Wanita Bayaran

Wanita Bayaran
87


__ADS_3

Hari ini Dave pulang dengan senyum, membuat Ryan yang melihatnya langsung berlarih menghampiri Dave.


"Daddy" panggilnya, dan Dave langsung menggendong Ryan saat tiba di hadapannya.


"Sudah makan?" Tanya Dave.


"Iya Dad." Jawab Ryan sambil menganggukkan kepalanya. "Daddy, apa ada sesuatu yang terjadi? Kenapa Daddy tersenyum-senyum" timpal Ryan menatap wajah Dave.


"Hari ini Daddy sangat bahagais sayang, karna ..." Dave terdiam sebentar, lalu mengusap lembut pucuk kepala Ryan. "Karna Daddy tidak akan menyerah meminta maaf pada ibumu." Lanjutnya.


Ryan langsung memeluk Dave menenggelamkan kepalanya di pundak Dave. "Aku percaya Daddy pasti bisa. Aku juga percaya ibuku pasti akan memaafkan Daddy. Dan aku berharap.."


"Berharap apa sayang?"


Ryan menggelengkan kepalanya. "Biar aku sebut dalam doa saja. Biar ini jadi rahasiaku dengan Tuhan." Jawab Ryan dengan senyum, membuat Dave gemes dengan anak laki-laki nya yang begitu sayang ia sayangi..


"Baiklah kalau begitu Daddy mandi dulu, nanti Daddy akan membuatkan mu makan malam."

__ADS_1


"Baiklah Dad." Lalu Ryan turun dari gendongan Dave. Ryan menatap punggung belakang Dave yang berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. "Aku berharap, Daddy dan ibu bisa hidup bersama sebagai pasangan dengan bahagia selamanya." Gumam Ryan.


🍃🍃🍃🍃


"Papi, bagaimana kabar nya hari ini. Maaf Pi, aku ngak bisa pulang siang tadi. Karena ada sedikit masalah di perusahaan" Jelas Jasmin saat sudah berada di dekat papi Adam.


"Tidak apa-apa sayang." Jawab Papi Adam.


"Ouh iya apa yang Papi lakukan siang tadi?" Tanya Jasmin sambil berjongkok di depan kursi roda Papi Adam.


"Maaf yah Pi, aku tidak menemani Papi siang tadi, karna memang ada masalah kecil di perusahaan." Ucap Jasmin sambil mencium tangan Papi Adam.


"Tidak masalah sayang. Mulai besok tidak usah nemenin Papi siang hari. Kamu fokus saja di perusahaan."


"Tapi Pi ..."


Papi Adam mengusap lembut rambut Jasmin. "Percaya, Papi baik-baik saja sayang. Papi tidak ingin kau lelah harus bolak balik perusahaan ke rumah setiap harinya di jadwal makan siang karna harus mengurus papi."

__ADS_1


"Tapi Pi, itu sudah menjadi tugasku sebagai seorang anak."


"Papi tahu sayang. Dan tugasmu sekarang harus nurut apa yang Papi katakan. Jadi mulai besok tidak usah capek-capek. Mengerti sayang."


"Baiklah kalau itu maunya Papi." Lalu Jasmin memeluk sayang pada Papi Adam. Dan mencium pipi kiri dan kanan Papi Adam. "Kalau begitu Jasmin bersihkan diri dulu Pi." Pamitnya.


"Iya sayang."


"Semoga ini adalah pilihan yang tepat untuk putriku. Semoga ini adalah awal kebahagiaan untuk dirinya." Batin Papi Adam.


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Dan tak terasa kini sebulan lebih berlalu. Hubungan Dave dengan orang tua Jasmin berjalan dengan lancar, Dave sudah menganggap orang tua Jasmin sebagai orang tuanya sendiri, dan begitupun sebaliknya. Tiap hari Dave menyempatkan diri untuk datang ke rumah Papi Adam menemani Papi Adam dan bahkan Dave juga selalu mengantar Papi Adam untuk kontrol di rumah sakit. Dan tentunya ini tanpa sepengetahuan Jasmin. Dan juga tanpa sepengetahuan Junior.


Hingga hari ini Dave yang kini sendang berada di rumah orang tua Jasmin, tiba-tiba terdiam mematung kala melihat wanita yang ia sakiti hatinya berdiri tepat di hadapannya.


Mereka berdua saling melihat satu sama lain. Bagaikan patung, kedua nya berdiri tanpa ada yang berucap kata. Hingga beberapa saat kemudian.


"Apa yang kau lakukan dirumahku?" Sentak Jasmin.

__ADS_1


__ADS_2