
Seseorang berdiri di depan jendela.Perawat Pria datang menghampiri nya.
"Bagaimana keadaan pasien?"
"Sudah membaik Tuan,bahkan setelah perawatan selama sebulan ini ia terlihat baik-baik saja,meskipun sempat tidak sadar 'kan diri selama sebulan penuh ini.Namun,semangat hidup nya sangat besar!"Pungkas perawat tesebut,yang bertanggung jawab atas pasien.
"Saya ingin melihat nya!"Sebelum Justin berhasil masuk.Jos datang menghampiri Justin di depan pintu ruangan.
"Tuan,ini data keluarga Tuan Satria,saya mendapat kabar jika istri nya baru saja melahirkan.Dan menurut kabar dari informan kita.Perusahaan Adi purna,mengalami krisis dalam sebulan ini,karena tidak ada orang yang bertanggung jawab disana!"Jos memberikan berkas yang ada di tangan nya kepada Justin.
"Jos,kirimkan seseorang untuk membantu perusahaan Purna.Lebih tepat nya,cari orang yang bekerjasama dengan purna,orang yang paling tinggi kekuasan nya di antara klien Purna.Karena,aku yakin orang itu pasti akan bisa membantu memulihkan kondisi perusahaan Purna.Nanti setelah urusan ku selesai aku juga akan membantu perusahaan itu,Aku harus menemui seseorang untuk belajar Agama!"pungkas Justin.
"Baik Tuan,saya mengerti!"Jos pun pergi meninggalkan Justin,di depan pintu ruangan Satria di rawat.
Setelah memakai baju kesehatan,Justin pun masuk dalam ruangan itu,dan melihat kondisi Satria yang tengah berbaring di ranjang pasien.
"Tuan,kenapa pasien ini tidak langsung di kirimkan ke bagian penampungan korban kecelakaan pesawat dari Indonesia?"
"Karena ini rekan bisnis saya,jadi saya sendiri yang akan bertanggung jawab sampai dia subuh!"tukas Justin.
Di sela-sela pembicaraan mereka,Satria terbangun dari tidur nya,lalu melihat Justin yang berdiri di samping ranjang.
"Bagaimana kabar Anda Tuan?"Tanya Justin,kini mendekat.
"Alhamdulillah sudah membaik,dan terimakasih atas pertolongan Anda!"
"Tidak perlu sungkan,kita adalah kolega!"Justin,tersenyum.
"Tuan Justin,bisa kah saya meminjam Ponsel Anda? saya ingin menghubungi istri saya,karena saya takut dia pasti akan khawatir dengan kondisi saya,apalagi ini sudah sebulan lama nya!"ungkap Satria,
"Tentu saja bisa"Justin mengeluarkan ponsel dalam saku jas nya,lalu memberikan itu kepada Satria.
__ADS_1
Setelah menerima ponsel dari Justin.Satria pun segera mengetik nomer.Namun,ia lupa dengan nomer ponsel Azizah.Satria tidak bisa mengingat nya bahkan kepala nya terasa berdenyut saat dia ingin mengingat nomer tersebut.
"Tuan,apa yang terjadi,jangan terlalu di paksakan,Anda belum sembuh total!"perawat tersebut memperingati Satria.
"Benar yang di katakan perawat ini,tolong sedikit lebih releks,agar Anda cepat sembuh!"saran Justin.
Ada satu nomer yang bisa di ingatkan oleh Satria.Yaitu,nomer telepon rumah.
Tut...Tut...
Satria tidak sabar,menunggu panggilan itu di angkat oleh orang rumah.Namun,panggilan itu terus berlalu,tak seroang pun yang datang mengangkat nya.Sehingga membuat Satria pasrah dan menyerah.
"Apa mereka tidak mengangkat nya?"
"Mungkin mereka tidak mendengar suara telepon Tuan!"sahut Satria dengan senyuman pahit,harapan nya sirna,raut wajah nya terlihat sedikit kecewa.
"Tidak masalah,Anda beristirahat saja dulu,Saya akan kembali lagi kesini sekitar satu Minggu lagi,setelah itu,saya akan mengirim anda pulang ke Indonesia!"pungkas Justin,
"No problem!"
