
Selama seminggu lebih Dave selalu berusaha namun tetap tidak mendapatkan hasil. Dan selama seminggu pula Dave tidak pernah tidur dengan nyenyak, tiap malam ia selalu seja menangisi kesalahan yang telah ia perbuat pada Jasmin. Dan Ryan yang melihat Dave seperti itu juga ikut bersedih. Hanya saja Dave tidak tahu, kalau Ryan diam-diam memperhatikan dirinya.
"Daddy" Lirih Ryan menatap Dave yang kini sedang duduk lantai sambil bersandar di dinding.
"Apa yang harus aku lakukan agar Daddy bisa kembali seperti dulu lagi." Gumam Ryan, menatap kasihan pada Dave.
Sama seperti seminggu yang lalu, setiap pagi Dave selalu saja bangun lebih awal untuk mengurus keperluan Ryan. Semua tentang Ryan Dave lah yang urus, mulai dari makan sampai menjemput dan mengangar Ryan bersekolah.
"Daddy mau kemana setelah ini?" Tanya Ryan saat Dave mengantar Ryan kesekolah.
"Daddy akan bekerja sayang." Jawab Dave, lalu mengusap lembut kepala Ryan. "Belajar yang rajin, jadilah anak kebanggaan ibumu dan Daddy kelak." Ucap Dave dengan senyum di wajahnya.
"Iya Dad" jawab Ryan.
"Kalau begitu Daddy pergi dulu, ingat belajar yang rajin."
Lalu Dave berjalan menuju mobil meninggalkan Ryan di halaman sekolah.
"Aku tahu Dad, kau tidak berkerja. Aku tahu kau ingin menemui ibu. Aku tahu itu Dad."
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃...
"Tuan lagi, tuan lagi." Ucap penjaga rumah Jasmin.
"Pak kumohon." Ucap Dave.
"Sudah berapa kali saya bilang Tuan, kalau Tuan tidak diperbolehkan masuk kedalam rumah."
"Izinkan saya pak, sekali saja." Dave berucap sambil memohon berharap akan dibukan kan pintu gerbang.
"Maaf Tuan saya tidak bisa." Tolaknya. Lalu menutup cela kecil yang terdapat di dekat pintu gerbang.
Lagi-lagi Dave hanya bisa menghela nafas, ia sunggu tidak tahu bagaimana lagi cara nya agar bisa bertemu dengan Jasmin, dan bisa meminta maaf langsung pada Jasmin.
"Bagaimana aku bisa menemuimu jika semua akses menuju ke kamu tertutup rapat. Lalu bagaimana bisa aku meminta maaf padamu." Lirih Dave.
"Rupanya dia bukan tipe pria yang muda menyerah." Gumam Junior saat mendapat kabar dari pengawalnya jika Dave datang kembali. "Kita lihat sampai dimana kau bisa bertahan."
"Siapa?" Tanya Rey kepo.
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa." Jawab Junior.
"Jangan berbohong, aku sudah tahu semunya." Ucap Rey dengan senyum mengembang.
"Kamu memang seperti itu. Tanpa di beri tahupun kamu akan tahu segalanya."
"Tentu!" Ucap Rey sambil menepuk dadanya membanggakan dirinya.
"Dasar kepo."
"Kepo begini tapi sangat berguna untuk semua orang." Rey kembali menyombongkan dirinya. Membuat Junior hanya bisa menggelengkan kepalanya. Karna berbicara dengan Rey maka siap-siap tidak akan ada ujungnya.
"Tapi jujur aku kasihan melihat sih Dave itu." Rey mulai membuka pembicaraan yang serius. "Aku jadi mengingat seseorang?" Lanjutnya dengan raut wajah seolah berpikir keras.
"Kenapa harus kasihan. Dia layak mendapatkan itu."
"Jelas kasihanlah, lihat lah wajahnya sudah tidak seperti wajah lagi, itu karena ulahmu yang sangat luar biasa."
"Itu belum seberapa." Tegas Junior.
__ADS_1
"Coba kau posisikan dirimu di tempatnya. Bagaimana perasaanmu? Dan aku yakin saat ini sih Dave beneran menyesal."
"Yakin mu selalu saja meleset." Jawab Junior yang semakin kesal dengan Rey yang terlalu banyak bicara.