerima pukulan tersebut.
.....
"Jasmin ada apa?" tanya Disthi penasaran kenapa Jasmin tiba-tiba langsung menutup pintu dan wajah Jasmin kenapa seketika berubah.
"Tidak ada apa-apa" jawab Jasmin.
Namun Disthi tak semudah itu percaya percaya pada Jasmin, Disthi melangkah mendekat ke arah balkon dan Jasmin pun menghalangi, membuat Disthi semakin penasaran.
"Ada apa?" tanya Disthi lagi.
"Tidak ada apa-apa." jawab Jasmin.
"Aku tidak percaya." Dengan cepat Disthi berjalan menuju balkon, dan membuka pintu. Mata Disthi langsung tertuju kedepan gerbang, dimana Junior saat ini sedang memukul Dave. "Hajar terus" Ucap Disthi dengan semangat.
__ADS_1
"Hajar? Siapa yang dihajar?" dengan cepat Jasmin berjalan mendekat kearah Disthi. Dan betapa kaget nya Jasmin melihat bahwa saat ini Junior telah memberikan pelajaran bagi Dave.
"Jasmin, aku kebawa dulu, aku juga mau ikut memberikan pelajaran bagi pria itu." Lalu dengan cepat Disthi berjalan mengambil langkah seribu, Disthi sudah tidak sabar ingin memberikan pajaran berharga pada pria yang tengah melukai hati Jasmin.
Saat pintu pagar terbuka, Junior dan Dave serentak menoleh. Dave sangat berharap jika yang muncul adalah Jasmin, namun harapan Dave sirna kala yag berdiri saat ini didekat gerbang adalah Disthi, istri dari Junior.
"Kenapa berhenti sayang. Ayo hajar lagi." Teriak Disthi. "Ehh tunggu, biar aku yang memberikan pelajaran padanya" Lalu Disthi mendekat ke Dave.
Kini Junior melepaskan Dave. Dan mendekat kearah istrinya. "Sayang, ayo kita pulang" Ajak Junior karna tidak ingin melihat sang isrtinya bertingkah diluar kendali.
"Tidak! sebelum aku memberi pelajaran padanya." Disthi menatap Dave dengan tatapan ingin memangsa, sedangkan Junior, dia hanya bisa menghela nafas.
Dave yang hanya bisa menunduk sambil memengang perutnya yang terasa sakit.
"Kenapa hanya diam? Ayo jawab!?" bentak Disthi. Lalu melepas sandalnya.
Plak, plak, plak.. Dipukulnya sendal itu ke bahu Dave dengan membabi buta tanpa henti. "Ayo bicara, jangan hanya diam. Atau kamu sekarang bisu?"
__ADS_1
"Sayang sudah" Junior menarik istrubya agar menjauh dari Dave, namun sia-sia. Karena Disthi menatap Junior dengan tatapan permusuhan.
"Laki-laki sepertumu layak dimasukkan ke tong sampah." Kini Disthi kembali memukuli Dave dengan sendalnya.
"Stop!!" Teriak Jasmin berdiri didepan gerbang. "Disthi, cukup. Jangan menodai tangan mu hanya karna pria ini."
Dave yang hapal betul dengan suara itu langsung mengangkat kepalanya melihat Jasmin. "Jasmin." Ucap Dave, dan untuk pertama kalinya Dave menyebut nama Jasmin dengan normal dihadapan Jasmin.
"Junior, Disthi tolong kalian masuk. Dan kamu!" tunjuk Jasmin pada Dave. "Pulanglah" Lalu Jasmin melangkah kembali kedalam, tapi langkahnya terhenti kala Dave menahan lengannya.
"Jasmin, tolong dengarkan aku." Ucapnya.
Jasmin diam, tanpa menoleh sedikitpun kebelakang.
"Lepaskan Jasmin." Disthi menyentak tangan Dave sekuat tenaga agar bisa terlepas.
"Kumohon, beri aku kesempatan untuk berbicara padamu" Ucap Dave lagi.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu diberi kesempatan." Timpal Disthi lagi.
Lalu Dave yang masih menahan lengan Jasmin, menoleh kearah Disthi. "Kumohon padamu, siapapun kamu. Tolong! kasi aku kesempatan untuk berbicara pada Jasmin." Mata Dave berkaca-kaca menatap Disthi dengan momohon.