Wanita Bayaran

Wanita Bayaran
94


__ADS_3

"Dave! lepaskan tanganku."


"Maafkan aku, dan beri aku satu kesempatan untuk membuktikan padamu."


"Tak ada yang perlu dibuktikan Dave, toh kita memang hanya dua orang yang awalnya tak saling mengenal."


Dave menurunkan tangan Jasmin dari pipinya. Tapi tangan Dave masih menggenggap jemari Jasmin. "Ada Ryan di antara kita, dan ada bayi kita di antara kita. Please! terima aku, maka aku berjanji akan menjadikan mu ratu di rumah ini."


"Aku hargai niatmu. Hanya saja aku sudah terbiasa sendiri dan .. "


"Ibu.." Panggilan Ryan membuat Jasmin tak meneruskan ucapannya.


"Iya sayang" Jawab Jasmin lalu menyentakkan tangan Dave agar terlepas darinya.


"Ada apa?" Tanya Jasmin kala Ryan langsung memeluk ibunya.


"Ibu, ibu, ibu." Ucap Ryan berulang kali.


"Iya sayang, ada apa? Ibu disini."


"Ibu, jangan pergi lagi. Aku takut, aku kesepian jika ibu pergi lagi."


"Sayang." Ucap Jasmin lalu mengecup wajah Ryan.


Dave langsung mendekat dan menunduk. "Ibu tidak akan pergi lagi, ibu akan tetap tinggal disini bersama dengan kita, selamanya."


"Daddy, apa itu benar?" Tanta Ryan menatap wajah Dave meminta penjelasan.

__ADS_1


Jasmin menatap Dave dengan penuh tanda tanya.


"Ayo, Daddy akan mengantarmu ke kamar." Dave menggendong tubuh Ryan, membawanya masuk kedalam kamar.


Sedangkan Jasmin berada diluar kamar, menunggu Dave untuk meminta penjelasan tentang perkataannya tadi.


Dave sudah hafal betul Jasmin. Kelemahan Jasmin ada pada orang yang sangat ia cintai. Jasmin tidak akan mungkin bisa menolak, jika Ryan sudah meminta sesuatu padanya.


Saat Ryan sudah tertidur kembali, secara perlahan Dave turun dari tempat tidur. Dave menghembuskan nafas, mempersiapkan segala kemungkinan tetang ucapannya tadi. Karna Dave tahu, pasti saat ini Jasmin sedang menunggunya untuk meminta penjelasan.


Dave menutup pintu secara perlahan, agar tak mengganggu tidur Ryan. Namun tiba-tiba baju kaos Dave di tarik paksa oleh Jasmin.


"Jelaskan apa maksud dari ucapanmu tadi?"


"Maaf, hanya saja kau tahu sendiri Ryan kan."


"Tapi kau salah! Jangan memberi harapan pada anak kecil."


"Tapi tidak begini caranya!"


"Lalu bagaimana?" Tanya Dave. "Aku harus bagaimana? agar kau mau memaafkan ku, dan mau menerimaku, dan menikah denganku, dan hidup bersamaku dan menua bersama. Bagaimana? katakan?"


'Bukkkkhhhhhh' satu pukulan mendarat di dada bidang Dave. "Bodoh!" Ucap Jasmin lalu berjalan meninggalkan Dave seorang diri.


...🍂🍂🍂🍂...


Keeoskan paginya. Hanya ada keheningan di meja makan, antara Dave dan Jasmin. Dan Ryan yang memerhatikan lalu membuka suara. "Daddy, ibu, hari ini aku mau Daddy dan Ibu yang mengantarku kesekolah."

__ADS_1


"Iya sayang" Jawab keduanya serentak. Membuat Ryan tertawa.


"Habiskan sarapanmu sayang." Timpal Dave.


'Iya Dad."


Lagi-lagi Margaret mengepalkan kedua tangannya kala melihat Dave, Jasmin dan juga Ryan serentak masuk kedalam mobil. Margaret semakin murkah, harusnya yang berada di situ bukan Jasmin tapi harusnya dirinya lah yang pantas berada di sana saat ini.


"Tunggu saja tanggal mainnya." Gumam Margaret. "Sekarang kita ke perusahaan Dave. Aku ingin memberikannya kejutan." titah Margaret pada sang supir.


Setelah menunggu cukup lama, kini Margaret tersenyum puas saat melihat Dave berjalan menuju ruangan kerjanya. Margaret yang sudah berada di dalam, langsung memperbaiki posisinya.


"Sayang." Sapa Margaret mendekat kearah Dave, kala Dave membuka pintu ruangannya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Dave merasa kaget karna bisa-bisanya Margaret berada di dalam ruangannya.


"Sayang." Panggil Margaret dengan suara yang menggoda, namun Dave tak memperdulikannya.


Dave berjalan menuju kursi kebesarannya, dan langsung duduk disana.


Margaret yang tak kehabisan akal langsung mendekat. Dan duduk di atas pangkuan Dave, sambil mengalungkan kedua tanganya di leher Dave. Dave yang masih diam, membuat Margaret tersenyum, dan langsung menggerakkan bokongnya di kedua paha Dave.


"Margaret!" Teriak Dave, dan mendorong tubuh Margarer.


"Sayang." Ucap Margaret.


"Keluar dari ruanganku sekarang juga." Usir Dave.

__ADS_1


Namun diluar perkiraan Dave, Margaret malah membuka kancing kemeja bajunya sehingga memperlihatkan kedua gunung kembar miliknya yang masih ditutup oleh bra.


"Apa kau rindu dengan gunungku." Margaret meremas gunung nya lalu menggigit bibir bawahnya agar Dave terangsang melihatnya


__ADS_2