Justin pun berpamitan sama Satria untuk pergi,karena Justin memiliki jadwal pertemuan dengan seorang guru hari ini.
* * *
Sunarsih membantu Azizah,mendorong kursi roda Azizah menuju ruangan pemeriksaan.Wanita itu hanya diam saja,tidak banyak berbicara.
Kali ini Atun,Rani dan baby twin semua nya ikut.Karena hari ini juga jadwal Raka melakukan pemeriksaan ulang.
"Assalamualaikum,Azizah!"sapa dokter Sella,
"Waalaikumsalam !"jawab Azizah,dokter Sella tersenyum dengan perubahan Azizah,karena sebelum nya dia tidak pernah menanggapi ucapan orang lain,bahkan dia tidak mau jika di ajak untuk pemeriksaan ke rumah sakit.
__ADS_1
"Alhamdulillah,Tante senang kamu sudah kembali ke jati diri mu!"Sella duduk di depan Azizah,sebelum mereka masuk ke dalam ruangan,terlebih dulu mereka berbincang - bincang dulu di luar ruangan.
"Liat lah Azizah,ke dua bayi itu adalah milik mu,bayi yang kamu rawat selama sembilan bulan di dalam rahim mu.Kamu yang selalu berjuang untuk mereka agar mereka selamat sampai lahiran.Azizah perjuangan mu tidak mudah,untuk kehidupan mereka agar selalu bertahan hingga sembilan bulan.Jadi,tolong jangan sia-sia 'kan mereka.Lihat lah,wajah tampan mereka berdua,mereka adalah anak-anak ganteng yang kamu lahir 'kan,dua jagoan mu akan selalu ada untuk mu kelak nanti!"
Pandangan Azizah tertuju ke arah box baby twin yang tak jauh dari nya,ada Rani dan Atun yang sedang menjaga mereka.
Dokter anak pun tiba,dan menyuruh mereka untuk masuk ke dalam.Kini hanya tinggal Azizah yang sedang menunggu dokter terapi dan dokter psikolog.
"Dok,cukup.Jangan terlalu di bebani,saya takut bukan menjadi baik,malah menjadi buruk!"tukas Sunarsih,yang khawatir dengan kondisi sang anak.
Sunarsih adalah orang desa,bagaimana pun ia tetap akan takut,meskipun yang di lakukan dokter Sella tindakan yang benar.
"Bu,tenang saja,yang saya katakan kepada Azizah adalah nasehat,bukan kata-kata yang membuat nya tertekan,saya yakin naluri seorang ibu itu lebih kuat dari pada orang lain,dia akan selalu merasa dekat dengan anak-anak nya,meskipun dia tidak ingin melihat mereka!"
"Benar dok,saya khawatir.Semenjak sebulan ini,jangan 'kan mengendong mereka.Bahkan,Azizah tidak ingin datang ke kamar mereka untuk melihat mereka"
"Sesekali kita perlu melakukan ini,agar Azizah lebih mengingat anak nya,agar baby twin bisa merasakan hangat nya pelukan seorang ibu!"pungkas Sella,
Tanpa mereka sadari,air mata Azizah menetes,mendengar setiap ucapan dokter Sella.
Dokter psikolog pun datang,bersama dengan dokter Mella.
"Maaf,sedikit terlambat,ada pasien yang harus saya periksa lebih dulu tadi!"ucap dokter wanita yang memakai kaca putih,lalu membungkuk sedikit tubuh nya,untuk melihat Azizah.
"Azizah!"panggil dokter Irma,adalah dokter psikolog.Azizah langsung merespon dan menoleh ke arah dokter tersebut.Irma tersenyum,lalu mengambil alih kursi roda milik Azizah di tangan Sunarsih.
Irma mendorong nya masuk ke dalam ruangan dengan di ikuti oleh Mella dan Sella,meminta Sunarsih untuk menunggu di luar.
Mella dan Sella,membantu membaringkan Azizah di hospital bed,untuk melakukan pemeriksaan lebih dulu.Setelah itu,baru gantian dokter Irma yang melakukan tugas nya.
Masih setia memakai cadar,mereka dapat melihat netra Azizah sudah mulai ada perubahan,dari gerak mata nya yang sedang tersenyum kepada mereka semua yang ada dalam ruangan.
__ADS_1